Rabu, 28 Oktober 2009

Rencana Allah di Balik Kesulitan Umat-Nya







(Keluaran 17:1-7)




Introduksi

TUHAN senantiasa menyertai, memimpin dan melindungi umat-Nya dalam segala situasi (Keluaran 13:21,22). Ia juga membela ketika mereka mendapat tekanan politik (Keluaran 14:1-13), menghadapi ganasnya alam (Keluaran 14:15-31), maupun krisis ekonomi (Keluaran 16).

Setelah umat TUHAN mengalami bagaimana campur tangan Allah yang nyata dalam berbagai aspek kehidupan mereka, maka mereka menapaki kehidupan yang berpusat pada kehendak Allah (...berjalan dari tempat persinggahan ke tempat persinggahan sesuai dengan titah TUHAN… ay.1). Namun demikian mereka mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan vitalnya, yaitu air karena mereka sedang berkemah di padang gurun. Tapi mengapa umat TUHAN yang hidupnya berpusat pada kehendak Allah mengalami kesulitan? Apa maksud TUHAN dibalik kesulitan umat-Nya? Mari kita coba mencari jawabnya.

Rahasia di balik Kesulitan

1. Membongkar dosa yang tidak kelihatan (ay. 2-3).

Dosa yang tidak kelihatan sangat berbahaya bagi kehidupan umat TUHAN, karena sering kali tidak disadari. Tetapi TUHAN tahu dan karena itu TUHAN ingin membongkar dan menunjukkannya, agar umat-Nya terus bertumbuh dalam pengenalan akan Pribadi-Nya. Dosa-dosa itu antara lain:

A.Bergantung kepada manusia.
“Jadi mulailah mereka bertengkar dengan Musa… Berikanlah air kepada kami…”. Hal ini menunjukkan bahwa umat TUHAN lebih mengandalkan Musa daripada TUHAN. Mereka beranggapan bahwa segala masalah yang menimpanya adalah tanggungjawab Musa.

B. Mencobai TUHAN.
Ketika bangsa itu merengek-rengek dan bahkan bertengkar dengan Musa karena kehabisan air. Musa menjawab mereka, “Mengapakah kamu mencobai TUHAN?”. Apa sebabnya Musa berkata demikian? Karena ia tahu bahwa TUHAN pasti hadir dan bertindak menolong umat-Nya, sebagaimana sudah terbukti di masa-masa sebelumnya. TUHAN tidak pernah terlambat menyelesaikan masalah bangsa Israel, namun mereka lupa sehingga mereka mengatakan, “Adakah TUHAN di tengah-tengah kita atau tidak?” (ay.7).

C. Bersungut-sungut.
“...bersungut-sungutlah bangsa itu kepada Musa…”. Kata “bersungut-sungut” dipakai istilah LIYN (bhs. Ibrani) yang artinya berprasangka buruk. Jadi bangsa itu berprasangka buruk kepada Musa ketika menghadapi masalah. Dosa seperti inilah yang ingin dibongkar oleh TUHAN dalam kehidupan umat-Nya.

D. Dosa ingin kembali pada pola hidup lama (Mesir).
Bangsa Israel berkata kepada Musa, “Mengapa pula engkau memimpin kami keluar dari Mesir…?” ketika umat TUHAN menghadapi tantangan dalam mengikuti kehendak-Nya, mereka tidak sadar bahwa TUHAN sedang mendewasakan karakter mereka, tetapi mereka tidak mau bersusah-susah sehingga bersungut-sungut dan ingin kembali ke Mesir (gambaran hidup di bawah perbudakan dosa).

E. Mencurigai.
“Mengapa pula engkau memimpin kami keluar dari Mesir untuk membunuh kami, anak-anak kami dan ternak kami dengan kehausan?” Pernyataan ini menunjukkan bahwa mereka mencurigai Musa dan menuduh Musa akan membunuh sampai dua generasi Israel bahkan sampai ternak-ternaknya.

Kecemasan ibarat kursi goyang. Ia memberikan pada Anda sesuatu untuk dilakukan, tapi tidak membawa Anda ke mana-mana


2. TUHAN melatih kita berdoa (ay.4).
“Lalu berserulah Musa kepada TUHAN…” Ketika Musa sedang berseru kepada TUHAN, orang-orang Israel justru bersiap-siap untuk merajam Musa. Tapi Musa tidak terpengaruh oleh teror itu. Ia menetapkan hatinya untuk berseru (berdoa) kepada TUHAN. Musa tidak panik sebab TUHAN telah melatih Musa untuk berdoa dalam segala situasi dan kondisi. Ketika keadaan di sekeliling kita kacau dan tidak menentu, apa yang kita lakukan?

3. TUHAN melatih kita untuk mendengarkan Firman-Nya (ay.5).
“Berfirmanlah TUHAN kepada Musa…” Ketika TUHAN berfirman kepada Musa untuk menyelesaikan kesulitan, keadaan orang-orang Israel justru tidak terkendali. Namun Musa menetapkan hatinya untuk mendengarkan Firman TUHAN. Bagi Musa Firman TUHAN yang benar adalah Firman Kebenaran. Dalam hal ini kebenaran Allah adalah mutlak dan absolute, “Di atas segalanya di dunia memerlukan Firman TUHAN.” Inilah transparansi iman yang harus nyata dalam hidup orang Kristen.

4. Cara menyelesaikan kesulitan (ay. 5-6).

Setiap maslah pasti ada jalan keluarnya dan ini dimungkinkan jika orang menetapkan hatinya untuk berdoa dan peka terhadap suara TUHAN. Ada lima (5) hal penting yang perlu diingat ketika menghadapi kesulitan:

Jangan lari dari persoalan atau masalah.
“Berjalanlah di depan bangsa itu…”. TUHAN menyuruh Musa untuk berjalan di depan bangsa itu, artinya supaya Musa tidak lari dari persoalan. Hanya orang yang berani menghadapi persoalan yang akan dipakai TUHAN untuk menyelesaikan masalah atau persoalan.

Mempererat persekutuan dan kebersamaan.
“...bawalah beserta engkau beberapa orang dari antara tua-tua Israel…”. TUHAN menyuruh Musa untuk melibatkan tua-tua Israel (orang yang memiliki kualitas rohani, karakter dan organisasi) untuk menyelesaikan masalah. Ini menunjukkan bahwa TUHAN menghendaki penyelesaian adalah tanggungjawab bersama dengan jalan mempererat persekutuan dan kebersamaan.

Mengandalkan kuasa TUHAN.
”...bawalah juga di tanganmu tongkatmu yang kau pakai memukul sungai Nil…”. Tongkat Musa melambangkan kuasa TUHAN yang sudah terbukti sanggup menyelesaikan setiap persoalan umat TUHAN apapun, kapanpun dan dimanapun berada.

Kehadiran TUHAN.
“Maka Aku akan berdiri di sana di depanmu…”. Hal ini menunjukkan bahwa Allah hadir di tengah-tengah kepanikan umat-Nya. TUHAN hadir bukan hanya sekedar menonton, tetapi bersama-sama dengan umat-Nya menyelesaikan kesulitan. Karena itu kehadiran TUHAN sangat menentukan keberhasilan kita dalam mengatasi segala persoalan.

Ketaatan kepada perintah TUHAN.
“...Demikianlah diperbuat Musa di depan mata tua-tua Israel.” Semua perintah TUHAN dilaksanakan dengan segenap hati oleh Musa tanpa reserve, meskipun menghadapi ancaman. Komitmen Musa untuk mentaati Firman TUHAN membuat segala persoalan terselesaikan. Berbagai kesulitan dan masalah yang harus kita hadapi bukanlah kutuk, melainkan sarana untuk menyatakan kasih setia, keadilan dan kebesaran TUHAN.



Singkirkan ambisi-ambisi Anda yang kecil

Dibandingkan dengan keberadaan kita nantinya, kita hanyalah setengah sadar. Kita tidak bergairah, lembaran hidup kita penuh dengan coretan. Kita hanya memanfaatkan sebagian kecil dari sumber daya dan mental dan jasmani kita.

Setiap prestasi gemilang yang benar-benar bermanfaat memiliki sebuah label harga.

Singkirkanlah ambisi-ambisi Anda yang kecil! Percayalah kepada Allah yang besar; ingatlah bahwa ALLAH TERLEBIH BESAR!

Pakaian tidaklah selalu menampilkan keadaan seseorang yang sesungguhnya. Mungkin hanya mewakili sebagian kecil dirinya.


Pemanfaatan Peluang atau Kesempatan.

Masa kanak-kanak: tidak ada tenaga, tidak ada uang, tetapi banyak waktu.
Masa remaja-pemuda: ada banyak tenaga, ada banyak waktu, tetapi tidak ada uang.
Masa dewasa: ada banyak tenaga, ada banyak uang, tetapi tidak ada waktu.
Masa tua: ada banyak waktu, ada banyak uang, tetapi tidak ada tenaga lagi.


Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus,
melainkan juga untuk menderita untuk Dia

(Filipi 1:29)




Perubahan sikap kita merupakan sebuah resiko terbesar dalam mencapai kemaksimalan.

Penyakit-penyakit sikap itu adalah:

Kelalaian: Perampas kemenangan Anda.

Ketidaktegasan: Pencuri kesempatan terbesar Anda.

Kehidupan Petualangan: Kehidupan yang dipenuhi dengan banyak keputusan (baik-buruk).
Keragu-raguan: Salah satu yang terburuk adalah keragu-raguan terhadap diri Anda sendiri.

Kekuatiran: Pembunuh yang sesungguhnya. Kekuatiran dalam tahap akhir dapat mengurangi apa yang Anda harapkan. Hal ini mengakibatkan masalah kesehatan-keuangan Anda.

Sikap hati-hati yang berlebihan. Beberapa orang tidak akan pernah memiliki lebih banyak, sebab mereka terlalu berhati-hati, terlalu takut, sehingga terlalu proteksi diri tanpa melihat penyertaan TUHAN dalam hidupnya. Dengan kata lain meragukan firman TUHAN yang tertulis dalam Alkitab.


Solusi terhadap penyakit-penyakit sikap

Kelalaian: Bergembiralah tentang segala sesuatu dan tempatkanlah diri Anda pada satu arah dan bergeraklah ke arah itu, ‘focus’. Bersemangatlah! Mulailah mencurahkan segala sesuatu yang Anda miliki ke dalam semua yang Anda lakukan!

Ketidaktegasan: Jangan hanya berdiri di sana… Lakukanlah sesuatu! Singkirkanlah hal-hal yang tidak penting dan bertindaklah!

Keraguan: Jangan pikirkan perkara-perkara yang terlalu tinggi! Berpikirlah secara realistis tentang kekuatan, kemampuan, karunia dan talenta Anda. Taruhlah kepercayaan Anda pada kemurahan Allah yang di anugerahkan pada setiap kita. Gunakanlah karuniamu secara maksimal!

Kekuatiran: Firman Allah akan memberikan rasa tentram jika kita mau mempercayai apa yang dikatakan-Nya pada kita (1 Petrus 5:7). Serahkanlah masalahmu pada kaki Yesus! Keuntungan yang nyata adalah bahwa Anda memperoleh kelegaan dan terhindar dari sebuah penyakit.

Sikap terlalu hati-hati inilah sindrom ‘Bagaimana jika’. Apakah Anda pernah ada di sana? 95 % kekuatiran “tidak akan pernah” terjadi. Berani menanggung resiko dan menerima tantangan yang melebihi kemampuan Anda untuk memberikan hasil.



sumber: lembar bahasan isu-isu guys counseling center lampung

PASUTRI sebagai Tim dalam Pelayanan







Dasar Pelayanan PASUTRI

1 Timotius 3:11, isteri-isteri (ay.8-10,12) dan penilik jemaat (ay.1-7) yang melayani bersama suami yang melayani bersama suami (ay.13). Kuasa (kepemimpinan, tanggung jawab) menata ciptaan Allah diserahkan kepada laki dan wanita (“supaya mereka berkuasa,” Kejadian 1:26), karena kedua-duanya “segambar dengan Allah (Kejadian 1:26-28).

Bandingkan dengan Priska (Priskila) dan Akwila yang disapa sebagai teman sekerja Paulus dalam pelayanan (Roma 16:3). Mereka menampung Paulus (Kisah Para Rasul 18:2); menyertai perjalanan Paulus (mungkin membiayai Paulus) (ay.18,19); merevisi ajaran Apolos (Kisah Para Rasul 18:26); (2 Timotius 4:19;18,19,26; Roma 16:3; 1 Korintus 16:19); menyediakan rumah sebagai “gereja”, tempat ibadah atau persekutuan (Roma 16:5; 1 Korintus 16:9).

Perana dan dukungan unik isteri (bdk. Kej 2:18,20), yang tidak dapat diberikan oleh sesame rekan lelaki dalam pelayanan. Secara khusus, dukungan menghadapi lawan jenis yang secara kodrati memiliki perbedaan dengan lelaki (perbedaan sosio-psikologis, perbedaan komunikasi). Sebaliknya, perempuan pun memerlukan perhatian dan “perlindungan” yang tidak dapat atau tidak boleh diberikan oleh lelaki lain, kecuali suaminya sendiri.

Sekalipun suami ditetapkan oleh Allah sebagai kepala dalam keluarga dan dalam ibadah, namun sebaliknya, bahwa suami pun tidak dapat hidup sendiri dan melayani sendirian. Ia memerlukan penolong sepadan. Isteri adalah “contoh unik, spsifik, istimewa” (Kejadian 2:17) dari hal-hal “baik” dalam Kejadian 1 (ay. 4:terang; 10:darat dan laut; 12: tetumbuhan, pepohonan buah; 18: benda-benda penerang di cakrawala, matahari, bulan, bintang; 21: mahkluk laut dan burung di udara; 25: binatang-binatang darat dan ternak; 31: sungguh amat baik. Kesegambaran Allah dalam diri manusia yang ditampilkan dalam Kejadian 1 ditampilkan kembali dalam analogi kesegambaran suami isteri (Adam-Hawa) dalam pasal 2 (bdk. Efesus 5:31-32).

“Ditempatkan” (wayyasem, Kejadian 2:8) dan “ditempatkan” (wayyanihehu, 2:15): “rest” (istirahat) dan “safety” (aman), - Allah “memasukkan” manusia ke dalam taman agar manusia “sentausa” dan “aman” di hadapan Allah, di mana ia dapat bersekutu dengan Allah (Kejadian 3:8). Dengan mengembalikan kata ganti feminism dalam Kejadian 2:15 (-nya) (dan bukan mengubahnya menjadi maskulin singular), maka l’ obdah ul’ somrah yang diterjemahkan sebagai “mengusahakan dan memelihara” dapat diterjemahkan (ulang) menjadi “to worship and obey”. Manusia ditempatkan di taman Eden bukan hanya untuk menjadi tukan kebun, melainkan untuk menjadi imam (Wahyu 22:1-5, puncak pemulihan taman Eden, pemulihan ibadeah secara paripurna).

Jemaat sebagai Keluarga Allah

Jemaat adalah keluarga Allah (1 Timotius 3:15), oleh karena itu, maka pelayanan menurut adanya pelayan yang menampilkan teladan hidup keluarga (ay.1) dan teladan “manajemen” keluarga. Pelayanan itu sendiri merupakan “manajemen” rumah Allah (Titus 1:7).

Salah satu cirri “roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan” (1 Timotius 4:3) ialah “melarang orang kawin” (ay.3); dengan demikian menyangkali syarat pelayanan yang Allah tetapkan (salah satu syarat utama dalam pemilihan atau penentuan majelis “tua-tua” gereja ialah: kehidupan rumah tangga yang benar; 1 Timotius 3:4,5; Titus 1:6-7).

Jika peneladanan dan pengorbanan merupakan dasar otoritas dalam pelayanan, maka pasutri yang saling melayani dan menopang dalam keluarga, akan “berbicara” lebih efektif dalam pelayanan jemaat. Jemaat yang terdiri dari berbagai orang dan berbagai “kebiasaan,” bisa menyaksikan sendiri bagaimana perbedaan-perbedaan (baik sebagai lelaki-perempuan maupun sebagai suami-isteri, atau bapa-ibu) dapat ditangani secara kreatif dan produktif (alih-alih negatif-destruktif). Semakin benar (sesuai kehendak Allah) kesatuan kehidupan rumah tangga pasutri yang bertugas sebagai tua-tua dan diaken, maka semakin ringan ringan energi “terkuras” untuk “mengurusi” jemaat (kepemimpinan aras “level” atas berpengaruh langsung kepada kondisi kepemimpinan level bawah dan atau para “pengikut”).

Bagaimana memperkaya pelayanan Tim Pasutri

Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita dapat melihat bahwa bukan kebahagiaan yang membuat kita berterimakasih, namun rasa terimakasihlah yang membuat kita bahagia

Persekutuan keluarga yang berdasarkan Alkitab dan menggumuli terus-menerus Firman Allah (bd. 1 Timotius 5:18; 2 Timotius 3:16; 4:4). Tim berkembang dan semakin “sempurna” lewat belajar dan belajar. Bahkan, tugas utama majelis adalah peranan sebagai nara sumber (bd. Kisah Para Rasul 6; Efesus 4:11-), bukan sebagai “opas” gereja.

Pasangan hidup (isteri terhadap suami dan sebaliknya, suami terhadap isteri) merupakan “top priority” (prioritas utama) dalam pelayanan. Pelayanan terhadap isteri atau terhadap suami harus diutamakan lebih dari pelayanan kepada anak, jemaat dan orang tua. Maksudnya adalah bahwa laki-laki adalah diberikan mandate sebagai pemimpim (sebagai pengambil setiap keputusan dalam keluarga) dan menempatkan posisi perempuan pada posisi yang sebenarnarnya, -”penolong sepadan.” Keluarga menjadi contoh tertib hidup; ketika suami dipulihkan, maka istri ikut dipulihkan. Jika suami-isteri dipulihkan, maka anak pun ikut dipulihkan. Jika keluarga keluarga dipulihkan, maka kota pun ikut dipulihkan. Dan jika kota sudah dipulihkan, maka bangsa pun akan mengalami pemulihan (transpormasi).


Sewaktu Anda membangun sebuah team,
pertama , Anda harus mencari orang yang cinta untuk menang,
apabila tidak ketemu, maka Anda cari orang yang benci untuk kalah



Sesuatu Yang Serba Lucu

Lucu ya, mudah sekali manusia membuang TUHANnya bagaikan sampah, tapi kemudian bertanya mengapa dunia menjadi begitu menakutkan tak terkendali. Lucu ya, kita mudah sekali percaya dengan bacaan yang ditulis di koran, tapi kita selalu meragukan apa yang tertulis dalam Alkitab. Lucu ya, semua orang ingin masuk sorga, tapi mereka tidak mempercayai, tidak memikirkan, tidak mewartakan ataupun melaksanakan apa yang dikatakan oleh Alkitab. Apakah dunia ini sudah separah itu? Lucu ya, kita dengan mudah mengatakan: “Aku percaya kepada Allah,” tapi kita tetap mengikuti setan, yang notebene setan juga percaya kepada TUHAN (jadi apa bedanya?). Lucu ya, pembicaraan-pembicaraan mengenai hal-hal yang vulgar, kasar, keras, jorok, begitu mudah tersebar, terbuka di cyberspace, tapi diskusi mengenai Yesus sangat dibatasi, bahkan di sekolah maupun di tempat kerja. Lucu ya, kita bisa begitu bersemangat dan berapi-api memuliakan TUHAN pada hari Minggu, tapi pada hari-hari kerja kita menjadi pengikut Kristus yang tersembunyi, karena takut dan tidak yakin akan reaksi teman-teman kita. Lucu ya, kita sibuk memikirkan apa nanti reaksi orang, tapi kita lupa memikirkan apa yang TUHAN pikirkan tentang kita. Lucu ya, mungkin Anda tersenyum atau bahkan tertawa saat baca tulisan ini, tapi sebenarnya Anda sedang mentertawakan diri Anda sendiri (hahahahahaha……..).

Orang yang mau BELAJAR dewasa harus berani mentertawakan diri sendiri dan ditertawakan oleh orang lain?



Sumber: lembar bahasan isu-isu guys counseling center lampung

TIPS MEMBESARKAN ANAK































Bila seorang anak hidup dengan kritik, maka ia akan belajar menyalahkan dirinya.

Bila seorang anak hidup dengan rasa benci, maka ia akan belajar bagaimana berkelahi.

Bila seorang anak hidup dengan ejekan, maka ia akan belajar menjadi seorang pemalu.

Bila seorang anak hidup dengan toleransi, maka ia akan belajar menjadi sabar.

Bila seorang anak hidup dengan semangat, maka ia akan belajar menjadi percaya diri.

Bila seorang anak hidup dengan pujian, maka ia akan belajar tentang bagaimana menghargai.

Bila seorang anak hidup dengan rasa adil, maka ia akan belajar tentang keadilan.

Bila seorang anak hidup dengan rasa aman (security), maka ia akan belajar memiliki iman.

Bila seorang anak hidup dengan persetujuan, maka ia akan belajar hidup menyukai dirinya sendiri (egois).

Bila seorang anak hidup dengan penerimaan dan persahabatan (accepted), maka ia akan belajar mengasihi dalam hidupnya (familiyar).

Bila seorang anak hidup dengan otoriter tanpa kelembutan, maka ia akan belajar menjadi pemberontak.

Bila seorang anak hidup dengan tanpa ketegasan dan terlalu lembut, maka ia akan belajar menjadi anak manja (sifat ketergantungannya tinggi).

Bila seorang anak hidup dengan rendah ketegasan dan rendah kelembutan (permisif), maka ia akan belajar menjadi anak gampangan.

Bila seorang anak hidup dengan tinggi ketegasan dan tinggi kelembutannya (keseimbangan antara disiplin dan kasih), maka ia akan belajar menjadi anak ilahi.
(Dorothy Law Notle)


SUMBER: lembar bahasan isu-isu guys counseling center lampung

GENERASI YANG KUAT BERKARAKTER DAN BERHIKMAT














Introduksi

Alkitab memberikan pedoman bagi orang tua di dalam membina anak-anaknya. Ada banyak nats Alkitab yang secara langsung berbicara bagaimana orang tua harus membina anak-anak mereka di dalam TUHAN (Bacalah: Ulangan 6:4-9; Amsal 19:18; 22:6; Efesus 6:4; Kolose 3:21).

Impian semua orang tua terhadap anak-anak mereka pasti menjadi anak yang pandai dan taat serta menjadi pribadi yang sukses di dalam masa depannya kelak. Namun dimasa perkembangan anak-anak mereka, para orang tua sering lupa cara-cara yang benar untuk membangun pribadi anak yang mereka impikan. Kita cenderung sibuk berkonsentrasi untuk membangun kecerdasan intelektual (IQ) mereka, sibuk dengan bagaimana cara anak kita untuk memperoleh rangking di sekolah dan menjadi kebanggaan orang tua. Anak seringkali menjadi korban cita-cita orang tuanya, sehingga orang tuanya menjadi bangga terhadap anaknya, sedangkan anaknya menjadi merana karena mengalami kekosongan hati.

Mungkin kita perlu mengetahui bahwa kecerdasan intelektual bukanlah ukuran sukses seseorang. Bukankah terlalu sering kita melihat orang yang pandai yang tidak bisa bekerjasama dengan orang lain, orang pandai cenderung mau menang sendiri, tidak jujur, pokoknya orang pandai yang menyusahkan orang lain. Sehingga kita sering pula berpikir: “Sayang sekali orang itu, pandai tapi buruk kelakuannya.”

Cobalah kita renungkan, “Apakah hanya sebatas intelektual saja anak kita berkembang, atau apakah kita pernah berpikir mengenai kecerdasan emosi (EQ)?” Perkembangan karakter anak yang positif dan berkenan di hadapan TUHAN? Pernahkah kita berpikir setelah melihat anak bertumbuh dan menjadi remaja, banyak di antara kita sudah kuwalahan melihat anak kita begitu sulit diatur jauh di luar jangkauan kita. Mereka seakan punya kehidupan sendiri yang tidak dapat kita masuki, kita sulit berkomunikasi dengan mereka. Jika kita beri mereka nasihat atau perintah mereka tidak lagi menghiraukan atau bahkan marah kepada kita dan dianggap cerewet karena tidak mengerti perasaan dan keinginan mereka. Atau mungkin juga kita sebenarnya memang seorang yang cerewet???

Apabila itu kita alami sekarang ini sebagai orang tua, maka akan terasa menyakitkan dan kita sering pakai cara kekerasan pada mereka, baik kekerasan verbal (bahasa) maupun kekerasan fisik (pukulan), karena tidak tahu lagi bagaimana harus mengatasi mereka. Akhirnya hubungan orang tua dengan anak menjadi kacau dan berantakan. Sebelum Anda terlambat, maka didiklah anak Anda sejak usia dini (Balita, Ams 22:6).

Membangun Karakter Anak dalam TUHAN

Kalau kemarin kita berpikir bahwa anak yang pandai akan membuat kita bangga dan bahagia, maka saat ini kita harus mulai bisa merubah pandangan kita bagaimana, yaitu “Membangun Karakter Anak dalam TUHAN”. Karena dengan karakter yang positif dan kuat (takut akan TUHAN), otomatis dia akan sukses di masa depannya. Anak yang takut akan TUHAN akan menyukakan orang tuanya (Ams 29:15-17). “Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan” (Ams 1:7).

Karakter yang bagaimana dan karakter seperti siapa yang kita harapkan terhadap anak-anak kita? Saat ini, setiap hari kita berusaha untuk setia melakukan 4M dan setiap minggu kita menerima kebenaran Firman TUHAN di gereja supaya kita semakin hari kita menjadi serupa dan sempurna seperti Kristus. Apakah kita sedang berpikir untuk membangun karakter anak-anak kita seperti Kristus sedini mungkin? Oleh sebab itu, anak perlu dibimbing kepada Kristus oleh orang tuanya sedini mungkin.

Saat kita membangun karakter anak sebaiknya jangan mengambil posisi kita sebagai figur di atas mereka, figur yang lebih baik dari mereka. Dalam membangun karakter, kita adalah patner yang sejajar dengan mereka, karena kita juga sama seperti anak-anak kita yaitu di dalam proses untuk di bentuk menjadi sama seperti Yesus.

Selama kita hidup, selama itu pula kita berproses (pembentukkan) di dalam TUHAN.
Dalam membangun karakter, perbedaan kita sebagai orang tua dengan anak-anak adalah masalah posisi kita sebagai pihak yang membagi dan anak –anak yang dibagi. Karena kita lebih senior dari mereka yang terlebih dahulu mengenal Firman Tuhan dan aturan-aturan dalam masyarakat. Namun pada akhirnya, jika suatu karakter sudah mulai tumbuh maka kita dapat saling berbagi, karena tidak menutup kemungkinan kita harus belajar dari karakter yang baik dari anak-anak kita.

Jadi, kita sebagai orang tua tetap harus terbuka dalam arti jika memang kita masih kesulitan berlatih suatu karakter dan ternyata anak kita telah lebih dulu memilikinya, jangan gengsi untuk belajar dari anak kita.

Karakter apa yang perlu kita bagi kepada anak-anak kita?

1. Mampu menghadapi dan memecahkan masalah (mandiri, tanggung jawab)

Sebagian orang tua mungkin tidak menyediakan waktu untuk mengajarkan ketrampilan memecahkan masalah dan dengan naif beranggapan bahwa anak-anak sedapat mungkin dibebaskan dari masalah. Padahal setiap detik dalam hidup kita pasti diperhadapkan dengan segala macam masalah. Jika kita tidak melatih mereka, apa yang terjadi dengan mereka kelak? Cara pemecahan masalah yang biasa kita lakukan itulah yang akan diadosi oleh anak-anak kita. Jika kita selalu berteriak dan marah dalam menghadapi kesulitan, maka secara tidak langsung cara itulah yang mereka contoh. Banyak kasus ditemui bahwa anak yang suka mengeluarkan kata-kata kotor (kasar) bila merasa tidak nyaman (menghadapi kesulitan) ternyata setelah diselidiki hal itu adalah kebiasaan orang tuanya.

Ada seorang remaja yang suka sekali berantem dengan temannya atau tawuran, ternyata anak itu mempelajarinya saat ayahnya memukul dia atau ibunya jika melakukan kesalahan. Lalu, cara pemecahan masalah seperti apa yang harusnya kita bagi kepada mereka? Apabila anak-anak biasa menyaksikan kita dengan tenang membahas suatu masalah, menguraikan segala sesuatu dengan jelas dan menimbang semua alternatif pemecahan masalah serta satu hal yang paling penting, yaitu “mengandalkan TUHAN dalam segala perkara” (Amsal 3:5-7; 16:3).

2. Rajin dan Setia

“Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah” (Galatia 6:9). Anak yang rajin adalah kebanggaan orang tuanya. Seringkali kita jumpai seorang ibu yang bercerita tentang betapa rajinnya anaknya belajar dan masuk rangking di kelas. Kerajinan bukanlah bawaan seseorang sejak lahir. Rajin adalah karakter yang harus dibentuk. Seringkali dengan alasan “sayang”, maka orang tua mengatasi banyak hal yang seharusnya menjadi kewajiban atau tugas mereka. Bukanlah sayang jika nantinya akan menjadikan anak kita malas dan tidak mandiri (bertanggung jawab).

Rajin atau malas adalah keputusan yang kita ambil sebagai pendidik (Ef 6:4) untuk mengarahkan anak-anak kita bagaimana harus bersikap pada apapun yang ingin mereka raih (1 Kor 9:24b). Jika karakter rajin itu sudah tumbuh dalam diri anak, kita dapat memperkenalkan pada mereka apa itu “setia”. Seseorang dapat dianggap sebagai orang yang setia jika ia terus menerus melakukan suatu hal tanpa bosan atau putus asa apapun situasinya (Amsal 3 :11b; Ulangan 5:1b).

Tetapi tanpa kita sebagai orang tua melakukan apa itu “setia”, kita tidak akan mampu berbagi pada anak apa itu makna “setia”.


3. Sukacita

Sukacita merupakan keputusan seseorang dalam menghadapi suatu situasi. Dan TUHAN ingin kita memilih untuk “bersukacita” dalam segala situasi (Filipi 4:4; 1 Tes 5:16-18). Karena TUHAN menjamin akan memberikan kepada kita semua pemecahan masalah kalau kita berharap kepada Dia (Filipi 4:13).

Bagikan pada anak-anak kita kenyataan ini dan latih mereka untuk selalu mengambil keputusan “bersukacita” dalam setiap situasi yang mereka hadapi. Namun hal itu tidaklah mudah, semua tergantung dari contoh yang mereka lihat dan mereka dengar. Keluhan, sungut-sungut, dan omelan yang terus-menerus atau nasihat yang membangun untuk mereka dan sikap kita yang selalu bersukacita dalam setiap masalah .

4. Taat

Taat bukanlah hal yang mudah bagi kita, tapi mengapa justru “taat” yang paling kita tuntut pada anak-anak kita? Taat merupakan tanggung jawab kita karena kita mengasihi TUHAN (Yoh 14:15). Anak-anak perlu tahu hal ini, karena tanpa kasih maka “taat” adalah suatu hal yang tidak menyenangkan bagi mereka. Taat hanya dianggap sebagai “penjara” yang membatasi ruang gerak mereka untuk berbuat semau mereka. Dan tanpa kasih pula mereka tidak akan dapat taat dengan tulus kepada semua otoritas di atas mereka (orang tua, atasan, guru, dan TUHAN).

5. Kesabaran

“Wah ... anakku selalu terburu-buru! Apa yang harus aku lakukan, Anakku sangat pemarah dan tidak sabar! Sudah berkali-kali aku dipanggil oleh pihak sekolah karena anakku sering berantem!” Ya, banyak kenyataan seperti itu yang kita hadapi sekarang, mereka bukanlah pribadi yang sabar, melainkan pribadi yang terlalu egois. Tetapi ..., sudahkah kita memiliki kesabaran sebagai orang tua? Apakah kita selalu berpikir positif dalam menghadapi situasi yang membuat kita tidak nyaman, sehingga kita mampu memberi waktu pada diri kita sendiri maupun kepada TUHAN untuk menyelesaikan masalah kita.


Kesabaran tidak datang begitu saja, dia karakter yang perlu dibentuk dan dilatih. Sering kita berdoa “TUHAN berilah saya kesabaran”, tetapi kita tidak kunjung sabar hingga saat ini. Mengapa? Karena kita tidak mau berlatih! Kesabaran bukan pemberian, tetapi hasil dari pembelajaran dan latihan. Dalam setiap tahap, kita ingin berlatih untuk sabar, Roh Kudus akan memberi kita kekuatan dan kemampuan untuk menang.

Apabila kita mau merenungkan bahwa semua yang kita miliki adalah milik TUHAN, semua situasi yang kita hadapi seijin TUHAN, dan kita mau “melatih diri” untuk mengucap syukur dalam segala hal (1 Tes 5:18), Maka inilah yang disebut bahwa kita berjalan menjadi sabar (Kolose 3:13).

6. Belas Kasihan

Kita adalah manusia yang paling beruntung karena TUHAN telah memilih kita, mengasihi kita, dan bahkan memberikan hidup-Nya bagi kita. Anugerah itu tidak akan dapat dibandingkan dengan apapun juga di dunia ini. Kita hidup hanya oleh karena kasih karunia TUHAN dan bukan sedikitpun karena kekuatan kita. Jadi, mengapa kita terlalu sering dan bahkan hampir seluruh hidup kita dihabiskan untuk memperhatikan dan bermurah hati pada diri sendiri? (Filipi 2:4).

Jika apa yang kita miliki merupakan “pemberian” (Roma 3:24), mengapa kita tidak memberi? Jika semua kenyamanan yang kita miliki karena perhatian TUHAN, mengapa kita tidak membagi perhatian pada yang lain (Matius 10:8)? Belas kasihan adalah kepekaan yang perlu dilatih.

Setiap karakter di atas adalah PR bagi kita sebagai orang tua. Sudahkan kita memiliki semua itu? Karena semua karakter di atas “harus” kita bagi untuk anak-anak kita. Kita adalah cermin bagi mereka untuk bertumbuh menjadi seorang pribadi yang utuh di dalam Kristus (Ef 4:13).

“Setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Tidak mungkin pohon yang baik menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang baik” (Mat 7:17-18).

Bagi anak, orang tua adalah figur yang hebat, seorang yang punya kekuasaan luar biasa. Jadi, “teladan” yang ditunjukkan orang tua bagi anak-anaknya akan mutlak tertanam dalam pribadi mereka. Ingat!!! Kita adalah patner bagi anak-anak kita dalam “berproses berkarakter” seperti Kristus. Jadi, mereka bukanlah bawahan atau karyawan kita yang harus memakai kekerasan untuk memaksakan keinginan kita. Bagikan karakter Kristus yang sudah kita latih lebih dahulu pada mereka dengan menjadi “teladan” bagi mereka! Seperti Kristus yang telah menjadi “teladan” yang hebat bagi kita semua (1 Yoh 2:6; Filipi 2:5-8).

PENUTUP

“Karena apa yang ditabur orang itu juga yang akan dituainya” (Galatia 6:7). Hal yang sama berlaku di dalam membesarkan anak. Keluarga menjadi wadah (lingkungan) bagi anak dan “arsitek” dalam pembentukan karakter anak. Anak-anak belajar dari orang tua melalui apa yang mereka lihat, dengar, rasakan dan mereka saksikan (peniruan). Atas dasar pemahaman itu, maka ada beberapa hal yang patut kita lakukan:

Kita mesti berhati-hati dan bijaksana di dalam menunaikan tugas sebagai orang tua. Sadar atau tidak, anak-anak terus mempelajari banyak hal dari kita.

Kita perlu belajar banyak mengenai perkembangan anak dan mengenai kehidupan rumah tangga. Membaca buku tentang perkembangan anak dan peranan orang tua (keluarga Kristen).

Kita perlu berdoa mohon bimbingan TUHAN. Gereja perlu mengadakan acara-acara pembinaan keluarga (SPK, Pria Sejati dan Wanita Bijak) dan mengingatkan para orang tua tentang prinsip-prinsip Alkitab yang berkaitan dengan peranan (tugas) orang tua.*

sumber: bahasan isu-isu guys counseling center lampung

MENJALIN KOMUNIKASI DENGAN ANAK-ANAK




Introduksi

Banyak orang tua yang kurang memahami arti shema Israel dalam Ulangan 6:4-7: “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau sedang berbaring dan apabila engkau bangun”.

Di bawah ini saya akan menunjukkan salah satu contoh dari penerapan shema Israel itu, yaitu bagaimana mengajarkan Firman TUHAN dalam tindakan dengan menjalin komunikasi dengan anak-anak dalam keluarga.

Proyek Keluarga

Dalam menjalin komunikasi dengan anak-anak yang terpenting salah satunya adalah bahwa anak-anak bisa memandang ayah mereka itu sebagai orang yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka. Ada sebuah pengalaman bahwa ada seorang ayah yang kurang keterbukaan dengan anak-anaknya. Suatu sore si ayah tersebut memberitahukan kepada anaknya bahwa setelah mereka siap tidur, ayah tersebut bersedia menjadi “Bapak Penjawab” dan mereka boleh mengajukan pertanyaan apa saja kepada ayahnya. Tidak perlu waktu yang lama untuk waktu bersama dengan anak-anaknya dan anak-anaknya sangat senang dengan waktu yang khusus bersama ayah mereka.

Dampaknya bahwa anak-anak itu lebih cepat siap tidur, karena menantikan waktu khusus bersama ayahnya.

Mereka tahu bahwa mereka tidak usah takut lagi mengajukan pertanyaan yang tidak bisa dijawab. Jika ayah tidak tahu jawabannya, maka ayah memakai hal itu sebagai kesempatan untuk mencari jawaban dalam kamus, ensiklopedi, konkordasi, atau buku referensi lainnya. Hal ini memacu seorang ayah untuk terus belajar dan menambah wawasannya. Kalau masih belum menemukan jawabannya juga, maka ada kesempatan untuk menjadikan proyek untuk hari besoknya bersama dengan isterinya (isterinya menolong mencari jawabannya juga). Ada ke untungan berganda, yaitu membuat komunikasi suami-isteri menjadi lebih bermakna dan dibangun bersama dalam suasana kasih yang indah.

Sang ayah menentukan batasan waktu untuk kegiatan ini, kalau tidak, anak bisa sampai larut malam. Dengan adanya batasan waktu seorang anak dapat lebih belajar menghargai waktu yang ada (berdisiplin). Kadang-kadang seorang ayah perlu membuat surprise dengan sebuah cerita atau dengan fakta-fakta yang menarik, baik dari sejarah maupun mengenai riwayat hidupnya.

Keuntungan Proyek Ini

Anak mulai menikmati waktu bersama dengan ayah mereka setiap malam.
Anak-anak akan lebih menghargai ayahnya (figuran).

Proyek ini melatih anak untuk memakai buku-buku referensi demi mencari jawabannya sendiri (merangsang anak untuk gemar membaca Alkitab).

Proyek ini memberi si ayah itu kesempatan menghubungkan ilmu pengetahuan dengan prinsip-prinsip Alkitabiah. Misalnya konter tentang kesalahan “Teori Evolusi Darwin”.

Proyek ini juga memperluas atau memperdalam pengertian mereka tentang Allah sebagai Bapa yang prihatin dan peduli terhadap anak-anak-Nya dan yang mau memberi jawaban kepada pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan.

Langkah-Langkah dalam Menjalankan Proyek Ini

Pikirkan penyampaian jawaban dengan sejelas mungkin.
Setiap anak harus diberi jumlah waktu yang kira-kira sama untuk mengajukan sebuah pertanyaan.

Setiap pertanyaan harus dianggap penting dan sama pentingnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang lainnya.

Tunjukkanlah kegembiraan apabila ada sebuah pertanyaan tentang TUHAN Allah atau kehidupan Kristen.

Kalau anak-anak mulai membahas pertanyaan atau jawaban di antara mereka, maka biarkanlah selama percakapan itu masih terarah (tugas pembimbingan).

Berikanlah perhatian sepenuhnya kepada mereka pada saat ini sebelum anda terlambat (urgen). Mungkin ibu bisa dapat mengontrol telepon dan gangguan lain pada saat kegiatan itu berjalan.


PEMANFAATAN JAM MAKAN


Menurut penelitian bahwa yang paling banyak terjadi perselisihan dalam keluarga adalah terjadi satu jam sebelum makan, maka hal ini dapat diubah menjadi hubungan yang indah bersama dengan antar anggota keluarga.

Sebelum Jam Makan

1. Sikap dan tingkah laku yang negatif: Keluarga belum siap, karena tidak ada jadwal tetap. Anak perlu dipanggil beberapa kali. Anak kecil sering kali mengganggu ibunya sementara ibunya sedang memasak.

Hal-hal positif yang bisa diharapkan: Sebuah jadwal yang tetap perlu supaya anak-anak tahu kapan harus pulang dan siap makan jam berapa. Anak perlu dilatih datang pertama kali waktu dipanggil. Atau mungkin lebih baik kalau mereka tahu akan dipanggil yang kedua kalinya bahwa setelah dipanggil pertama kalinya mereka masih punya waktu empat-lima menit untuk membereskan permainannya, cuci tangan, dll.

Tetapi harus langsung datang pada panggilan yang kedua. Bapak menolong dengan mengurus anak-anak (kecil) supaya mereka tidak mengganggu. Bapak mengurus pembersihan meja, dapur, dan menyiapkan piring. Mungkin si bapak bisa memakai waktu itu untuk bermain bersama dengan anak-anaknya sambil memberikan teladan hidup.

Tujuan: Supaya anak-anak belajar taat terhadap orang tuanya, dan juga supaya bapak terlibat dalam kegiatan anak-anaknya.

2. Sikap dan tingkah laku yang negatif: Stress, depresi atau ada perselisihan. Penyampaian kabar buruk sebelum jam makan. Pertengkaran di antara anak-anak. Tidak suka makanan yang disediakan. Bapak membawa pulang masalah-masalah dari tempat kerja. Jam makan bentrok dengan kegiatan malam.

Hal-hal positif yang bisa diharapkan: Kabar buruk dan atau keputusan besar disimpan sampai sehabis makan. Anggota keluarga tidak boleh mengucapkan ketidaksukaan terhadap makanan yang tersedia di meja makan. Jam makan dicocokkan dengan kegiatan malam (fleksibel). Bapak yang memimpin atau mengambil alih dalam penyelesaian pertengkaran (konflik) antar anggota keluarga.

Tujuan: Suasana yang terpusat pada kekeluargaan. Kerukunan antara anak dan orang tua.

3. Sikap dan tingkah laku yang negatif: Kurang keterlibatan anggota keluarga dalam mempersiapkan makanan. Bapak dan anak hanya menunggu waktu dipanggil untuk dilayani. Tidak ada tawaran bantuandari pihak bapak dan anak.

Hal-hal positif yang bisa diharapkan: Anak yang lebih besar menolong mempersiapkan makanan dan meja makan. Anak memilih musik untuk mengiringi jam makan. Ibu mempersiapkan makanan yang enak dilihat dan enak dimakan. Ayah mengerjakan yang mungkin terlalu berat dilakukan bagi anggota keluarga yang lain.

Tujuan: Jam makan menjadi sebuah proyek keluarga daripada seluruh keluarga terus dilayani oleh sang ibu. Di sinilah satu dengan yang lain saling melayani bersama (keharmonisan), tidak ada istilah bos dan bawahan, yang ada adalah kawan sekerja bagi dan dalam keluarga.

Pada Waktu Sedang Makan

Doa sebelum makan: Jangan mengijinkan anggota keluarga memakai doa yang dihafalkan. Mengusulkan topik doa untuk anak-anak. Berjabatan tangan satu sama yang lain atau kembangkan bahasa kasih pada waktu berdoa. Kutiplah sebuah ayat Alkitab untuk dibacakan bersama. Tidak usah doa atau pun renungan yang panjang pada waktu makan.

Berdoalah setelah makan dan mengucapkan syukurlah kepada TUHAN atas makanan yang sudah dimakan bersama hari ini.

Tujuan: Waktu berdoa yang berarti dan bukan sebuah kebiasaan saja, sehingga menanamkan iman dan pengharapan anak kepada TUHAN Yesus.

Makanan
Makanan yang enak dilihat dan enak dimakan (perlu variasi dan kreatif dalam menghidangkan makanan agar tidak bosan). Bapak menjadi teladan bagi anak-anaknya dengan mengucapkan terima kasih atas makanan dan susah payahnya.

Orang tua melatih anak untuk memuji orang lain dengan memuji anak karena datang tepat pada waktu dipanggil, karena bersih, sikap yang baik, dll. Setiap kita anggota keluarga tidak boleh mengeritik makanan, baik dengan perkataan maupun dengan sikapnya. Masing-masing bergiliran untuk mengambil makanan, apa yang mungkin terlupakan atau mau mau menambah, supaya sang ibu bisa duduk lebih tenang.

Tujuan: Menunjukkan sikap berterimakasih kepada sang ibu yang baik hati. Menunjukkan sikap terima kasih kepada TUHAN atas segala-galanya yang Ia sediakan (pemeliharaan-Nya). Memberikan penghargaan atas segala tanggung jawab dan perhatian sang Ibu untuk keluarga.

Percakapan

Bapak: Persiapkan pertanyaan-pertanyaan yang mendorong anak membahas kegiatan dan pengalaman mereka hari itu. Mungkin bisa mempersiapkan sebuah topik setiap hari untuk dibahas bersama. Atau, membahas pengalamannya sendiri hari itu yang menarik. Sedapat mungkin hindarilah kritikan dan disiplin yang tidak perlu atau tidak menguntungkan pada waktu makan. Cobalah untuk mengalihkan percakapan dari topik-topik yang bisa menimbulkan pertengkaran di antara anak-anak.

Ibu: Janganlah memakai jam makan sebagai wadah untuk menceritakan segala kesalahan-kesalahan anak kepada sang bapak. Hal ini bisa merusak suasana yang nyaman.

Anak: Setiap anak diberi kesempatan berbicara tanpa diganggu atau dipotong oleh yang lain, sehingga anak akan merasa dihargai dan memiliki kemampuan untuk berpendapat dan belajar bertanggung jawab dengan pendapatnya.
Tujuan: Bapak mengambil peranan sebagai kepala keluarga, guru, dan imam. Menolong meringankan tugas ibu sebagai ibu rumah tangga. Menambah harga diri anak. Mengubah kecenderungan negatif menjadi hal-hal yang positif. Menciptakan “suasana sorga” dalam keluarga.

Gangguan
Televisi dimatikan!!! Menghidupkan musik yang kalem. Selanjutnya harus ada polisi tetap mengenai dan menangani telepon. Jam makan jangan sampai ada gangguan, jika ada telepon lebih baik titip pesan atau menelepon setelah jam makan? Kenakalan di meja makan harus langsung di tanggulangi secara konsekuen. Satu orang di tugaskan (secara bergilir) untuk men gambil barang yang dibutuhkan, angkat telepon, ganti musik, dll. Setiap orang harus dilatih untuk pamit dari bapaknya pada waktu mau meninggalkan meja makan.
Tujuan: Demi kerukunan antar anggota keluarga. Memiliki percakapan dan komunikasi yang yang bermakna dan tanpa gangguan. Penentuan prioritas.

Pembersihan
Setiap orang ikut dalam pemberesan meja dan dapur sesuai dengan usia dan kemampuannya masing-masing. Mungkin mau bernyanyi bersama sambil membereskan semuanya juga boleh. Bukan Ibu yang mencuci piring jikalau anak-anaknya sudah dianggap mampu mencuci piring!!! Pekerjaan rumah (PR sekolah) dikerjakan sebelum jam makan atau sesudahnya.

Tujuan: Menjalin persatuan dan kesatuan antar anggota keluarga. Membangun sikap yang bertanggung jawab dan disiplin.


Dan kamu, bapa-bapa,
janganlah bangkitkan amarah
di dalam hati anak-anakmu,
tetapi didiklah mereka
di dalam ajaran dan nasihat TUHAN

(Efesus 6:4)


NB: MATERI SEMINAR KELUARGA

MEMBANGUN KOMUNIKASI YANG BERMAKNA ANTAR PASUTRI



Introduksi

Kegagalam dalam suatu pernikahan biasanya disebabkan oleh tidak adanya komunikasi di antara pasangan suami-isteri. Jikalau pun ada, komunikasi itu bersifat ala kadarnya saja. Mereka tidak mengerti atau mampu menciptakan dan membangun, serta menumbuh-kembangkan komunikasi yang bermakna.

A. DASAR MEMBANGUN KOMUNIKASI YANG BERMAKNA

1. Pengertian Komunikasi.

Komuniaksi merupakan proses “sharing” diri. Baik itu secara verbal maupun non-verbal yang dilakukan dengan baik, sehingga pasangan dapat menerima dan mengerti apa yang anda “sharingkan” kepada pasangan anda.


SUAMI…… dialog ….. ISTERI


2. Memahami Hakekat Pernikahan Kristen.

2.1. Pernikahan Kristen berdasarkan pada inisiatif dan ran
cangan Allah (Kej 2:18).
2.2. Pernikahan Kristen dirancang Allah untuk menyelesai
kan problema pertama manusia, yaitu kesendirian-
kesepian (Kej 2:18-22).
2.3. Pernikahan Kristen dirancang Allah untuk memberikan
kebahagiaan bersama dan bukan kesedihan (Kej 23).
2.4. Pernikahan Kristen harus dimulai dari meninggalkan
semua hubungan yang lain dan membangun hubungan
yang baru serta permanen antara suami-isteri (Kej 2:24)
2.5. Pernikahan berarti kesatuan dalam pengertian yang seu
tuhnya dan termasuk di dalamnya kesatuan fisik yang
intim (Kej 2:24-25).
- Kesatuan daging, “bersetubuh” (Kej 4:1) menggunakan
kata “to know”: artinya adalah pengenalan fisik yang
intim dan pengenalan diri yang lembut.
- Dalam Perjanjian Baru (PB, Ef 5:22-23) Roh Kudus
mengidentikkan kesatuan suami-isteri dengan hubun
gan Kristus dengan gereja-Nya.
2.6. Pernikahan bersifat: pertama monogami dan bukan
poligami. Kedua adalah heteroseksual, bukan homosek
sual.

B. KIAT MEMBANGUN KOMUNIKASI YANG BERMAKNA

1. Unsur-unsur yang terlibat di dalam berkomunikasi:
1.1. Aspek Rohani: dimensi rohani sebagai dasar dimensi lainnya (bd. Flp 2:1-5).

ROH ……………………………. ROH

- Keduanya telah beriman kepada Yesus.
- Keduanya bertumbuh secara rohani (nampak dalam
kerinduan untuk berdoa, merenungkan dan mempe
lajari firman Allah serta beribadah dalam perseku
tuan).

1.2. Aspek Jiwa:


JIWA …...pikiran…...JIWA
ROH ……...perasaan……...ROH
ROH…...kemauan…..ROH

a. Pikiran. Bagaimana keduanya dapat menyatukan pikiran.
Baik itu dalam pendapat atau pemahaman, persepsi, plan
ning, pendidikan, dsb.
b. Perasaan. Di mana menyangkut dengan penerimaan,
c. Kemauan. Setiap individu memiliki perbedaan gaya
dalam mengungkapkan kemauannya. Carilah pola yang
tepat guna atau dalam mengungkapkan kemauannya.
Berusahalah untuk memahami kemauan pasangan anda.
Hindarilah egoisme dan berusahalah dalam memenuhi ke
butuhan pasangan anda.

1.3. Aspek Fisik:

TUBUH………………………………...TUBUH
JIWA………………………...JIWA
ROH……………….ROH

kebutuhan fisiologis
(sandang, pangan, papan dan seks)

- Pertahankan dan tumbuh-kembangkan hubungan
seks yang positif.
- Hindarilah hal-hal yang mengganggu: berdiam diri,
curiga, marah, sakit hati, salah mengerti, takut,
perasaan bersalah, dll.
- Lakukanlah pemanasan “fore play” sebelum ber
hubungan intim.

C. MEMAHAMI PERBEDAAN PSIKOFISIOLOGIS

Bagian ini membahas masalah perbedaan fisik dan psikis yang saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya:
Suami lebih bersifat pelaku. Seharusnya suami-suami adalah seorang pengambil keputusan, “inisiator”. Sedangkan isteri lebih bersifat menunggu.
Suami cenderung mengambil resiko atau kesempatan dalam memikul tanggung jawab. Sedangkan isteri mendapatkan pemenuhan diri dengan cara “menjadi sesuatu”.
Suami cenderung berpikir dengan menggunakan “logikanya”, sedangkan isteri dengan perasaan, “hati”.
Suami cenderung berurusan dengan dunia luar, pekerjaan, dll. Sedangkan isteri senang dengan urusan rumah tangga.
Suami sering tidak peka terhadap kebutuhan isterinya, sedangkan isteri cenderung lebih sensitif.
Suami sebagai pria adalah pengamat wanita, sedangkan wanita bukan. Wanita adalah penonton.

D. PERBEDAAN PSIKOSEKSUAL

Orientasi. Suami lebih berorientasi terhadap aspek fisik, yakni kesatuan fisik atau seks menjadi prioritas utama. Sedangkan seorang istrei lebih berorientasi pada aspek emosi, keamanan, kenyamanan, holistik. Namun seks merupakan salah satu prioritas dan bukan yang utama.

Stimulus “rangsangan”. Suami terangsang melalui mata, wangi-wangian dan tubuh/fisik. Sedangkan isteri mengalami kenikmatannya berdasarkan sikap, kata-kata, jamahan dan kepribadian.

Kebutuhan. Suami membutuhkan penghargaan, respek dan dikagumi. Sedangkan isteri lebih membutuhkan pengertian, kasih dan rasa aman.
Kenikmatan. Puncak kenikmatan suami ditandai dengan tercapainya orgasme. Sedangkan bagi isteri, tanpa orgasme pun sudah merasa puas.

E. POLA KOMUNIKASI

1. Suami-suami apabila berkomunikasi akan mempertimbangkan terlebih dahulu masalah yang ada dengan sangat hati-hati. Mereka akan mendiamkan dan mengamatinya, apakah masalah itu akan terselesaikan dengan sendirinya atau tidak? Dalam proses ini, kadang-kadang para suami tidak perlu berbicara. Apabila cara ini berhasil, maka ia akan merasa tenang. Namun apabila tidak mungkin tercapai, maka ia akan menjadi seperti seekor “harimau buas” dan diungkapkannya dengan bentuk kemarahan.
2. Suami lebih cenderung berkomunikasi dengan tujuan untuk memecahkan suatu masalah se-rasional mungkin. Sedangkan seorang isteri akan lebih mengutamakan masalah hati.
3. Suami pada umumnya lebih bersifat non-verbal, sedangkan sang isteri mengungkapkannya dengan bahasa verbal.

F. MEMBANGUN KOMUNIKASI YANG BERMAKNA

SEPASANG KUDA YANG SALING TERIKAT

Gb. 1. Keduanya berasal dari latar belakang yang berbeda, tetapi keduanya telah terikat dalam sebuah tali “ikatan” pernikahan.

SEPASANG KUDA YANG SALING TARIK-MENARIK

Gb. 2. Konflik mulai dialami oleh pasangan suami-isteri, karena keduanya tidak menyadari perbedaanmasing-masing.
Gb. 3. Kedua-duanya tidak memahami dan tidak mau memahami pasangannya, sehingga pada akhirnya konflik seumur hidup dalam pernikahan tidak bisa dihindarkan lagi. Pada akhirnya, pernikahan bukan lagi dapat membahagiakan dan menjadi “sorga” dalam keluarga, melainkan sebuah ikatan pernikahan dianggap sebagai “neraka” yang membuat stress dan frustasi.

SEPASANG KUDA YANG BERHADAP-HADAPAN DENGAN TALI YANG SUDAH MENGENDUR

Gb. 4. Keduanya mulai memahami perbedaannya masing-masing. Baik itu mengenai latar belakang budaya, kepribadian, sifat maupun karakter. Kemudian keduanya dapat mengkomunikasikan dengan baik kemauan dan kebutuhannya masing-masing guna mendapatkan solusi atau jalan keluar.

SEPASANG KUDA YANG SALING BERBAGI BERSAMA

Gb. 5. Pasangan suami-isteri sudah memahami kebutuhan pasangannya dan mulai berusaha untuk saling memenuhinya demi kebahagiaan bersama demi mewujudkan kelanggenggan dan keharmonisan hubungan pasangan suami-isteri yang ditundukkan pada kehendak dan takut akan TUHAN. Kehendak dan kemauan masing-masing individu harus ditundukkan dalam pikiran Kristus sebagai TUHAN atas rumah tangga Kristen.


“Pernikahan membutuhkan perasaan kebahagiaan, kegembiraan,romantisme dan misteri. Problem seringkali timbul jika kita mengharap setiap waktu bisa hidup dalam suasana seperti itu. Kita memulai perkawinan kita dengan keyakinan bahwa pasangan kita itu merupakan orang yang tepat. Perasaan cinta dan romantisme pun masih terasa saat itu. Romantisme yang sehat adalah apabila terdapat keseimbangan antara perasaan dan pikiran. Tetapi sayangnya, beberapa orang yang berpegang pada satu hal saja dan melupakan yang lainnya” (Norman Wright)


Bagaimanakah dengan pernikahan saudara??? Pastikan anda dan pasangan anda berada
pada komunikasi dan relasi yang ditundukkan pada kehendak Kristus atas rumah tangga saudara!!!



Sumber:
- Pusat Pelayanan Konseling Bandung
- Norman Wright, Melestarikan Kemesraan dalam Pernikahan. (Yogyakarta: Andi Ofset, 1994)

NB: catatan kuliah Konseling Keluarga (Institus Alkitab Tiranus Bandung)& materi untuk seminar keluarga.

Sabtu, 24 Oktober 2009

SEORANG MURID SEJATI















APA UNTUNGNYA MENJADI SEORANG MURID???????????



Potret seorang murid sejati


TUHAN Yesus berkata, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal diriNya, memikul salibNya setiap hari dan mengikut Aku.” (Lukas 9:23)



Prawacana
Murid adalah kata yang paling sering diucapkan oleh TUHAN Yesus kepada mereka yang hidupnya sangat erat dengan-Nya. Kata “murid” dalam bahasa Yunani adalah “mathetes,” yang dipergunakan sebanyak 269 kali dalam PB. Kata murid berarti orang yang ‘diajar’ atau ‘dilatih.’

Alkitab belum berubah. Persyaratan untuk menjadi seorang murid tetap sama. Para murid (kesebelas plus) telah memberi teladan dan arti seorang murid. Billy Graham berkata, “Keselamatan diberikan dengan cuma-cuma, tetapi menjadi seorang murid, meminta agar orang itu mengorbankan segala sesuatu yang dimilikinya.” Ada tiga prinsip dasar yang dibahas:

PEMURIDAN ADALAH MENUJU SERUPA DENGAN SANG GURU AGUNG:
a. ketaatan.
b. tidak ada jalan pintas.
c. tidak ada ‘jalan’ balik.


PEMURIDAN ADALAH MENUJU SERUPA DENGAN SANG GURU AGUNG

Di perjalanan menuju ke Damsyik, pertobatannya, mengantar Paulus menuju tujuan ilahi. Sejak perjumpaan itu, Paulus tidak sama lagi, pribadi dan seluruh tujuan hidupnya berubah (KPR 9). Seharusnya tanpa kecuali, setiap orang percaya, termasuk Anda dan saya, sejak berjumpa dengan Yesus Kristus, TUHAN, dalam perjalanan rohani, apakah melalui tantangan, kesukaran hidup, aniaya, bahkan penjara, semua itu merupakan kesempatan menuju proses menjadi serupa dengan DIA, Sang Guru Agung (Rm 8:28-29).

Tiga prinsip dasar sebagai seorang murid

Pertama, Ketaatan.
Allah mempunyai rencana dalam hidup Anda. Namun, hal itu tidak terjadi dalam waktu semalam. Sebagaimana Paulus, dampak dari perjumpaan di Damsyik, dan bersama wujud nyata kuasa tanpa batas pengendali hidupnya, bertahun-tahun kemudian, sekalipun sebagai seorang tawanan, tanpa rasa takut, ia berdiri di hadapan raja Agripa, dan berkata dengan mantap, “Sebab itu, ya raja Agripa, kepada penglihatan yang dari surga itu tidak pernah aku tidak taat” (KPR 26:19). Baginya, ketaatan adalah langkah pertama, sedangkan langkah berikutnya menuju tujuan ilahi, menjadi ‘serupa’ dengan Sang Guru Agung, adalah penyerahan diri. “Harga pemuridan” adalah mutlak. Artinya, menjadi seorang murid harus rela membayar harga untuk melakukan apa saja yang diperlukan untuk mentaati dan mematuhi Amanat Agung Allah.

Kedua, Tidak ada jalan pintas.
Siapapun dia, tidak ada yang bersedia dijual sebagai budak. Selama tigabelas tahun, Yusuf, tiga kali dipermainkan oleh sang waktu. Yusuf dipisahkan dari pengaruh ayahnya, Yakub, dan menghadapi permusuhan yang sangat dalam dari saudara-saudaranya (tidak ada satupun yang merasa iba kepadanya). Sumur kering, dijual kepada pedagang asing, rantai besi berkarat mengikat kaki dan tangannya, para pedagang asing itu membawanya ke Mesir, ke kota metropolitan, dan sampai ke tangan Potifar, kemudian dipenjarakan secara tidak adil, difitnah isteri Potifar, tetapi semua itu, dijadikan sarana oleh Allah, menuju rencana-Nya yang indah bagi Yusuf. Inilah pernyataan yang tepat untuk Anda dan saya, “Seorang hamba Allah yang setia, tidak digentarkan sekalipun berjalan dalam kegelapan (baca: kepahitan ataupun luka yang menuntut jiwanya), maupun diterpa badai, semua itu, adalah peluang ’kesempatan’ baginya, menuju tujuan Allah.” (Charles Stanley).

Selama tigabelas tahun, Yusuf melewati pasang surutnya kehidupan ‘padang gurun’, seakan-akan tanpa harapan, sebelum Allah mengangkatnya menjadi penguasa kedua di istana Firaun. Dua tahun kemudian (baca: tahun ke limabelas), ia menyaksikan kesetiaan Allah kepada saudara-saudaranya, “Allah telah menyuruh aku mendahului kamu…, bukan kamu yang menyuruh aku, tetapi Allah, Dialah yang menempatkan aku sebagai bapa bagi Firaun dan tuan atas seluruh istananya dan sebagai penguasa atas seluruh tanah Mesir” (Kejadian 45:7-8). Luar biasa! Sekarang perhatikanlah apa yang diucapkan Yusuf sesudah Yakub mati, ketika itu, saudara-saudaranya masih meragukan mengenai ketulusannya, “Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar” (Kejadian 50:20).

Ketiga, Tidak ada jalan balik “no turning back.”
Goliath adalah raksasa yang sangat ditakuti pada masa itu oleh Israel, tetapi berbeda dengan Daud. Pengalamannya bersama TUHAN Allah ketika menggembalakan kawanan ternak milik keluarganya, dijadikan referensi untuk meyakinkan raja Saul (1 Samuel 17:37), agar beliau mengijinkannya untuk menghadapi raksasa Filistin itu. Tidak ada kata mundur atau jalan balik. Umban dan sebuah batu, tetap menjadi senjata andalannya. Inilah peluru kendali pertama, dan berbeda ketika peluru itu (baca: batu), dikendalikan Allah, tepat menuju sasaran dan mematikan raksasa Filistin yang ditakuti itu.

Ketiga prinsip pemuridan; ketaatan, tidak ada jalan pintas dan tidak ada jalan balik, merupakan cara yang dipakai Allah dalam membentuk seseorang menuju serupa dengan gambar-Nya. Untuk memperjelas ketiga hal di atas, maka akan diuraikan prinsip segi tiga menuju “Potret Seorang Murid Sejati”, yaitu
(a) Harga yang harus dibayar.
(b) Kesucian hidup sebagai pola hidup.
(c) Menampilkan hidup yang mempesona.


Harga yang harus dibayar
“Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku” (Lukas 14:33). Proses menjadi seperti Kristus di mulai dari keselamatan. Itu berlanjut sepanjang hidup Anda di bumi. Karena itu, ijinkanlah ‘salib-Nya mematikan struktur lama Anda, maka Dia akan membongkar seluruhnya ‘struktur si aku’ dan membangun struktur baru, yaitu di dalam ‘struktur Kristus’ (Kolose 3:1-3). “Selama seorang murid mengenakan bekas luka, mereka maju terus (baca: bertumbuh menjadi kuat), tetapi bila mereka memakai medali (baca: mahkota dan atribut dunia dan sederetan gelar dan penghargaan), tujuan mereka mengendur. Seorang murid sejati, imannya mengagumkan orang-orang diseputar hidupnya, ketika ia dijadikan makanan singa” (Vance Havner).

John Bunyam adalah contoh dari seorang murid sejati. Ketika berada di penjara karena mengabarkan Injil, ia diberi tahu, “Berjanjilah untuk tidak mengabarkan Injil lagi dan engkau dapat ke luar dari penjara hari ini juga, sehingga isteri dan anakmu Mary yang buta, tidak terlantar!” Dengan berani ia menjawab, “Jika bapak membebaskan aku hari ini, aku akan mengabarkan Injil lagi mulai besok.” Musuh-musuhnya tidak dapat menggoyahkan imannya. Keputusannya tidak berubah, sebab ia tahu, Allah yang setia, Dialah yang akan memelihara isteri dan anaknya. Bersediakah Anda dan saya membayar harga, sebagaimana John Bunyam?

Kesucian hidup sebagai pola hidup

Sama seperti manusia lainnya, Yakub adalah manipulator ulung, dia berdusta, menipu dan mencuri. Tetapi paska perjumpaan dengan TUHANnya di sungai Yabok, ia menjadi orang yang diubahkan. Namanya, kepribadiannya, segala sesuatu tentang dirinya, berubah. Di sungai Yabok, ia diberitahu bahwa, “Namamu tidak disebut lagi Yakub, tetapi Israel, sebab engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia dan engkau menang.” (Kejadian 32:28).

Setiap orang percaya kepada Yesus, baginya, salib adalah lambang abadi dari kepedulian dan kasih-Nya yang bersifat pribadi, yang telah mengubah kepribadian Anda dan saya. Karya salib tidak berakhir di Golgota, melainkan berlanjut ke dalam setiap aspek kehidupan, yang memanggil setiap orang percaya untuk menanggalkan kehidupan lama dan mengenakan manusia baru, sesuai dengan kehendak Allah (Efesus 4:20-24). “Allah tidak pernah mengecewakan kita, Dia mengasihi kita dan hanya mempunyai satu maksud untuk kita. Kesucian adalah prioritas bagiNya.

Menjadi seperti Kristus berarti Anda dan saya berjalan dalam kesucianNya” (Elizabeth Elliot). Rasul Petrus menegaskan, “Tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: “Kuduslah kamu, sebab Aku kudus” (1 Petrus 1:15-16).

Apa yang Kristus kehendaki bagi murid-murid-Nya? Azas yang sama berlaku dalam kehidupan Kristen hari ini. Ia menghendaki Anda dan saya melakukan perintah-Nya (Yoh 14:15). Mengikut Yesus bukanlah seperti mengemudi di jalan raya yang penuh pemandangan alam dengan pengalaman yang indah silih berganti. Gereja masa kini telah meracuni kaum Kristen, melalui berbagai pesona. Salah satunya, bahwa cukup dengan sebotol minyak urapan, maka seluruh jalan di depannya menjadi rata tanpa rintangan. Yesus tidak pernah mengatakannya. Jalan sempit dari pemuridan seringkali menurun sebelum menanjak, kepahitan dan penuh dengan parutan, sebelum mengecap keindahan. “Tiada mawar tanpa berduri” (tidak ada kebahagiaan dan sukacita tanpa penderitaan).

Menampilkan hidup yang mempesona
Pertumbuhan rohani tak pernah berhenti. Tujuan Allah bahwa Anda dan saya ‘serupa dengan gambar Anak-Nya’ adalah suatu keharusan dan bukanlah suatu pilihan (Roma 8:28). Setiap hari, pencobaan dan peperangan rohani berjalan terus. Musuh ‘si iblis’ tidak pernah berhenti, putus asa dan terus mencari kesempatan untuk menampi Anda dan saya (1 Petrus 5:8).

Setiap orang percaya masa kini bukannya menjalani kehidupan yang benar-benar terpisah berdasarkan otoritas Kerajaan Allah yang memerintah, banyak di antara kita menjalankan kehidupan yang tidak berbeda dengan orang-orang yang tidak percaya (John Bevere). Coba bandingkan dengan hidup para murid pertama, yang hidupnya mempesona masyarakat di sekeliling mereka (KPR 5:13).
Sekapur Sirih

Menjadi murid adalah sebuah sikap. Tindak-lanjut dari suatu sikap adalah kesediaan untuk dibentuk. Dan harga untuk suatu pembentukan adalah ketaatan, sebagai buah pertobatan sejati. Allah memuji para bapa-bapa rohani (Ibrani 11) dan mengukir nama-nama mereka dalam monument ilahi sebagai buah dari suatu ketaatan.

Pada umumnya, kedua langkah awal, yaitu sikap dan kesediaan untuk dibentuk dapat dilalui oleh seorang murid, tetapi memasuki fase ketiga, banyak orang yang mundur atau gugur dikarenakan suatu harga yang harus dibayar, yaitu ketaatan (bandingkan. Yohanes 6). Contoh klasik bahwa seorang muda kaya yang datang kepada Yesus. Pemuda itu dengan bangga menjelaskan bahwa semua hukum Musa ‘semuanya’ sudah dilakukannya. Tetapi ketika TUHAN Yesus berkata kepadanya, “hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kamu miliki ‘semuanya-tidak ada yang tersisa’ dan berikanlah kepada orang-orang miskin, kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku” (Markus 10:21). Alkitab menjelaskan, “ketika mendengar perkataan itu, ia menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya” (Markus 10:22). Bagi pemuda kaya ini, ia bersedia patuh, menjalankan semua hukum, asalkan yang satu, yang ia miliki, yaitu ‘hartanya’ tetap menjadi miliknya.

Tahukah Anda, kebanyakan para murid mundur ataupun gugur disebabkan tidak memiliki daya tahan dalam “ketaatan-kesetiaan.” Mengikuti TUHAN Yesus berarti Anda dan saya haruslah memenuhi syarat yang ditetapkan TUHAN.

Dengan demikian, menyenangkan TUHAN, seharusnya merupakan prioritas yang kuat dari seorang murid sejati. Yang pasti, sampai TUHAN Yesus datang kedua kali, semua sarana, dipakai TUHAN, sebagaimana Musa dan Laut Merah, Daud dan Goliat, Yusuf dan sumur kering, Daniel dan gua singa, rasul Paulus pindah dari satu penjara ke penjara yang lainnya, agar dunia tahu bahwa Anda dan saya adalah murid-Nya.


SUMBER: lebar bahasan isu-isu guys counseling center lampung; catatan kuliah IAT.