Sabtu, 24 Oktober 2009

ORANG HEBAT














KEJADIAN 6:22
Lalu Nuh melakukan semuanya itu; tepat seperti yang diperintahkan Allah kepadanya, demikianlah dilakukannya.


NUH adalah ORANG HEBAT. NUH berhasil untuk mewujudkan adanya sebuah MAHA BAHTERA diatas kemustahilan akal atau rasio manusia. Apa dan bagaimana NUH bisa jadi ORANG HEBAT?????.........

NEXT TIME.

Jumat, 23 Oktober 2009

kri-TIKUS
















Hari-hari ini sudah menjadi habbit bagi manusia akhir jaman, yakni mengalami yang namanya "virus" ketidakpuasan, sehingga yang muncul dalam hatinya adalah bersungut-sunggut dan keluar dari mulutnya suatu ungkapan ketidakpuasan.

Ungkapan kritik pada setiap keadaan. muncullah para kriTIKUS ULUNG dalam segala bidang. Namun kalau mau jujur pada diri sendiri sebenarnya ia adalah seorang yang tidak memiliki kemampuan bertindak. Hebatnya dia hanya sebatas perkataan doank, alias 'om-do'= OMONG DOANG kali....

Ingatlah bahwa karakter seekor TIKUS itu :

"TIKUS itu akan lari dari dalam gedung ketika tahu bahwa gedung itu akan roboh!"

TIKUS suka melarikan diri dari kandangnya. TIKUS suka mencuri makan. TIKUS suka bersembunyi di tempat-tempat yang dianggap aman. TIKUS ITU HARUS DIBASMI!!!!

TAPI....
Yang menjadi persoalan siapa yang TIKUS dan siapa PEMBASMI itu? .................................................................................................. JAWABlah DENGAN JUJUR!!!!


Sulit dimengerti dan dipahami.........................
APALAGI DIJAWAB DENGAN JUJUR!!!


Mzm 37:37
Perhatikanlah orang yang tulus dan lihatlah kepada orang yang jujur, sebab pada orang yang suka damai akan ada masa depan.


ADA BERKAT DIBALIK KEJUJURAN!!!


JANGAN HANYA SEBAGAI TUKANG KRITIK karena masih ada pekerjaan yang lebih baik dari tukang kritik: "Tukang Bertindak" dengan respon yang benar!

KATAKAN DENGAN SEKUNTUM MAWAR











Pendahuluan


Banyak cara yang dapat dipakai oleh seseorang untuk menyampaikan maksud hatinya “pesan” kepada orang lain. Pesan itu dapat diterima oleh orang lain jika seseorang yang hendak mengirim pesan dapat mengkomunikasikan pesan itu dengan baik. Komunikasi adalah proses berbagi diri, dengan atau tanpa kata-kata (verbal atau non-verbal), agar pihak lain dapat memahami dan menerima maksud si pengirim pesan.

Komunikasi dapat dikatakan berhasil bila orang lain dapat menerima pesan yang kita sampaikan, dengan atau tanpa kata-kata. Komunikasi dapat efektif, positif, dan membangun, tetapi juga menjadi tidak efektif, negatif serta Sesuatu yang positif dari seseorang bisa ditanggapi negatif oleh pihak lain jika komunikasi tidak efektif.



Komunikasi Non-verbal

Kita menyanyi, menangis, berbicara, menggerutu, mengeluarkan kata-kata yang menyatakan rasa bahagia, sukacita, putus asa atau marah. Inilah komunikasi verbal. Kita menyentuh, menggerakkan kepala atau anggota badan, menarik diri,mengerutkan dahi, membanting pintu atau melihat ke arah lain, memberikan sesuatu benda pada orang lain. Dan inilah bentuk-bentuk komunikasi non-verbal.

Gary Chapman mengatakan bahwa dalam menyatakan kasih, “sentuhan fisik merupakan wahana yang luar biasa untuk menyampaikan cinta, baik antara suami dan istri, termasuk hubungan dalam keluarga. Sentuhan fisik bisa membuat atau menghancurkan hubungan. Sentuhan fisik bisa menyampaikan benci atau cinta.”

Kadang-kadang bahasa non-verbal dampaknya sangat luar biasa daripada bahasa verbal. Ekspresi dan bahasa tubuh merupakan pesan yang tidak bisa ditutup-tutupi,artinya memberi makna atas sebuah kejujuran hati. Gary Chapman dalam bukunya yang berjudul “Lima Bahasa Kasih”, salah satu poin yang dibahas adalah dengan memberikan hadiah-hadiah. Pemberian itu merupakan simbol pikiran kita dan hadiah merupakan ungkapan kasih. Inilah bahasa kasih yang diungkapkan melalui pemberian.

Pepatah Jepang mengatakan bahwa “sebuah senyuman itu memiliki nilai ratusan dan bahkan ribuan Yen.” Mengapa bisa demikian? Kalau seseorang menawarkan dagangannya dengan sebuah senyuman, maka konsumen akan merasa puas dengan pelayanannya dan pada akhirnya membeli barang dagangannya. Terkadang pula orang lain bisa mengerti apa maksud kita cukup hanya dengan memberikan sebuah senyuman manis kepadanya. Kisah klasik pun mengatakan bahwa “seorang pria bisa jatuh dalam pelukan seorang wanita gara-gara sebuah senyuman.” Aneh tapi nyata dalam kehidupan ini. Maka muncul slogan: “Katakan dengan sebuah senyuman”.

Maka dalam tulisan ini akan memaparkan salah satu contoh bahasa non-verbal yang sudah sangat populer, yang diharapkan bisa dipakai dalam pelayanan dan kesaksian Kristen, yakni bunga mawar sebagai mediator komunikasi. “Say it with a rose” (Katakan dengan sekuntum mawar).


Dasar teologis dan Maknanya

Bagiku kekasihku setangkai bunga pacar di kebun-kebun anggur En-Gedi. Bunga mawar dari Saron aku, bunga bakung di lembah-lembah. (Kidung Agung 1:14; 2:1).

Raja Salomo sebagai penulis Kitab Kidung Agung mengambarkan isi hatinya dalam bentuk kata-kata pujian yang syarat dengan kiasan-kiasan. Salomo menuliskan kata-kata mutiara cinta kasih yang luar biasa indah dan masih relevan sampai masa kini sebagai penggambaran untuk menyatakan cinta kasih sepasang insan dan khususnya bagi pasangan suami isteri.

Salomo mengibaratkan kekasihnya itu bagaikan setangkai bunga pacar yang tumbuh di kebun-kebun anggur En-Gedi dimana bunga pacar tersebut kelihatan sesuatu yang indah dan mempesona. Demikian juga bunga mawar yang tumbuh di tanah Saron.

Saron merupakan merupakan daerah subur yang banyak lembahnya, dimana lembahnya terhampar rerumputan hijau yang luas, sehingga daerah itu dimanfaatkan untuk menggembalakan binatang ternak seperti lembu sapi, unta, keledai dan kambing domba milik raja Daud (1 Tawarikh 27:29-31).

Kesuburan tanah Saron membuat pertumbuhan sebatang pohon mawar yang mengeluarkan bunga yang indah pada musimnya. Bunga “pacar dan mawar” dipakai Salomo sebagai lambang cinta-kasih.

Penulis dalam hal ini terkesan dengan syair-syair dalam lagu-lagu cinta. Contoh syair dalam dua buah lagu cinta yang sangat populer, yaitu

Di tamanku tumbuh bunga mawar
Kusirami dan harum baunya
Bunga mawar elok nan rupawan
Menghiasi putri khayangan

Oh bunga mawar lekaslah mengembang
Kuingin memetik dikau,
Berapa lama kuharus menunggu
Tak sabar rasa hati

Bunga mawar yang kau berikan
Tlah tertanam dihatiku
Kini telah berguguran
Helai demi helai

Kuberjalan di dalam kesepian
Kuberjalan di dalam kepedihan
Kutak mau seorang pun tahu
Biarlah kuderita sendiri


Demikianlah bait-bait dari dua buah lagu cinta yang menggambarkan orang yang dicintai dan disayangi itu diibaratkan sebagai bunga mawar yang sedang mengembang. Bunga mawar yang sedang mengembang itu mengundang hasrat bagi orang yang melihatnya untuk “memetiknya” memilikinya segera. Demikian besar daya tarik bunga mawar yang indah itu bagi seseorang yang begitu besar perhatiannya pada seseorang.

Nabi Yesaya menggambarkan orang yang berada dihadirat Allah itu ibarat bunga mawar yang begitu mempesona nan indah serta begitu mengagumkan, “seperti bunga mawar ia akan berbunga lebat, akan bersorak-sorak, ya bersorak-sorak dan bersorak-sorai” (Yesaya 35:2). Rasa kagum yang luar biasa itu membangkitkan suasana yang sulit untuk dilukiskan dengan kata-kata. Mungkin kalau boleh saya tulis bunyinya adalah ctghz… ctghz…ctghz (decak kagum).

Pepatah Jerman mengatakan apa itu cinta kasih? “De liefde kun je niet beschrijven. Je kan het alleen bedrijven”. Cinta itu tidak dapat diterangkan, cinta hanya dapat dilakukan.

Bunga mawar sebagai media dalam pelayanan dan jembatan untuk masuknya Injil. Orang Kristen dapat dikenal orang melalui sikap dan perbuatan yang mempesonakan orang lain dimana hidup dan kehidupannya dapat menjadi berkat dan dinikmati oleh orang lain.

Jika bunga mawar dapat digambarkan sebagai bentuk dan ungkapan kasih yang paling dalam, maka dalam hal ini “Say it with a rose” dapat dipakai sebagai jembatan dalam menyampaikan betapa dalamnya kasih Allah pada manusia melalui Yesus Kristus yang sudah mati tersalibkan demi manusia yang berdosa untuk melakukan pendamaian dengan diri-Nya.

Allah itu kasih adanya, Allah yang mengasihi manusia tanpa syarat. Allah yang kasih itu memanggil orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yesus untuk memiliki kasih. Hal kasih dan mengasihi merupakan kebutuhan hakiki setiap manusia tanpa kecuali, termasuk kasih dan mengasihi antara lawan jenis. Hakiki, karena berpulang kepada panggilan dasariah yang diberikan oleh Allah Sang Pencipta kepada makhluk ciptaan-Nya yang namanya manusia.

“Calling to love. Calling to be loved.These are our essential callings.”
Panggilan untuk mencintai. Panggilan untuk dicintai. Itulah panggilan hakiki kita.

“Say it with a rose” merupakan jembatan untuk menjalin frienship (persahabatan) dan simpati serta empati terhadap orang lain. Apabila sudah terjalin persahabatan yang “intim” erat diharapkan kita bisa menyampaikan dan membagikan rahmat Allah dalam Kristus Yesus kepada sahabat kita itu.

Pemberitaan Injil melalui persahabatan dipandang sebagai metode yang sangat efektif dan tepat guna sebagai sifat dasar manusia sebagai makhluk sosial yang mau tidak mau harus menjalin hubungan dengan orang lain.

“Say it with a rose” diharapkan dapat memberikan kesan pertama dalam sebuah persahabatan itu sebuah nilai plus, kesan yang baik untuk menjalin hubungan persahabatan yang berkelanjutan. Kesan pertama yang dibangun dalam persahabatan menentukan kelanjutan dalam sebuah relasi antara kita “orang percaya” dengan orang
yang belum percaya “teman”.

Jadi, “say it with a rose” merupakan media-sarana-chanel yang baik dalam menjembatani sebuah persahabatan demi jalan masuk Injil Kerajaan Allah.


TEMAN YANG BAIK TIDAK AKAN PERNAH MENIKMATI SEORANG DIRI SUKACITA YANG SEDANG DIALAMI DAN DIRASAKANNYA


Yohanes 3:16; bd. Amsal 17:17; Yohanes 15:9-17

MIS-BELIEVE????????????????

Apalah artinya sebuah nama?

Akwila = Rajawali…..
Priskila = Rendah hati.

(…menyertai Paulus, KPR 18:2,18-19,26; Rm 16:3; 1Kor 16:19; 2Tim 4:19; 7x)

Mereka hidup sesuai dengan identitas namanya. Bagaimana dengan arti nama kita dan relevansinya dalam kehidupan kita?

Ada seekor kuda dapat menarik beban 4500 kg, sementara seekor yang lain dapat menarik 4000 kg. Namun ketika 2 ekor kuda tersebut digabungkan dapat menarik beban 12.500 kg. Dahsyatnya sebuah sinergi (sinkron + energi).

Orang yang mampu bersinergi adalah:
1. Telah menemukan identitas dirinya. Mampu menghadapi tantangan dan tekanan karena identitasnya jelas (Rajawali terbang sendirian, namun burung EMPRIT terbangnya beramai-ramai”; ”Biarkan anjing-anjing menggonggong, kafilah tetaplah berlalu”)
2. Berani menampung orang lain dirumahnya ”tempat ibadah”. 1,5 th menampung Paulus.
3. Bisa bekerja sama dengan orang lain. I = saya / independent. Us = kita / dependent (bergantung) / interdependent (saling bergantung / memerlukan)

Pepatah Cina :
”Dibalik setiap orang yang andal, selalu ada orang-orang yang andal.”

Yakob Nahuway bilang: ”saya kagum dengan orang-orang disekitar saya. Saya telah berhasil karena ada para staff saya yang menopang saya”.

Namun yang menjadi masalah pada jaman ini adalah banyak orang yang mengalami kesulitan untuk bekerja sama. Apa yang menjadi maslahnya? Salah satunya adalah KRISIS KEPERCAYAAN.

KEHANCURAN terjadi karena adanya krisis kepercayaan. (kecewa, dan tidak puas)

TALANKA: kepiting hitam kecil di Filipina. Masukkan 50 ekor ke dalam ember dan tidak perlu ditutup, dapat dipastikan bahwa mereka ti dak akan dapat meloloskan diri dari ember tersebut. Kenapa? Setiap kali seekor mau naik keluar yang pada memegang kakinya, menghalangi dan menyepaknya ke bawah. Akhirnya semua mereka tetap utuh dan jadi santapan manusia. Kehancuran. (MANCING KEPITING)

KRISIS KEPERCAYAAN.
(YOH 20:24-28)

Yoh 20:29 ...berbahagia tak melihat, namun percaya”

Sulit percaya? Kecewa? Ditipu? Mempercayai dan dipercayai? Mencurigai dan dicurigai??.....
Masihkah percaya dengan Yesus jika doanya tak dijawabNya?maslah?tekanan? musibah?

MENGAPA TERJADI KRISIS?

1. TIADA IMAN (20:24) kesendirian, kesepian dan tak ada teman. Iman tumbuh dalam kebersamaan oleh karena pendengaran akan firman Tuhan. YUDAS ISKARIOT tak tahan dalam persekutuan yang benar karena motivasinya yang salah ”uang” =keluar meninggalkan persekutuan dan mati bunuh diri. ANANIAS + SAFIRA berdusta akhirnya mati. DEMAS mengasihi dunia akhirnya meninggalkan Tuhan.
2. BUKTI IMAN (20:25; Ibr 1:1). Jangan keraskan hati! Ada bukti dulu baru saya percaya!. Apalagi yang harus kita percayai jika sudah terbukti / nyata. Anda harus PERCAYA DULU BARU BISA MENGERTI” (Yes 7:9b.. ”Jika kamu tidak percaya, sungguh, kamu tidak teguh jaya”) banyak orang percaya yang rapuh? Melihat mujijat dulu............lalu mundur! (Yoh 6:26 kenyang makan roti; 6:66 mundur meninggalkan Tuhan)
3. KESUNGGUHAN IMAN (20:27) ”JANGAN TAK PERCAYA LAGI”. Ya Tuhanku dan Allahku (28). Kita akan merasa kecewa, sedih dan tak berarti jika kita sudak tidak dapat dipercaya lagi. Mustahil diperkenan Allah jika tiada beriman!
4. KEBAHAGIAAN IMAN (20:29) ”berbahagialah mereka yang tak melihat namun percaya”

Miliki iman yang teguh! ”Orang benar akan hidup oleh imannya (Rm 1:17)

Teguhkanlah hatimu! KOLOSE 2:6-7

Konsep yang mempengaruhi aspek hidup









BAHAN BACAAN: Ayub Pasal 3-5



Dalam penderitaannya, Ayub tidak menuduh bahwa Allah yang membuatnya menderita. Namun dalam posisi sebagai manusia yang lemah ia mengalami suatu ketidakstabilan emosi yang mengakibatkan ia patah semangat “kehabisan tenaga”, sehingga ia mengutuki hari kelahirannya (3:1-24). Allahnya Ayub bukanlah Allah yang dapat bertindak sewenang-wenang seperti yang dituduhkan “dimengerti” oleh Elifas (5:17-18).

Ayub adalah orang benar dimata Allah (1:1,8; 2:3), namun mengapa ia harus mengalami penderitaan yang bukan kesalahannya? Ia menderita karena sang Iblis menggugat pernyataan Allah mengenai Ayub dimata Allah (1:9-11). Hasil sampingan yang dialami Ayub setelah mengalami penderitaan itu adalah sebagai pendewasaan imannya. Di sini menekankan bahwa Allahnya Ayub bukanlah Sang Penganiaya.

Dari pernyataan di atas memberikan kesimpulan dimana Allah tidak memberikan kepastian terhadap orang benar bahwa ia akan menerima berkat, kecuali keselamatan jiwanya.

Prinsip lain yang saya peroleh adalah cara pandang seseorang atau pola pikir seseorang itulah yang mengendalikan hidup dan kehidupannya. Pola piker yang salah akan berdampak kepada tindakan dan tubuhnya baik secara emosi dan fisik (3:25-26).

Jika seseorang memiliki konsep yang benar mengenai Allahnya (Alkitabiah), maka dalam hidupnya akan dipimpin oleh apa yang ia percayai tentang Allahnya. Iman yang dimiliki seseorang itulah yang akan mempengaruhi pola pikir dan selanjutnya pola pikir yang dipimpin oleh iman itu pula yang membuahkan tindakan yang benar.

Pola pikir manusia dipengaruhi oleh tiga factor, yakni: mistik/irrasional, realita/pengalaman manusia dan terakhir adalah rasio yang dipengaruhi oleh iman yang berdasarkan firman Allah.

Betapa penting pola pikir yang baik itu didasarkan atas iman kepada Allah yang benar, maka diperlukan pendidikan dan pendisiplinan spriritualitas yang di latih terus menerus selaras denga firman Allah..

MERANA ALA AYUB








BAHAN BACAAN : Ayub pasal 18-21



Job 19:27c :  Hati sanubariku merana karena rindu (TB)
 My heart faints within me! (RSV)
 Hatiku hancur sebab kamu berkata (BIS)

Merana, menurut KBBI: a1 lama menderita sakit: sakit merana; 2 selalu sakit-sakit; makin lama makin kurus:badannya merana; 3 selalu menderita sedih/susah: hati/pikiran merana (2002:735). Jadi, boleh dikatakan bahwa orang yang merana secara kompleks adalah orang yang menderita sakit dalam waktu yang cukup lama dimana kesakitan yang panjang itu membuat badannya semakin lama semakin kurus. Oleh karena tiada harapan untuk sembuh dan tiada penghiburan serta pertolongan membuat suasana hati dan pikirannya mengalami kehancuran “menderita kesedihan yang mendalam”.

Ayub mengalami penderitaan yang sangat kompleks: badannya mengalami kesakitan, yang boleh diibaratkan hanya tinggal kulit dan tulangnya saja yang tersisa, semua manusia meninggalkan dia dan bahkan sahabat-sahabatnya menuduh dia sebagai orang fasik, serta Allah seolah-olah meninggalkan dan menghukum dia. Ayub ibarat hidup sebatang-kara tanpa teman dan saudara, ia merasa hidupnya sangat sepi “tawar hati”.

Pasal 19  Ayub merasa lemah, sakit hati dan tersiksa terhadap tuduhan Bildad atas dirinya, dimana Bildad mengulangi tuduhannya yang sangat kejam terhadap Ayub (bd. 18:2,3,21). Ayub berteriak menuntut keadilan pada manusia (19:1-6), tetapi ia sadar bahwa tidak akan mendapatkan dukungan dari manusia (7-13). Manusia itu siapa menurut Ayub? Manusia itu adalah saudara-saudaranya, kenalan-kenalannya, kaum kerabatnya, kawan-kawannya, anak semangnya, budak perempuannya, istrinya, anak-anaknya, dan semua teman karibnya (13-19).

Orang-orang paling dekat sudah meninggalkannya, hal itu menandakan bahwa ia sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi dalam hidupnya, ia sendiri. Ia menempatkan dirinya sebagai orang yang layak dikasihani, dan memang sungguh kasihan nasib si Ayub. Sudah jatuh ketimpa tangga lagi, sudah sakit semakin sakit baik jiwa maupun raganya.

Harapan terakhir bagi Ayub sebagai bentuk keyakinannya bahwa hanya pada Tuhan saja ia akan memperoleh jawaban. Ia yakin hanya Allah yang tidak bisa menolaknya (19:21). “Tetapi aku tahu: Penebusku hidup. Saksiku ada di sorga yang siap membela aku!” (19:25 bd. 16:19-22). Dengan mataku sendiri Dia akan kulihat, dan bagiku Dia menjadi sahabat (BIS, 19:27a).

Allah bagi Ayub adalah sahabat yang sejati yang mau menemani dalam segala tantangan dan masalah “penderitaan” yang dialaminya dan bersama dengan Allah menjalani roda kehidupannya.

Kesimpulan saya adalah ketika seseorang mengalami pergumulan yang berat, baik itu penderitaan fisik maupun psikis, sebenarnya ia membutuhkan orang yang mau menerima dia sebagai sahabat dan mengerti situasi dan kondisi yang dialaminya. Ia butuh didengar keluhannya. Ia mau orang lain duduk bersama dengannya.

Sahabat yang sejati yang mau mendengar keluhan kita adalah Tuhan Yesus Kristus, dan jika kita seorang murid Yesus, pastilah kita akan dimampukan untuk dapat menjadi sahabat yang baik bagi orang yang sedang bergumul dalam hidupnya. “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran” (Ams 17:17).

Tuhan Yesus berkata bahwa:
“Kamu adalah sahabatKu, jikalau kamu berbuat apa yang kuperintahkan kepadamu”
(Yoh 15:14).

“Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah kepadaKu, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan bebanKupun ringan”
(Mat 11:28-30).




“ALLAH MENGERTI SEGALA PERSOALAN KITA, SEBAB ALLAH PEDULI”

REKONSILIASI BAGI PENYELESAIAN KONFLIK DALAM KONSELING KRISTEN




Introduksi

Konflik dapat dialami oleh setiap orang dalam hubungannya dengan orang lain. Konflik umum yang seringkali melanda gereja, yaitu antara lain: gossip dan fitnah, keluhan atas pemimpin gereja, ketegangan dalam keluarga, perceraian, perzinahan, menuntut saudara ke meja hijau. Konflik bisa terjadi dalam hubungan antara sesama anggota keluarga, anggota gereja, dan anggota masyarakat maupun dalam hubungan suami-isteri.



Konflik dalam Pernikahan

Konflik merupakan bagian dari kehidupan suatu pernikahan dengan berbagai penyebab yang seringkali membawa ke dalam kehancuran suatu pernikahan dan bahkan sampai pada tingkat perceraian, bukan pada kebahagiaan hidup keluarga.

Itulah sebabnya, para calon suami-isteri harus dipersiapkan selain untuk mengantisipasi dan mengatasi kemungkinan-kemungkinan sumber konflik, mereka juga perlu dilatih untuk memecahkan masalah-masalah nyata yang seringkali menjadi penyebab konflik.

Dalam kasus-kasus pernikahan yang terjadi di tengah-tengah jemaat, konflik terjadi ketika masing-masing pihak saling mempertahankan harga dirinya, karena tidak mau mengakui kesalahan yang dibuatnya. Dan juga, masing-masing pihak saling menuntut bahwa dirinya merasa benar dan butuh diakui oleh pasangannya.

Dalam kasus ini, rekonsiliasi merupakan hal yang sulit untuk dilakukan atau bahkan mustahil untuk dilakukan dan akhirnya mengarah kepada perceraian. Bahkan ada seorang isteri yang merasa bahwa jika ia berdamai atau kembali kepada suaminya, maka ia akan merasa kesulitan dan tersiksa batin karena suaminya berlaku kasar kepadanya.

Akhirnya seorang isteri akan memilih untuk meninggalkan suaminya daripada hidupnya selalu dibayang-bayangi oleh rasa takut, tidak merasa aman dan nyaman. Tidaklah mudah bagi seseorang untuk mengambil keputusan dalam situasi dan kondisi seperti itu. Namun, sebagai anak TUHAN yang mau-rela untuk mengerti dan tunduk pada kehendak TUHAN, rindu untuk mendapatkan jawabannya, maka ia harus berjalan dalam terang firman TUHAN. Tidak ada cara lain untuk mengatasinya. Cara satu-satunya yang harus dikerjakan ialah masing-masing pihak harus datang kepada Yesus melalui kebenaran Firman-Nya dan saling merendahkan diri satu dengan yang lain (bd. Efesus 4:32; 5:33). Ken Sande di dalam bukunya The Peacemaker mendefinisikan konflik itu sebagai sebuah perbedaan pendapat atau tujuan, sehingga dapat membuat frustasi terhadap tujuan atau keinginan yang ingin dicapai (Ken Sande, 2001:24).

Jadi, perbedaan yang ada antara pasangan suami-isteri, baik itu pandangan maupun tujuan bisa membuat seseorang menjadi frustasi dalam mencapai tujuan dan harapan-harapannya tersebut. Perbedaan sekecil apapun dapat memicu konflik seseorang dengan orang lain (pasutri), bahkan perbedaan itu juga dapat menyebabkan keretakan hubungan yang bersifat sementara maupun permanen, yang pada akhirnya terjadi kepahitan terhadap pasangannya.

Di sisi yang lain, perbedaan juga dapat menyatakan kebesaran TUHAN yang telah menciptakan setiap individu itu unik adanya (special). Masing-masing orang memiliki opini, gambaran atau perspektif, pendirian atau keyakinan, kerinduan, dan prioritas yang berbeda-beda sesuai dengan budaya yang melatarbelakanginya. Hal yang paling penting di sini adalah bagaimana kita dapat menangani dan mengatasi perbedaan dari pihak-pihak yang berbeda. Baik itu beda dalam hal kebiasaan, karakter, “pendapat” maupun “cara pandang”.


Konsep Rekonsiliasi

Rekonsiliasi atau perdamaian merupakan suatu tindakan mendamaikan atau keadaan didamaikan, atau dengan kata lain sebagai proses membuat hubungan menjadi mantap, cocok atau harmonis (compatible).

Rasul Paulus menuliskan istilah rekonsiliasi dalam Perjanjian Baru dengan memakai kata kerja katallasso (Yunani) dan muncul sekali dalam hubungannya dengan relasi suami-isteri, atau dalam hubungannya antara sesama manusia (1 Kor 7:11). Lima kali dipakai dalam hubungannya dengan Allah dan manusia (Roma 5:10; 2 Kor 5:18,19,20). Sedangkan untuk kata benda katallage atau pendamaian muncul sebanyak empat kali (Roma 5:11; 11:15; 2 Kor 5:18,19).

Sebagai contoh adalah “Rekonsiliasi Agung” yang telah dikerjakan oleh Allah Bapa kita di dalam Yesus Kristus adalah bahwa Allah telah mendamaikan manusia berdosa dengan diri-Nya melalui karya Yesus di kayu salib (bd. Kolose 2:13-14). Jadi, rekonsiliasi di sini merupakan suatu inisiatif, kreatif dan tindakan nyata, “pro-aktif”, pihak Allah-lah yang menjadi Juru Damai bagi kita.

Sekarang bagaimana dan apakah makna rekonsiliasi bagi pemulihan hubungan bagi pasangan suami isteri yang sedang mengalami konflik? Istilah rekonsiliasi dalam 1 Kor 7:11 menurut Terjemahan Baru (TB) menggunakan kata “berdamai”. Alkitab terjemahan Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) dan The Living Bible menerjemahkannya dengan “kembali kepada suaminya”. Sedangkan dalam teks Yunaninya kata rekonsiliasi digunakan kata katallageto (aorist-imperative) yang berarti suatu tindakan yang harus dilakukan oleh isteri, yaitu kembali menyatu dan membangun hubungan persahabatan dengan suaminya (bd. 1 Ptr 3:1-2).

Kata dasar katallago (Yunani) berasal dari allaso yang berarti “berubah”, tetapi pada awalnya berarti “menukar”, yaitu menukar permusuhan menjadi persahabatan. Jadi, sebuah perdamaian merupakan tindakan aktif, bukanlah pasif. Isteri itu tidak mungkin diperdamaikan jikalau ia hanya pasif saja. Dalam hal ini, rekonsiliasi memiliki dua sudut pandang yang harus diperhatikan. Pertama sebagai ketaatannya terhadap perintah TUHAN; dan kedua menjaga supaya tidak jatuh dalam dosa percabulan.

Rekonsiliasi merupakan suatu tindakan yang terbaik menurut Paulus. Mengapa? Alasannya adalah bahwa pada dasarnya rekonsiliasi dipandang sebagai langkah ketaatan kepada perintah TUHAN (bd. 1 Kor 7:10). Meskipun demikian, Paulus telah menyadari bahwa ada kemungkinan di dalam kondisi tertentu rekonsiliasi tidak dapat dilakukan lagi karena ketegaran hati masing-masing pihak (bd. 1 Kor 7:11).

Implikasinya adalah jika rekonsiliasi dipandang sebagai ketaatan kepada perintah TUHAN, maka perubahan hubungan atau pemulihan yang diinginkan oleh pasangan suami- isteri tersebut dapat terwujud. Syaratnya adalah jikalau salah satu pasangan yang telah memisahkan diri dari pasangannya oleh karena sesuatu hal (konflik yang mengancam kehancurang rumah tangga mereka), maka ia harus kembali menyatu dan membangun persahabatan kembali dengan pasangannya. Hal itu juga disambut dengan respon yang baik oleh pasangannya (“kompromi” dan “bekerjasama” dalam penyelesaian).

“The Peacemaker atau Juru Damai”
(Sebuah komitmen untuk pemecahan konflik secara Alkitabiah)

Manusia berdosa telah diperdamaikan dengan Allah oleh kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Oleh karena itu, kita yang percaya dan menerima Yesus secara pribadi dipanggil untuk menanggapi konflik dengan jalan yang berbeda sama sekali dari jalan dunia (Mat 5:9; Luk 6:27-36; Gal 5:19-26). Kita juga percaya bahwa konflik dapat memberikan kesempatan untuk memuliakan Allah, melayani orang lain, dan bertumbuh menjadi seperti Kristus (Roma 8:28-29; 1 Kor 10:31-11:1; Yak 1:2-4). Oleh karena itu, dalam menanggapi kasih Allah dan dalam menggantungkan diri pada anugerah Allah, maka perlu sebuah komitmen untuk menanggapi konflik sesuai dengan prinsip-prinsip sebagai berikut:

a. Allah dimuliakan dalam perkara ini. Pusatkan kepada kehendak dan kemuliaan Kristus dalam sebuah perkara atau konflik anda (Kol 3:1-4).
b. Keluarkan balok di matamu. Dari pada menyalahkan orang lain untuk suatu konflik, kita percaya dalam kemurahan Allah kita dapat mengakui kesalahan-kesalahan kita kepada mereka. Berbicaralah kepada TUHAN untuk membantu kita dalam mengubah sikap dan kebiasaan kita yang mudah menimbulkan konflik dan mencari cara untuk memperbaiki kesalahan yang menjadi penyebab konflik (Ams 28:13; 1 Yoh 1:8,9).
c. Pemulihan dengan kelemahlembutan. Berbicaralah dengan lemah lembut secara pribadi dengan teman konflik anda (Ef 4:29).
d. Pergilah dan menjadi juru damai. Bersikaplah pro-aktif dengan mengejar kedamaian dan pemulihan sejati dengan cara yang saling menguntungkan, memaafkan orang lain sebagaimana Allah di dalam Kristus yang telah mengampuni segala kesalahan anda (Ef 4:1-3).

Tanggapan positif dalam menanggani konflik

1. Pendamaian secara pribadi dan menyampaikan keputusannya kepada Tuhan, dan harus pergi kepada orang yang tidak mau berdamai secara pribadi dalam usahanya dalam penyelesaian konflik. Memaafkan semua pelanggaran. Mengadakan rekonsi liasi. Lakukanlah negosiasi atau “kompromi”, dan “bekerjasama” dalam menyelesaikan konflik yang anda hadapi.

2. Pendamaian dengan bantuan orang lain (pendeta atau konselor).Cobalah mengunakan mediator atau bantuan orang lain. Mintalah seorang wasit untuk menjadi penengah anda. Jika sudah terlalu gawat, maka tugas seorang hamba TUHAN yang harus ikut di dalamnya untuk menjadi penasihatnya (disiplin formal gerejawi). (N. Robiharjo)


Norman Wright memberikan 10 langkah untuk mengatasi konflik:

1. Pahamilah konflik yang anda hadapi.
2. Jangan mendiamkan suami/isteri anda.
3. Jangan menimbun perasaan/emosi anda.
4. Jika memungkinkan siapkan setting (suasana, tempat dan waktu) untuk menyatakan ketidaksepakatan anda.
5. Seranglah masalahnya dan jangan orangnya.
6. Jangan melemparkan perasaan-perasaan anda kepada suami atau isteri anda.
7. Jangan lari dari dari pokok pembicaraan.
8. Sediakanlah jalan pemecahan bagi setiap kritikan yang anda lontarkan.
9. Janganlah mengatakan anda tidak pernah.
10. Jangan menggunakan kritikan sebagai lelucon.

Apabila anda salah akuilah, dan apabila anda benar diamlah!!!
(Ams 28:13).


8 Tips menjadi pendengar Yang baik

1. Jangan memotong percakapan.
2. Jangan biarkan pandangan anda berkeliaran, sebab anda akan terkesan tidak serius.
3. Cobalah berempati dengan perasaan pasangan anda.
4. Jangan memotong atau mengalihkan pembicaraan.
5. Jangan berusaha mengungguli cerita teman bicara anda.
6. Jangan mengkritik omongan teman bicara anda.
7. Ajukanlah pertanyaan-pertanyaan yang tepat, jangan ngawur dan apalagi tidak nyambung.
8. Jangan berdebat dengan teman bicara anda.

(C.G. Osborne)


Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat TUHAN
(Ibrani 12:14)


Sumber Pustaka:
- Osborne, C.G. Seni Bergaul. (Jakarta: BPK, 1996)
- Sande, Ken The Peacemaker: A Biblical Guide to Resolving Personal Conflict. (Michigan: Baker Books, 1997)
- The Peacemaker Ministry, The Peacemaker: Responding to Conflict Biblically. (leflet: 2003).
- Webster’s Unbridged Dictionary of The English Language. (New York: Portland House, 1989:1200).
- Wright, Norman, Bagaimana Berbicara dengan Pasangan Anda. (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 1999)