Kamis, 28 Oktober 2010

KESELAMATAN ANDA BISA DIBATALKAN HANYA GARA-GARA SATU HAL SEPELE YANG ANDA LALAIKAN UNTUK DILAKUKAN: JIKA ANDA MENJADI ORANG PELIT!


KESELAMATAN ANDA BISA DIBATALKAN HANYA GARA-GARA SATU HAL SEPELE YANG ANDA LALAIKAN UNTUK DILAKUKAN: JIKA ANDA MENJADI ORANG PELIT!

======================== oLEH SEBAB ITU, Jangan anda PELIT!

oleh Nonno Robiharjo pada 27 Oktober 2010 jam 4:10

========================================

* KESELAMATAN ANDA BISA DIBATALKAN GARA-GARA ANDA PELIT!

==========================================



KOK bisa begitu? PELIT bisa membatalkan kita memperoleh hidup kekal? Pelit bisa membatalkan keselamatan? Bukankah keselamatan itu cukup percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat?



BEGINI SAUDARA:..............................



A. 10 HUKUM ALLAH BICARA DEMIKIAN :



KELUARAN 20:1-17

1 ¶ Lalu Allah mengucapkan segala firman ini:

2 "Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan.

3 Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.

4 Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi.

5 Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku,

6 tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku.

7 Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan.

8 Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat:

9 enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu,

10 tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu.

11 Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya.

12 ¶ Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.

13 Jangan membunuh.

14 Jangan berzinah.

15 Jangan mencuri.

16 Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.

17 Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu."



SYARIAT Perjanjian Lama ini mutlak harus anda LAKUKAN tanpa kecuali! Satu Hukum tidak anda lakukan mengkamirkan 9 Hukum yang anda lakukan!



Yakobus 2:10 "Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya."



Matius 5: 48 berkata: "Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna."





B. KESELAMATAN ADALAH ANUGRAH.



EFESUS 2:8-10

8 Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah,9 itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.

10 Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.



ROMA 10:8-10

8 Tetapi apakah katanya? Ini: "Firman itu dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu." Itulah firman iman, yang kami beritakan.

9 Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.

10 Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan.



YOHANES 6:28-29

28 ¶ Lalu kata mereka kepada-Nya: "Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?"29 Jawab Yesus kepada mereka: "Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah."



YOHANES 17:3

3 Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.





C. DINAMIKA HIDUP KRISTEN



Flp 2:12

Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir,



C.1. TEST KETAATAN - CARA MEMANDANG YESUS DALAM HIDUP



MATIUS 19:16-30

16 ¶ Ada seorang datang kepada Yesus, dan berkata: "Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?"17 Jawab Yesus: "Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah."18 Kata orang itu kepada-Nya: "Perintah yang mana?" Kata Yesus: "Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta,19 hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri."20 Kata orang muda itu kepada-Nya: "Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?"21 Kata Yesus kepadanya: "Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku."22 Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya.23 ¶ Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga.24 Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah."25 Ketika murid-murid mendengar itu, sangat gemparlah mereka dan berkata: "Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?"26 Yesus memandang mereka dan berkata: "Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin."27 Lalu Petrus menjawab dan berkata kepada Yesus: "Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau; jadi apakah yang akan kami peroleh?"28 Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaan-Nya, kamu, yang telah mengikut Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel.29 Dan setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal.30 Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu."





MARKUS 10:17-27

17 ¶ Pada waktu Yesus berangkat untuk meneruskan perjalanan-Nya, datanglah seorang berlari-lari mendapatkan Dia dan sambil bertelut di hadapan-Nya ia bertanya: "Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?"18 Jawab Yesus: "Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorangpun yang baik selain dari pada Allah saja.19 Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah: Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, jangan mengurangi hak orang, hormatilah ayahmu dan ibumu!"20 Lalu kata orang itu kepada-Nya: "Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku."21 Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya: "Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku."22 Mendengar perkataan itu ia menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya.23 Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya di sekeliling-Nya dan berkata kepada mereka: "Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah."24 Murid-murid-Nya tercengang mendengar perkataan-Nya itu. Tetapi Yesus menyambung lagi: "Anak-anak-Ku, alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah.25 Lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah."26 Mereka makin gempar dan berkata seorang kepada yang lain: "Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?"27 Yesus memandang mereka dan berkata: "Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah."28 Berkatalah Petrus kepada Yesus: "Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau!"





C.2. "Jikalau engkau hendak sempurna - "Hanya satu lagi kekuranganmu:..."



JANGAN PELIT atau KIKIR!



VERSI MATIUS:

21 Kata Yesus kepadanya: "Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku."22 Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya.



VERSI MARKUS

21 Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya: "Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku."22 Mendengar perkataan itu ia menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya.



PEMUDA SOLEH DAN KAYA itu telah memenuhi 10 hukum Musa, namun satu hal yang tidak ia lakukan, yakni HATI YANG MAU MEMBERI & MEMPERCAYAI APA KATA YESUS!



Pemuda soleh itu memiliki roh PELIT, yakni karakter yang mau mementingkan diri sendiri, alias KIKIR!



Apa yang Alkitab katakan tentang orang PELIT atau KIKIR ini?



Ams 23:6

Jangan makan roti orang yang kikir, jangan ingin akan makanannya yang lezat.



Ams 28:22

Orang yang kikir tergesa-gesa mengejar harta, dan tidak mengetahui bahwa ia akan mengalami kekurangan.



1Kor 5:10-11

10 Yang aku maksudkan bukanlah dengan semua orang cabul pada umumnya dari dunia ini atau dengan semua orang kikir dan penipu atau dengan semua penyembah berhala, karena jika demikian kamu harus meninggalkan dunia ini.

11 Tetapi yang kutuliskan kepada kamu ialah, supaya kamu jangan bergaul dengan orang, yang sekalipun menyebut dirinya saudara, adalah orang cabul, kikir, penyembah berhala, pemfitnah, pemabuk atau penipu; dengan orang yang demikian janganlah kamu sekali-kali makan bersama-sama.



1Kor 6:9-11

9 ¶ Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah? Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit,10 pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.11 Dan beberapa orang di antara kamu demikianlah dahulu. Tetapi kamu telah memberi dirimu disucikan, kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita.



Ef 5:5

Karena ingatlah ini baik-baik: tidak ada orang sundal, orang cemar atau orang serakah, artinya penyembah berhala, yang mendapat bagian di dalam Kerajaan Kristus dan Allah.



1Kor 15:50 Saudara-saudara, inilah yang hendak kukatakan kepadamu, yaitu bahwa daging dan darah tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Allah dan bahwa yang binasa tidak mendapat bagian dalam apa yang tidak binasa.





MEMENTINGKAN DIRI SENDIRI & SERAKAH

Gal 5:19-21

19 Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu,20 penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, 20

kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu—seperti yang telah kubuat dahulu—bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.



1Tim 3:8 Demikian juga diaken-diaken haruslah orang terhormat, jangan bercabang lidah, jangan penggemar anggur, jangan serakah,

Tit 1:7 Sebab sebagai pengatur rumah Allah seorang penilik jemaat harus tidak bercacat, tidak angkuh, bukan pemberang, bukan peminum, bukan pemarah, tidak serakah,



Yak 3:14 Jika kamu menaruh perasaan iri hati dan kamu mementingkan diri sendiri, janganlah kamu memegahkan diri dan janganlah berdusta melawan kebenaran!

Yak 3:16 Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.



Kata KIKIR atau PELIT Diterjemahkan ke:



kikir

file, rasp; coarse; meng~ file; ~an filings

kikir

stingy, tightfisted



Word

Translated to:



avarice

n. ketamakan, keserakahan; kekikiran

avarice

n. tamak; kikir



avaricious

a. kekikiran

cheapskate

n. orang kikir

chinchy

a. pelit; kikir; loba; tamak; serakah

close

n. ~ friends, sahabat; ~ person, orang kikir; ~ secret, rahasia tersembunyi

file

n. kikir (nama perkakas)

filer

n. tukang kikir



filings

n. serbuk kikiran



hunks

n. orang kikir. (ks)



iron-fisted

a. kikir



mean

a. hina. keji; kikir.



miser

n. orang kikir/pelit



miserly

Adv. kikir



nail-file

n. kikir kuku.



niggard

a. orang kikir.



niggardly

adv. kikir.



parsimonious

a. terlalu hemat; kikir, pelit



penny pincher

n. orang kikir



penurious

a. kikir, pelit



piker

n. orang yg kikir



pinch-belly

n. orang yg kikir.



pincher

n. orang kikir.



pinchpenny

n. orang yg sangat kikir



pinchpenny

a. kikir, sangat hemat



scotch

a. kikir



screwy

a. kikir



sharp

a. kikir



skinflint

n. orang kikir.



skinny

a. kikir.



stinginess

n. kepelitan; kekikiran.



stingy

a. kikir.



tight

a. kikir.



tight-fisted

a. kikir.



tightward

n. orang kikir.



Prakata



Tak ada seorangpun yang tidak menghendaki agar hidupnya diberkati. Tetapi tidak semua orang mengerti tentang prinsip-prinsip yang Allah berikan tentang berkat. Ada yang salah mengenai sumber berkat dan ada pula yang salah dalam menggunakan berkat-berkat yang ia terima.



Ada banyak orang yang tidak memiliki pengharapan dalam hidupnya, sehingga jalan hidupnya seperti seutas benang kusut yang selalu menemui jalan buntu. Tertekan berat murung hidupnya. Orang yang tertekan jiwanya akan nampak dalam ekspresi di wajah dan fisiknya. Tidak berseri-seri dan tertunduk lesu dan malu. Kenapa hal itu bisa terjadi. Itu karena sikap hati yang tidak beres dihadapan Tuhan. Milikilah sikap hati yang benar dihadapan Tuhan.



SIKAP KIKIR



Matius 7:12: Ulangan 24:14-15



Kikir merupakan suatu sikap hidup seseorang. Seorang yang kikir itu bukan berarti ia tidak mampu memberi, melainkan lebih cenderung tidak suka untuk memberi meskipun mampu atau banyak hal yang dimilikinya. Tanpa disadari oleh banyak orang bahwa sebenarnya hal ini merupakan hidup yang tersandung berkat karena tidak mampu mempertanggungjawabkan berkat Tuhan yang ada padanya. Padahal setiap berkat Tuhan selalu mengandung unsur hak orang-orang lemah yang dititipkan dan harus diberikan kepada orang yang memerlukannya.



Dalam Perjanjian Lama ada ketentuan bagi seorang majikan dalam bertanggungjawab terhadap buruhnya yang bekerja:

1. Harus membayar upahnya sebelum matahari terbenam, -upah diberikan sesuai waktunya, baik bagi pekerja harian maupun yang menerima gaji bulanan.
2. Jangan menahan apa yang telah menjadi hak buruh yang sudah menjalankan kewajibannya dengan baik.
3. Jangan mengingkari janji dalam lapangan sosial ekonomi karena berkaitan dengan kebutuhan hidup orang lain.



Dalam Perjanjian Baru, Yakobus mengecam orang-orang yang menimbun kekayaan dengan memeras kaum buruh, ia juga menegur orang-orang kaya yang hidup dari peluh keringat kaum buruh (Yak 5:4,6).



Yesuspun ketika berkotbah di atas bukit Dia memberikan pesan yang jelas, ”Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang lain perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” (Mat 7:12)



Oleh sebab itu periksa diri anda! ”Apakah saya orang yang kikir?” Belajarlah untuk memiliki hati yang suka memberi!



Berkat yang anda salurkan akan menyehatkan berkat yang anda terima dan miliki!

=========================



SALURKAN BERKATMU! (1-25)

AYUB 29:23



Anda adalah orang yang diberkati oleh Tuhan. Sebagai orang yang hidupnya diberkati Tuhan, maka ia harus tahu dengan pasti bahwa berkat yang dimilikinya harus disalurkan, seperti yang dilakukan oleh bapak Ayub.

1. membuka panti asuhan untuk anak yatim piatu (12)
2. menyediakan lapangan pekerjaan bagi para janda (13)
3. menyediakan dan membuka balai pengobatan gratis (14)
4. membuka dan menyediakan lembaga bantuan hukum gratis bagi mereka yang membutuhkan pembelaan (16)
5. minimal yang harus dilakukan oleh setiap orang yang diberkati adalah memberikan dan menebarkan senyuman bagi semua orang (24), sehingga bagi mereka yang hampir putus asa menjadi terhibur.



Sadarkah bahwa anda orang yang diberkati itu?

=================================

JANGAN TAMAK

Yosua 7:1-26 (1)



Banyak orang yang ingin meraih segala sesuatu dengan menghalalkan segala cara untuk memilikinya. Jika hal ini terjadi dikalangan orang-orang yang tidak percaya adanya kebenaran, maka hal itu adalah wajar walaupun dalam keadaan terdesak dan terpaksa. Tapi bagaimana hal itu bisa terjadi dalam kehidupan orang yang disebut sebagai orang saleh dan beriman? Apakah anda juga termasuk didalamnya?



Akhan adalah orang saleh yang terjerumus ke dalam dosa ketamakan. Ia tidak taat terhadap firman Allah dan dia pikir Allah tidak tahu akan perbuatannya. Tuhan tahu segala sesuatu yang ia perbuat, sehingga Allah murka bukan hanya kepadanya saja melainkan juga kepada kaum sebangsanya. Hal ini menunjukkan bahwa Allah muak terhadap dosa.



Akibat ketamakan akan harta mendatangkan dosa.

1. Nama baik menjadi tercemar, termasuk seluruh anggota keluarganya.
2. Menanggung rasa malu yang berkepanjangan. Orang yang tamak adalah orang yang egois karena telah melibatkan banyak orang dan bukan hanya dirinya sendiri yang menanggung akibatnya.
3. Akibat dosanya, suku dan bangsanya terkena murka Allah. Kecemaran tak hanya pada diri sendiri, tapi menyangkut banyak orang.



Oleh sebab itu, sandarkan keinginan anda pada kehendak Tuhan atas hidup anda.



=================================



SUKA MEMBERI

KPR 20:35b; Filipi 4:10-20



Kebanyakan orang berpendapat bahwa seseorang yang yang memberi adalah orang yang dianggap kaya atau mampu. Dan orang miskin seringkali dikambinghitamkan sebagai orang yang hidupnya pas-pasan yang tidak mungkin untuk bisa memberi. Pandangan ini telah dijungkirbalikan oleh kebenaran Alkitab. Jika seseorang punya kasih maka ia akan memiliki kesanggupan untuk memberi seperti teladan yang diberikan Allah kepada manusia (Yoh 3:16).



Memberi merupakan sesuatu yang berhubungan dengan sikap hati. Memberi sepertinya sesuatu hal yang remeh , tapi itu sangat memberkati banyak orang dan diri sendiri. Pemberian berbicara masalah totalitas hidup. Jika kita memberi dengan hati yang bulat, tulus serta jujur maka dapat dipastikan bahwa kita bukanlah termasuk orang yang pelit atau kikir. Sebab orang kikir memiliki bagian atau upahnya sendiri dalam hidupnya (Amsal 11:24; 28:22). Orang yang suka memberi ’pemurah’ maka dalam hidupnya tak akan mengalami yang namanya kekurangan suatu apapun karena ia merasa cukup di dalam Tuhan. Bahkan Tuhan menjadikan nama dan keturunannya besar dan termasyur. (Kej 12:1-3)



Oleh sebab itu, ”Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya.” (Amsal 3:27)



========================

SUKA MEMBERI TUMPANGAN

KPR 16:15

Kekristenan diawali dengan sebuat pertobatan hidup seseorang. Pertobatan merupakan suatu tindakan yang berbeda dari sebelumnya, berbalik arah ke jalan Tuhan. Yang tadinya memiliki sikap dan sifat kikir menjadi tidak kikir, termasuk di dalamnya suka memberi tumpangan.



Buah pertobatan akan nampak dengan jelas dalam hidup seseorang. Jika ada orang yang mengaku telah bertobat tapi tak ada perubahan yang nampak maka ia perlu dicurigai atau dipertanyakan pertobatannya. Seperti Lidya si penjual kain ungu (KPR 16:14-15) yang mendesak agar Paulus dan kawan-kawannya untuk menumpang di rumahnya dengan segala resikonya, bahkan terganggu hak privasinya. Sebuah pertanyaan sedang ditujukan untuk anda adalah ”Perbuatan baik apakah yang telah dan akan anda lakukan saat-saat ini?” Jangan tersinggung! Namun jika anda tersinggung itu pertanda baik bahwa anda orang yang normal. Artinya anda telah dekat kepada sebuah pertobatan, itu tinggal respon anda.

==========================================



MILIKI RASA CUKUP

”Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya” (Mat 6:11)



Kebanyakan orang juga kurang merasa cukup dengan apa yang ia miliki, masih ingin ini dan juga itu, bukan? Seringkali juga jika ketemu dengan orang yang selalu mengeluh tentang kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Kesalahan terbesar bagi orang yang suka banyak mengeluh adalah ia hanya terlalu serius melihat segala kebutuhannya, tetapi tidak mau melihat dan mempercayai apa kata Alkitab. Seperti halnya terlalu banyak berdoa, tapi tindakan tak ada. Kadangkala doa anda menjadi tidak efektif ”manjur” karena pada waktunya anda untuk bertindak tiba anda tidak melakukan apa-apa.



Nikmatlah dan cukupkanlah dengan yang ada padamu, maka anda akan mengalami kepuasan.

==========================================



WAHYU 22:15

Tetapi anjing-anjing dan tukang-tukang sihir, orang-orang sundal, orang-orang pembunuh, penyembah-penyembah berhala dan setiap orang yang mencintai dusta dan yang melakukannya, tinggal di luar. (For without are dogs, and sorcerers, and whoremongers, and murderers, and idolaters, and whosoever loveth and maketh a lie.)



===========================



APAKAH SAYA KIKIR



“Ku tak membawa. Apa pun juga. saat ku datang ke dunia...” Inilah sebuah syair lagu yang mencerminkan kesadaran Ayub terhadap hidupnya, katanya: "Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!" (Ayub 1:21) Hal ini yang seharusnya membuat anak manusia hidup tidak hanya mementingkan diri sendiri (baca: kikir).



Memang sebenarnya kita lahir ke dunia dengan tidak membawa apa-apa. Dan ketika meninggalkannya kita tidak membawa sesuatu apapun. Namun dalam hidup ini kita memiliki berbagai kebutuhan yang terus menerus dan tidak habis-habisnya, kebutuhan yang harus dipenuhi melalui jerih lelah kita sendiri atau keluarga. Keadaan ini membentuk “sense of belonging” atau rasa kepemilikan atas materi atau barang kepunyaan kita. Masalahnya rasa kepemilikan atas materi yang terlalu tiuggi bisa membuat kita menjadi orang yang kikir. Benarkah kita orang kikir?



Kamus Besar Bahasa Indonesia (edisi ketiga) Departemen Pendidikan Nasional (Balai Pustaka) kata Kikir (567) memiliki arti terlampau hemat memakai harta bendanya/pelit/lokek/kedekut: orang yang … tidak banyak sahabat. Kekikiran itu sendiri perihal (sifat) kikir, seperti lintah darat. Kikir bersaudara dengan pelit (846), yakni tidak suka memberi sedekah. Sehingga penulis Amsal berkata, “Jangan makan roti orang yang kikir, jangan ingin akan makanannya yang lezat” (Amsal 23:6). Kenapa? Hal ini tidak mungkin terjadi karena orang kikir tidak akan memberikan barang milik kepunyaannya yang dianggap berharga diberikan kepada orang lain. yang menjadi tujuan hidupnya, “Orang yang kikir tergesa-gesa mengejar harta, dan tidak mengetahui bahwa ia akan mengalami kekurangan” (Amsal 28:22).



Penyebab:

1. Rasa ego yang tinggi

Rasa memiliki secara positif membangun sikap tanggungjawab dan memotivasi kita untuk tidak memboroskan sumber-sumber yang dimiliki. Tetapi jika sikap ego sangat mempengaruhi rasa memiliki sehingga melewati kewajaran, maka kita bisa menjadi orang yang kikir dan sulit bisa memberkati orang lain.

2. Tidak pernah menerima pemberian orang lain

Jika tidak memiliki pengalaman menerima pemberian orang, maka kita sulit bisa membagikan apa yang kita miliki kepada orang lain.

3. Tidak melihat kebutuhan orang lain

Terlalu focus pada kebutuhan pribadi, membuat kita sulit merasakan kebutuhan orang lain yang mungkin sangat primer bagi mereka.



Solusi:

1. Mengolah rasa ego

Sikap ego tidak dapat dihilangkan, namun dapat dikelola sehingga tidak menjadi suatu keterikatan dalam diri kita. Kekuatiran, rasa tidak aman dan keserakahan adalah sikap negative yang perlu di jauhkan dari diri kita.

2. Kembangkan karunia menikmati.

Memiliki dan menikmati adalah dua hal yang berbeda. Adalah suatu karunia untuk bisa menikmati sesuatu dengan memilikinya. Dengan mengembangkan rasa syukur karena bisa menikmati, membuat rasa memiliki tidak begitu mengikat kita lagi.

3. Belajar menabur

Membagikan sesuatu yang dimiliki kepada orang lain, selain bisa memberkati, juga suatu waktu kelak kita bisa menuai hasilnya. Mulailah menabur sekarang.

“Berilah dan kamu akan diberi suatu takaran yang baik. yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.

Jumat, 11 Juni 2010

JANGAN MENJADI MALAS

KEMALASAN

Ada banyak orang berpendapat kemalasan merupakan hal yang biasa, tidak menjadi sesuatu yang serius. Kemalasan masih dianggap hal yang wajar dan manusiawi. Kemalasan telah menjangkiti manusia, baik itu pada masa kita ini maupun pada masa sekarang.

Sewaktu saya menyelidiki Alkitab untuk menyusun pelajaran ini, saya menjadi yakin bahwa dosa kemalasan adalah salah satu dosa yang harus dipandang serius. Dosa itu merupakan sesuatu sebab yang harus mengalami akibatnya, dosa menimbulkan penghukuman, kesengsaraan dan penderitaan.

2Tesalonika 3:10-11
10 Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan.
11 Kami katakan ini karena kami dengar, bahwa ada orang yang tidak tertib hidupnya dan tidak bekerja, melainkan sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna.

Buku kamus memberi rumus kemalasan sebagai berikut “keengganan untuk bergerak, bekerja lamban, tak berbuat apa-apa.” Secara teologis kata itu bukan saja mengandung arti kemalasan dalam hal-hal kerohanian, tapi juga sikap apatis dan tidak aktif dalam pekerjaan-pekerjaan kekristenan.

Alkitab banyak berbicara tentang kemalasan yang merusak, mematikan dan terkutuk itu. Dalam Amsal 19:15 dikatakan: ‘Kemalasan mendatangkan tidur nyenyak, dan orang yang lamban akan menderita lapar”. Kemudian dalam Amsal 21:25 dikatakan : “Si pemalas dibunuh oleh keinginannya, karena ta ngannya enggan bekerja.”

Alkitab mengatakan bahwa dosa kemalasan menyebabkan cara hidup yang negatif, yaitu hidup yang terhenti dan tidak efektif yang kesemuanya membuat orang itu tidak layak men jadi pengikut Kristus. Kemalasan rohani bukan saja dosa terhadap Allah, tapi juga dosa terhadap diri sendiri. Kemalasan itu menunjukkan jarak antara apa saudara seharusnya dan apa saudara sebenarnya. Juga menunjukkan perbedaan antara orang yang bagaimana saudara sebenarnya dan menjadi orang yang bagaimana saudara dapat.

Kemalasan adalah pembinasa kesempatan dan pembunuh jiwa. Kemalasan itu membunuh secara diam-diam tanpa banyak ribut-ribut, tapi hasilnya sama saja. Orang malas itu seumpama sepotong kayu yang terapung di air dan dibawa oleh arus — tanpa gerak dan minat. Jalan yang gampang ialah jalan yang populer, jalan yang lebar,jalan yang diikuti oleh orang banyak. Dengan mengambil jalan mi orang tak perlu mengeluarkan tenaga dan tak perlu berusaha karena siapa saja tak kehilangan kejantanannya. Kapal yang tak punya motor selalu mengapung ke hilir, tak pernah melawan arus. Demikian juga halnya dengan malas, dan mau tak mau akan mengapung kepada kebinasaan kekal.

Banyak orang yang kehilangan nyawa dalam kecelakaan mobil, bukan karena orang itu pengendara yang tak pandal, tapi justru karena pandai — dan jatuh tertidur sedang menye tir. Banyak orang yang berjuang dalam pergumulan rohani de ngan sia-sia, bukan karena orang flu melulu jahat tapi karena orang itu malas, tertidur atau mengantuk secara rohani. Dalam Efesus 5:14 dikatakan: “Bangunlah, hal kamu yang tidur dan bangkitlah dan antara orang mati dan Knistus akan bercahaya atas kamu.”

Banyak orang jadi sakit dan mati, bukan karena mereka mengotori tubuhnya dengan dosa, tapi kanena menyia-nyiakan tubuhnya. Mereka terlalu malas untuk mengurus dirinya. Tiap tahun kemalasan mengambil korban ribuan yang mati dijalan raya, ribuan jadi sakit payah dan tak terhitung jumlah orang orang yang menderita dan melarat di seluruh dunia.

Dalam Alkitab dosa karena tak mau melakukan apa yang di harapkan dan seseorang, yang sebenarnya sama saja parahnya dengan dosa karena melakukan apa yang dilarang oleh Allah. Saudara tak penlu melakukan apa-apa untuk menjadi hilang — bermalas-malas saja dalam hal keselamatan jiwa saudara — tak usah melakukan apa-apa. Yesus berkata gampang sekali untuk menjadi hilang. KataNya: “Lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang ma suk melaluinya” (Mat 7:13).

Dalam perumpamaan tentang talenta, kita membaca bukan hanya tentang upah yang ditenima oleh hamba yang setia, tapi juga tentang hukuman yang diterima. oleh hamba yang malas. Hukuman bagi orang yang tak melakukan apa-apa sama besar nya dengan hukuman bagi pezinah dan pembunuh. Matius 25:26. 30 adalah hukuman yang dijatuhkanNya: “Hai kamu, hamba yang jahat dan malas .. . . Sebab itu ambilah talenta itu danpadanya . . . . Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna it ke dalam kegelapan yax paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap. dan kertak gigi.” Hamba yang tak berguna itu sebenarnya tidak melakukan kesalahan teknis, Ia hanya tenlalu malas melaksanakan tugas yang dibebankan ke padanya. Dosanya ialah dosa karena tak melakukan sesuatu.

Dosa utama dari kelima anak dara yang bodoh itu bukanlah dosa percabulan, berdusta ataupun menipu. Mereka hanya lalai menyediakan minyak bagi dirinya. Mereka dihukum bukan ka rena dosa yang menyolok, tapi karena kemalasan dan ketidak setiaan. Waktu mempelai laki-laki datang, pintu kesempatan tertutup rapat dan suara Allah yang memberi hukuman terde ngar: “Aku tidak mengenal kamu” (Mat 25:12).

Dalam setiap bidang kehidupan, orang pemalas adalah orang yang kalah. Mahasiswa-mahasiswa atau siswa-siswa yang kerja nya tidur-tiduran saja tak mungkin lulus dalam ujian. Ijazah ijazah biasanya dibenikan sebagai hasil dan kerja keras dan te kun, bukan untuk bakat-bakat dan kesanggupan yang tidak dikembangkan. Biasanya hanya mahasiswa yang mau bekerja yang mendapat pujian dan profesornya. Dalam pertanian, dalam dunia dagang, di sekolah, dalam paberik, pendeknya di semua lapangan hidup, kemalasan mendapat hukuman dan kerajinan dan kesetiaan mendapat upah.

Kemalasan adalah unsur perusak dalam hidup sehari-hari. Karena kemalasan banyak jiwa yang telah hilang, kota-kota diamuk api, banyak rumah tangga jadi retak. Kemalasan itu telah menghambat orang-orang gelandangan untuk mempu nyai hidup yang lebih terhormat, menghambat pelacur untuk hidup bersih, dan menghambat maling-maling untuk jujur.

Tepatlah kata orang “Bukan apa yang kau telah kerjakan, tapi apa yang tidak kau kerjakan yang membuat hatimu tidak tenteram di kala matahari terbenam.” Kata-kata hiburan yang mungkin dapat kita ucapkan kepa da seorang teman yang sedang susah, pertolongan yang mungkin dapat kita berikan untuk meningankan sedikit beban se seorang, sedikit uang yang mungkin dapat kita berikan kepada seseorang yang kekurangan — inilah semua hal yang kita la laikan yang menyebabkan kita menyesal dan juga yang me nyebabkan orang-orang lain tidak mendapat pertolongan yang mereka butuhkan. Kalau karena kemalasan kita tidak melaku kan perbuatan kasih, kata-kata hukuman Yesus ialah: “Segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dan yang paling hina mi, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku” (Mat 25:45).

Ada beribu-ribu manusia yang malas pergi ke gereja. Mereka lebih suka tidur lama di han Minggu atau pergi berolahraga. Ada juga orang-orang yang lebih suka duduk di rumah baca koran dan berdaith bahwa mereka dapat mendengarkan khot bah dan radio atau melihat acara gereja dalam televisi. Mereka kira dengan berbuat begitu tanggung jawab keagamaan mereka sudah selesai.

Ada juga orang-orang yang malas berdoa. Rasul Paulus berkata bahwa kita hams tetap berdoa (1 Tes 5:17). Maksud Paulus ialah bahwa kita hams dalam sikap berdoa setiap waktu. Karena kita malas, hidup doa kita jadi tenlalai akibatnya sumber kerohanian kita jadi kering. Saya sudah tahu dan pengalaman, kalau saya pagi-pagi pergi tanpa lebih dulu mengkhususkan waktu sebentar untuk berdoa, han itu betul-betul had jelek, kesulitan dan soal-soal datang bertubi-tubi. Kebanyakan dan kita lebih suka tidur sekejap lagi pagi. pagi daripada menggunakan waktu Jima belas menit dalam doa dengan Allah.

Kita membiarkan segala hal menghalangi kita berhubungan dengan Allah. Kalau saudara punya janji untuk bertemu de ngan presiden negara saudara pada suatu jam tertentu, saya berani mengatakan bahwa saudara tidak akan lalai atau tenlam bat. Barangkali sebelum pergi saudara akan betul-betul menye diakan dir! saudara apa yang hendak saudara katakan, pakaian maria yang hendak saudara pakai dan lain sebagainya, sebab hendak menemu! ‘orang yang begitu penting. Tap! kita selalu terlambat dan lamban terhadap janji kita dengan Allah. Kita tak pemah mempersiapkan pikiran kita untuk jam doa kita. Biasanya kita member! Allah sisa-sisa waktu kita, atau saat ter akhir sebelum kita pergi tidur, pada waktu mana kita sudah be gitu mengantuk dan cape sehingga kita tak dapat memusatkan pikiran lagi pada doa kita. Dalam hal ini kita melakukan dosa kemalasan.

Ada beribu-ribu orang Kristen yang malas membaca Alki tab; 1 Petrus 2:2 mengajarkan kepada kita, bahwa kita hams “selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, su paya olehnya kamu bertumbuh”. Sebabnya maka banyak orang Kristen tidak bertumbuh ialah karena mereka tidak membaca Alkitab dan sebabnya mereka tidak membaca Al kitab ialah karena mereka terlalu malas. Pemazmur mengata kan bahwa ia memikir-mikirkan hukum Allah siang dan ma lam, dan sebagai hasilnya, Firman Allah adalah bagaikan madu bagi hati dan jiwanya. Banyak di antara pembaca yang ben- tanya-tanya dalam hati: mengapa saya tidak memiiki gairah dan sukacita dad pengalaman Kristen seperti dimiiki orang orang lain? Jawabnya ialah karena saudara tidák membaca A.lkitab saudara. Saudara mempunyal dosa kemalasan. Sauda ra tidak mengeijakan apa yang seharusnya saudara kerjakan.

Banyak orang yang malas menyaksikan Kristus. Kapankah yang terakhir saudara berbicara tentang Kristus kepada seserang? Kapankah yang terakhir saudara menolong seseorang sehingga ia memperoleh pengetahuan tentang Knistus yang menyelamatkannya? Banyak orang yang saudara temui se tiap han yang membutuhkan Jumselamat, tapi tak sepatah katapun keluar dan bibir saudara untuk mencoba menolong mereka untuk Knistus. Saudara mempunyai dosa kemalasan, akibatnya orang lain tidak mendapat keselamatan.

Banyak juga orang yang malas dalam cara hidupnya. Malas dalam cara berpakaian dan percakapan adalah dosa. Malas dalam adat istiadat sehari-hani adalah dosa. Daftan dosa ke malasan dapat diperpanjang, mencakup banyak bidang; seper ti : malas dalam kebiasaan-kebiasaan menyupir mobil di jalan jalan raya, sehingga membahayakan jiwa orang lain; malas dalam menjaga kebersihan tubuh, soal kedua yang terpentiing sesudah kesalehan; malas untuk tersenyum yang seharusnya selalu ada pada wajah setiap orang Kristen bagaimanapun keadaannya; malas menolong orang-orang yang membutuh kan saudara di lingkungan tempat tinggal saudara; malas memberi sumbangan kepada dana sosial, supaya orang-orang yang miskin dan malang dapat ditolong.
Ada juga orang-orang yang malas untuk memberi perpuluh an dan uang persembahan kepada Kerajaan Allah. Kalau pe dagang-pedagang mengurus pembukuan dagangnya seperti orang-orang Kristen mengurus pembukuan utang-utangnya kepada Allah, pedagang-pedagang itu akan gulung tikar dalam beberapa han saja.

Ada beribu-ribu orang Kristen yang mengantuk dan terti dur dan menutup mulutnya rapat-rapat sedangkan dunia mi sudah begitu memerlukan Injil Yesus Kristus. Alkitab mem peringatkan dalain Yesaya 56:10: “Sebab pengawal-pengawal umatKu adalah orang-orang buta, mereka semua tidak tahu apa-apa; mereka semua adalah anjing-anjing bisu, tidak tahu menyalak; mereka berbaring melamun dan suka tidur saja.” Dalam Roma 12:11 kita dinasehati supaya “janganlah hendak nya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.” Ada banyak caranya saudara dapat mela yarn Kristus, bagaimanapun keadaan saudara.

Perjanjian Baru terus menerus memperingatkan dosa kema lasan. Dalam Ibrani 6:12 tertulis: “Agar kamu jangan menjadi lainban, tetapi menjadi penurut-penurut mereka yang oleh iman dan kesabaran mendapat bagian dalam apa yang dijan jikan Allah.”

Martin Luther menulis dalam salah satu khotbahnya : Si Iblis mengadakan suatu perayaan, di mana pesuruh-pesuruhnya berkumpul untuk memberi laporan tentang hasil pekerjaan mereka.

Seorang berkata, “Saya telah melepaskan binatang-binatang buas terhadap suatu kafilah Kristen di padang gurun; dan tulang-tulang mereka sekarang putih berserakan di atas pasir.” “Apa gunanya ?“ kata si Iblis. “Jiwa mereka semua masih diselamatkan.” “Sudah sepuluh tahun lamanya saya membujuk seseorang supaya ia malas-malas saja dan tidak susah-susah tentang kese lamatan jiwanya. Akhirnya saya berhasil; orang itu sekarang sudah jadi miik kita”, kata seorang lain. Si Iblis bersorak kegirangan, dan malam itu bintang-bintang di neraka menyanyi-nyanyi dan bersuka-ria.

Barangkali dosa kemalasan dan penyia-nyiaan kerohanian sama besar jasanya dengan dosa-dosa keji lainnya yang banyak kita dengar dalam mengisi penghuni-penghuni neraka. Dosa kemalasan ini nampaknya begitu sepele, tidak berbahaya, tidak bercela; tapi sebenarnya biasanya lebth mematikan bagi roh manusia daripada banyak dosa yang paling keji sekalipun.

Hal yang paling jelek yang dilakukan oleh kemalasan terhadap seseorang ialah merampas daya kerohanian orang itu, yakni daya kekuatan mengambil keputusan Kristen. Kalau ia dalam keadaan bodoh dan malas, keadaan kerohanian yang setengah tidur ini tak memungkinkan dia memiih Kristus. Mungkin ia dapat menyetujui kebenaran dengan pikirannya; ia malahan mungkin mengetahui doktrin-doktrin agama, tapi ia takkan sanggup mengambil tindakan positif. Jalan di depannya lebar dan rata. Ia tahu jalan mana yang harus ditempuhnya, tapi kemalasan telah membuat keinginannya lemah dan tak bertanggung jawab. Dosa ini harus diakui sama seperti dosa dosa lainnya Dalam Yakobus 4 17 ikatakan “Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.”

Di antara orang banyak yang berkumpul di sekitar salib Kristus ada orang-orang yang punya dosá kemalasan. Walau pun Kristus Anak Allah sudah hampir mati, Matius 27:36 melaporkan bahwa “Mereka duduk di situ menjaga Dia”. Alangkah acuh-tak-acuhnya sikap orang-orang ini! Kemalasan seperti itu tak bisa masuk akal ! Tapi sesaat sebeluni Yesus menghembuskan nafasNya yang terakhir, Ia melihat ke pada orang-orang berdosa di sekelilingnya, yakni, para pencuri, pembunuh, penjudi, orang-orang munafik, orang-orang yang memakai nama Allah dengan sia-sia, orang-orang cabul, orang orang congkak, pendengki, orang-orang pelahap dan orang-orang malas; lain Ia berkata, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23 34) Pada saat itu, Domba Allah (bagi setiap orang yang mau percaya) mengambil semua dosa th mi Dengan pekerjaan penyelamatan yang sempurna Ia membuka jalan ke Sorga. Hidup kekal sekarang dapat dicapai oleh setiap orang. Juru selamat sama dekatnya dan saudara dengan penyerahan hati saudara kepadaNya, atau saudara dapat juga membuat Dia jauh dan saudara menurut keinginan saudara. Roh saudara yang membangkang dan malas adalah penghambat yang paling besar bagi Dia untuk masuk ke dalam hati Saudara.

Jangan menjadi malas ya…………….


KEMALASAN MEMBUAT KITA GAGAL MERAIH CITA-CITA

Jumat, 13 November 2009

Status Anda Yang Baru Di Dalam Kristus




Anda di dalam sebuah gereja lokal dimana anda bergereja dan tercatat sebagai anggotanya saat ini disebut dengan sebutan jemaat. Hal ini berkaitan erat dengan identitas jemaat (baca: Anda) di dalam Kristus sebagai tujuan abadi Allah (Douglas, 2000: 269). Pemberitaan Injil Kristus memberikan dampak pada buah pertobatan dan mukjizat yang menghasilkan iman (KPR 19:9-11,18,19). ”Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.” (Roma 10:17).

Anda yang memiliki status yang baru di dalam Kristus pada hakekatnya telah tersurat di dalam surat Paulus di jemaat Efesus. Pemaparan mengenai status anda di dalam Kristus akan menjelaskan tujuan dari status baru yang anda terima di dalam Kristus. ”Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” (Ef 2:10). Pengetahuan dan kesadaran anda di dalam Kristus itulah yang akan menuntun hidup anda ke arah tujuan ilahi, dimana anda layak disebut sebagi murid-murid Kristus jika anda berbuah banyak. ”


Anda adalah orang kudus ”orang percaya”

Dalam Efesus 1:1,15,18; 2:19; 38,18; 4:12; 5:3; 6:18 Paulus menyapa penerima surat sebagai orang-orang kudus (Yun. hagioi), yakni mereka yang percaya dalam Kristus sebagai gambaran orang beriman. Orang-orang kudus menunjukkan kepada kedudukan dalam Kristus, sementara sebagai orang-orang percaya menekankan sifatnya dihadapan Allah. orang kudus merupakan ”seseorang yang telah mengakui Yesus Kristus sebagai Juruselamat.” (Wiersbe, Warrean W. Kaya Di Dalam Kristus. (Bandung: yayasan kalam Hidup, 2001) hal 9)

Orang-orang kudua dan orang-orang percaya keduanya memiliki pengertian yang erat berhubungan, di satu sisi mereka tidak dapat kudus tanpa percaya dan mereka tidak dapat percaya kalau mereka bukanlah orang-orang kudus. Mereka disebut orang-orang kudus, bukan karena mereka sendiri adalah kudus, tetapi karena mereka ”dikuduskan” (Yun. hegiasmenoi, 1Kor 1:2), karena mereka dipanggil menjadi orang-orang kudus (Yun. kletoi hagioi, Roma 1:7; 1Kor 1:2) oleh Tuhan. Hal ini karena anda diselubungi oleh Roh dan hidup Kristus (1Kor 6:11). Kekudusan anda adalah sebuah atau suatu pemberian, anugrah Allah di dalam Kristus. Mereka kudus ”dalam Kristus” (Yun. En Christoi Yesou) yang telah menjadi ”kekudusan” anda (1Kor 1:30; bd. Kol 1:22). Itulah tempat, ruang dan dasar kekudusan anda. Di luar Kristus anda tidaklah kudus (Abineno 2001:4).

John Stott mengatakan bahwa sebutan orang-orang kudus merujukepada semua umat Allah. setiap orang Kristen dapat disebut sebagai orang kidus sebab telah dikhususkan menjadi ”milik Allah”. orang-orang percaya dimaksudkan sebagai orang ”yang percaya” dan ”yang dapat dipercayai”. Orang-orang kudus dan orang-orang percaya di dalam Kristus memiliki arti bahwa seseorang dipersatukan secara pribadi dan hidup dengan Kristus. Hidup yang menggantungkan diri sepenuhnya kepada Kristus sebagai sumber kehidupan itu sendiri (Stott, 2003:17).


Jemaat sebagi umat pilihan Allah

Jemaat sebagai umat pilihan Allah dan mempunyai hak untuk memperoleh segala berkat rohani di dalam sorga (Ef 1:3,4). Allah memilih jemaat, kata memilih disini dalam bahasa Yunaninya adalah bentuk aorist middle indikatif exelaxato yang kata dasarnya adalah eklego. Eklego dipakai dalam kebiasaan pekerjaan Allah dalam memilih bangsa Israel (Henry vol. 6:24). Dalam hal ini anda dipilih di dalam Kristus dan bersifat abadi, selama-lamanya permanen (Baxter 1988:109).

Dasar pemilihan atas diri anda adalah karena Allah telah berkenan memanggil dan memilih (exekaxato) anda (dari umat manusia yang sesat dan hilang, - ”masa perditionis’) menjadi suatu persekutua yang baru, yakni suatu persekutuan untuk kehidupan (keselamatan) yang kekal. Pilihan itu telah Allah buat ”dalam Kristus” (Yun. en Christoi) yang artinya dibuat berdasarkan karya Kristus sebagai juruselamat.

Pemilihan Allah terhadap diri anda berlangsung sebelum dunia diciptakan (Yun. pro kataboles kosmou). Tuhan Allah tidak memilih hanya karena ia mau memilih saja. Ia memilih karena ia mempunyai maksud supaya kita kudus dan tidak bercacat dihadapan-Nya. pilihan Allah adalah pilihan untuk keselamatan (Yun. soteria)). Pilihan ALLAH ITU ADALAH SUATU ANUGRAH YANG HARUS KITA PAKAIKAN UNTUK KEMULIAAN ALLAH (Abineno 2001:10-12).

Pemilihan bersangkut paut dengan penentuan sejak semula, bukan secara kebetulan anda percaya kepada Kristus (Yoh 15:16). Allah telah menentukan pengangkatan kita sebagai anak-anak Allah (Ef 1:5) dengan maksud supaya menjadi serupa dengan Kristus (Rom 8:29-30), dan memiliki hak waris Kerajaan Allah.


Anda sebagai umat tebusan

Anda sebagai umat tebusan Allah di dalam Kristus ketika anda dalam kematian atas dosa (Ef 1:7; bd. Gal 3:13; 1Kor 6:20). Ia telah menebus kita (Ef 1:7a). Kata menebus berarti ”membeli dan membebaskan dengan membayar sejumlah harga.” Anda dibebaskan dari kuk perhambaan (gal 5:1), dan bebas dari perbudakan dosa (Roma 6) dengan harga yang mahal, yaitu darah-Nya sendiri (1Ptr 1:18) dan itulah yang dikerjakan oleh Tuhan Yesus (Wiersbe, 2001:20).

Abineno mengatakan bahwa Paulus dalam ayat 7 menjelaskan mengenai kasih yang diberikan kepada jemaat dan Kristus itu ialah penebusan oleh darah-Nya:

Apolutrosis (Ind. Pembebasan, penebusan) biasanya dipakai dalam dua arti. Pertama, pembebasan oleh penebusan dengan uang, umpamanya orang-orang hukuman atau hamba-hamba (bd. A.l. mat 20:28; Ibr 11:35). Kedua, pembebasan atau kelepasan dalam arti yang umum (bd. Dan 4:34). Dalam Perjanjian Baru apolutrosis dipakai dalam arti yang akhir ini dan (kecuali, Ibr 9:15, umumnya juga dalam arti yang mutlak (bd. Luk 21:28; Rom 8:23; Ef 1:14; 4:30). (2001:15).

Paulus menekankan bahwa Allahlah yang memprakarsai dalam penyelamatan umat_nya melalui penebusan di dalam Kristus sebagai berkat yang dianugrahkan kepada jemaat (Stott, 2003:26)

Segala berkat rohani di dalam sorga telah dianugrahkan kepada jemaat di dalam Yesus Kristus Tuhan (Ef 1:3), karya-Nya di kayu salib memungkinkan manusia memiliki jaminan hidup yang kekal bersama Allah. seperti dalam Efesus 3:12 berkata: ”Di dalam dia kita beroleh keberanian dan jalan masuk kepada Allah dengan penuh kepercayaan oleh iman kita kepada-Nya.”


Anda sebagai anggota tubuh Kristus

Tenney mengatakan bahwa di dalam Efesuslah di dalam Perjanjian Baru, di mana kata ’jemaat’ berarti gereja yang universal, bukan suatu kelompok lokal (Tenney, 1995:394). Jemaat sebagai tubuh Kristus dalam arti lukisan secara universal (Ef 1:22,23; bd. Rm 12:4,5; 1Kor10:16,17; Kol 1;18).

Tubuh Kristus merupakan gambaran yang baru tentang sebuah gereja sebagai suatu tubuh tunggal fungsional ”a single congregation” (1 Kor 12:17), yang terbentuk dari orang-orang Yahudi dan orang-orang bukan yahudi, yang memiliki norma-normanya sendiri dan terlibat dalam suatu pergumulan rohani. Tujuannya adalah ”kesatuan iman... pengetahuan yang benar tentang Anak Allah...tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus” (Tenney, 1995:396; bd.4:13).

Jemaat memiliki kesatuan dengan Kristus sebagai lukisan antara tubuh dan kepala. Keanekaragaman dalam tubuh Kristus bertujuan untuk saling melengkapi dari aneka karunia rohani yang diberikan oleh Kristus pada jemaat-Nya bagi pembangunan tubuh Kristus. Masing-masing anggota tubuh Kristus memiliki kemuliaan yang sama dan juga dalam fungsinya sebagai anggota tubuh Kristus.

Jemaat adalah Bait Allah (Ef 2:21,22) merupakan kemuliaan Allah yang pernah memenuhi Bait Suci di Yerusalem, dan kini, Yesus Kristus yang adalah kemuliaan Allah memenuhi Jemaat melalui Roh-Nya (Stott, 2003:59)


Jemaat adalah manusia baru di dalam Kristus

Jemaat diciptakan baru di dalam Kristus (Ef 2;15; 4:17-32; bd. 2Kor 5:17). Paulus berangkat dari yang negatif ke yang positif. Dari pembatalan sesuatu yang lama (hukum) ia bergerak menuju kepada penciptaan sesuatu yang baru (manusia baru). Hukum memisahkan antara Yahudi dan non-Yahudi, tetapi setelah hukum sumber perbedaan disingkirkan dari non-Yahudi, maka tidak ada yang dapat memisahkannya. Kristus telah mempersatukannya dalam ”sat manusia baru guna terciptanya kedamaian, satu manusia baru” yang menuju kepada ”kedewasaan penuh” (Ef 4:13). Semua orang Kristen bersama-sama menjadi satu komunitas Kristen, dimana ”tidak ada lagi orang Yunani atau orang Yahudi” (Kol 3:11; Gal 3:28).

Jadi, pada saat Yesus menderita dan mati di kayu salib memikul kuk hukuman karena dosa manusia, pada saat itulah Ia membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, juga menciptakan ”satu manusia baru” di dalam diri-Nya. ”satu ras manusia baru” yang didamaikan dan dipersatukan Kristus di dalam diri-Nya sendiri (Stott, 2003:96).

Gerald Cowen mengatakan bahwa manusia baru bertujuan sebagai pelukisan. Efesus 2:10 berkata, ”Kita adalah hasil ciptaan Allah yang sempurna di dalam Kristus Yesus untuk tujuan pekerjaan yang baik”. Tujuan Allah adalah hidup yang penuh dengan ketaatan. Hidup kita adalah hidup yang penuh dengan ucapan syukur di dalam Allah. Di mana setiap orang percaya adalah ciptaan baru dan juga sebagai bagian dari ciptaan yang lebih besar berdasarkan penebusan salib Kristus (bd. Efesus 2:15).


Jemaat sebagai pengantin perempuan Kristus.

Jemaat yang dilukiskan sebagai pengantin perempuan Kristus diharapkan jemaat dapat menjaga dan memiliki kesucian dan hidup yang benar di hadapan Allah. Jemaat mengalami pengudusan hidup dari hari, memiliki kesetiaan dalam ketaatan kepada Kristus.

Jemaat sebagai pengantin perempuan Kristus, ia sangat dikasihi oleh Kristus dan menerima anugerah Allah dalam Kristus. Dalam status seperti itulah diharapkan jemaat memiliki relasi yang penuh kasih mesra, relasi yang intim dengan Kristus, oleh karena jemaat ada di dalam Kristus dan Kristus ada di dalam jemaat. Jemaat yang mengasihi Kristus dalam segenap hidupnya (bd. Yoh 14:23). Ia telah mengasihi kita (Ef 1:6). Kita tidak dapat menjadikan diri kita sendiri dikasihi Allah; tetapi Ia, dengan kasih karunia-Nya, menyebabkan kita dikasihi Kristus. Karena kasih karunia Allah dalam Kristus, kita diterima di hadirat-Nya.

Jemaat sebagai keluarga Allah

”Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah”
Efesus 2:19

Dalam Efesus 2:19 menyatakan lukisan yang indah mengenai jemaat, yang berkembang makin dekat dan karib: kamu.....kawan sewarga dari....keluarga Allah. Jemaat sebagai keluarga Allah menunjukkan ia sebagai milik kepunyaan Allah (bd. I Petrus 2:9). Jemaat merupakan anak-anak Allah yang kekasih (Ef 5:1; 1:4-5; bd.Yoh 1:12).

Menurut Martin dalam Tafsiran Alkitab Masa Kini Jilid 3 (Matius-Wahyu) mengatakan bahwa Paulus memiliki kekaguman atas rahasa dan keunikan jemaat sebagai keluarga Allah. Kesatuan masyarakat yang universal ini, yang adalah tubuh Kristus (Ef 1:23; 3:6; 4:4; 5:30) menjadi tumpuan perhatiannya yang besar (Ef 4;3). Melalui karya pendamaian Kristus di kayu salib (Ef 2:16), Allah telah menjadikan Anda manusia baru (Ef 2;15), suatu ”keluarga ilahi” yang didalamnya Yahudi dan bukan Yahudi dimasukkan sebagai sesama saudara (Ef 1:5; 2:19; 4:6; 5:1). Terjadinya keluarga ini, dimana segala rintangan kebangsaan, kebudayaan dan kedudukan sosial diruntuhkan (Martin, 1986:598).

Stott juga memberikan penekanan yang senada dengan Marti bahwa penekanan keluarga Allah disini adalah tentang persaudaraan dalam perkawanan dan kesewargaan, yang melintasi semua kendala baik yang berupa ras, sosial, ekonomu maupun daerah. Dalam Perjanjian Baru ungkapan yang sering muncul dan merujuk kepada orang Kristen ialah ”saudara”. Seorang saudara menikmati hubungan yang akrab, cinta kasih yang dalam, perhatian yang tulus, dan dukungan yang mantap dari keluarganya. Justru kasih akan saudara seharusnyalah senantiasa menjadi salah satu ciri khas sifat setiap warga dari komunitas baru di dalam karya kristus (Stott, 2003:102).

Jemaat adalah keluarga Allah (Yun. Oikos Theou), yang dibangunkan di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan kristus yesus sebagai batu penjuru (Ef 2:19,20). Jemaat sebagai keluarga Allah pertama-tama dibangun berdasarkan pemberitaan Injil Kerajaan Allah, yang dipercayakan kristus kepada para rasul dan nabi. Yang paling penting dalam bangunan tubuh Kristus adalah ”batu penjuru” (Yun. Akrogomaios), yaitu Yesus kristus. Yesus adalah dasar (Yun. Themelios) bangunan (1Kor 3:11).

Kiasan yang dihubungkan dengan Kristus adalah Kepala jemaat (1:22). Ia adalah bagian yang penting dari bangunan (1:21). Jemaat dapat disebut sebagai keluarga Allah apabila ia memiliki hubungan yang erat dan bergantung kepada kristus sepenuhnya (Abineno, 2001: 77-81).

Kamis, 05 November 2009

HOMOSEKSUAL DAN PENANGANANNYA









Pendahuluan

Saya membaca pada rubrik Konsultasi Kesehatan Jiwa di Harian Pikiran Rakyat yang diasuh oleh seorang psikiater yang bernama dr. Teddy Hidayat, SpKJ. Demikian kasusnya:

Saya seorang remaja putra yang memiliki perilaku aneh dalam hal seks. Saya suka masturbasi satu sampai dua kali sehari. Saya selalu terangsang bila melihat sosok pria yang tegap, kekar, berwibawa dan berpenampilan professional. Terutama yang berseragam seperti polisi atau tentara. Di tempat tidur saya suka membayangkan, diri saya adalah seorang tahanan yang menyerahkan diri, diborgol, dikawal polisi ke sel, dirantai dan di penjara. Kemudian membayangkan bahwa saya lama mendekam di sana, menggengam jeruji besi dan menatap sipir berbadan tegap yang berpatroli, mengawasi kalau-kalau saya melarikan diri, walaupun saya senang di dalamnya. Kalau saya membayangkan terus menerus, tidak jarang mengalami ejakulasi secara spontang.

Akibatnya saya tergila-gila pada film tentang penjara, foto-foto tentang tahanan dan berita kriminal. Saya sama sekali tidak tertarik dan bergairah terhadap wanita, sekalipun ia seksi dan cantik. Demikian pula pada gambar porno atau “blue film”, saya tidak tertarik (PR: Pebruari 2005)

Kasus di atas disimpulkan oleh pengasuh bahwa remaja tersebut sebagai seorang homoseksual, walaupun dalam hal ini remaja itu masih dalam tahap awal “kecenderungan homoseksual”, yakni yang disebut dengan pseudohomoseksual. Penulis lebih prihatin lagi mengenai enam (6) solusi yang ditawarkan oleh pengasuh rubrik itu demikian:

Pertama, aversi kimiawi ialah terapi bahan kimia atau obat yang berkasiat untuk membuat rasa mual pada saat mulai terangsang secara seksual. Kedua, sensitisasi terselubung dimana memakai daya khayal untuk mencegah berhentinya rangsangan seksual. Ketiga, sensitisasi bau dimana pada saat timbul rangsangan gairah seksual diberikan rangsangan bau yang tidak sedap. Keempat, fading atau pergantian dimana terapi dilakukan dengan mengunakan foster pria dan wanita telanjang yang tunjukkan secara bergantian untuk membangkitkan ereksi yang kuat bila melihat wanita telanjang dibandingkan dengan melihat poster laki-laki. Kelima, modifikasi fantasi masturbasi. Keenam, meningkatkan tingkahlaku heteroseksual dimana klien dipaksa untuk bergaul dan berperilaku heteroseksual.

Dengan melihat kasus di atas, yang menggambarkan luasnya pengaruh dunia sekuler dalam peranannya bagi kehidupan masyarakat masa kini, dimana terapi dalam dunia sekuler normatifnya sangat bertentangan dengan azas-azas kebenaran Alkitab. Untuk menjawab tantangan jaman ini dibutuhkan pembimbing, pengasuh dan konselor yang takut akan Tuhan, memiliki kompetensi serta dedikasi yang berdasarkan kebenaran Alkitab.

Banyak hal yang dipertanyakan oleh dalam masyarakat mengenai perilaku-perilaku seksual yang menyimpang dari gaya hidup manusia masa kini, seperti eksibisionisme (memamerkan kemaluannya), voyurisme (mengintip hubungan seks), fetihisme (menyimpan benda-benda yang dapat membangkitkan gairah seks), pedofilia (berhubungan seks dengan anak kecil), masokisme (suka disakiti agar memiliki gairah seks), sadisme (suka menyakiti untuk mendapat kepuasan seks), inses ( berhubungan seks dengan orang yang memiliki hubungan darah), sodomi (berhubungan seks melalui dubur), nekrofilia (berhubungan seks dengan mayat), dan homoseksual. Dalam tulisan ini hanya dibahas tentang Isu-Isu Konseling Kontemporer masalah “Homoseksual dan Penanganannya”.

Walaupun Alkitab menghargai seksualitas kita, Alkitab juga memberi peringatan-peringatan. Tentang hal ini sering kali kita memahami seksualitas kita melalui kaca yang gelap. Tugas kita sebagai orang Kristen ialah mencari jalan di tengah-tengah penyelewengan seksualitas dan masuk ke dalam keutuhan seksualitas. Dosa telah menyelewengkan seksualitas dengan berbagai cara. Menurut Foster, penyelewengan itu antara lain pornografi, hawa nafsu seksual, sadisme dan masochisme, seksisme dan homoseksualitas.

Pandangan sebagian orang mengenai homoseksual merupakan sesuatu hal yang wajar dan bisa diterima secara umum di masyarakat, di mana sesuatu yang abnormal sudah dianggap normal, sebab sudah terbiasa melihatnya dikomunitasnya. Maka, untuk menjawab persoalan itu secara kristiani akan muncul pertanyaan: “Bagaimana pandangan Alkitab mengenai homoseksual dan bagaimana menangganinya secara alkitabiah?” Apakah homoseks dapat disembuhkan atau diubahkan? Bagaimana orang Kristen dalam memandang orang-orang yang mengalami penyimpangan seksual seperti homoseks, menghakimi atau menerima dan memberikan pertolongan?


Pandangan Umum

Bagi sebagian orang memiliki pandangan bahwa homoseks merupakan “tipe orang tertentu”, orang yang bagian dalam dirinya berbeda dengan kita. Orang ini mungkin saja dijuluki “aneh”, “gay”, peri”, “ratu, atau “homo”. Biasanya mereka menjalani kehidupan homoseks “karena begitulah dia”. Wanita bercinta dengan wanita bagaikan sesuatu yang wajar, ia melakukannya sesuai dengan dorongan alamiah dan keinginannya. Atau, ia melakukan hal-hal yang tidak semestinya?

Orang Kristen pun menganggap seseorang berdosa karena ia adalah seorang pendosa. Bukan perbuatan dosa yang menjadikan seseorang pendosa, tetapi karena sifat dasariah-nyalah yang membuatnya berdosa. Pernyataan ini tidak seluruhnya benar, sama seperti ide konvensional tentang homoseksualitas. Menurut pandangan ini, seorang bisa melakukan hubungan homoseksul karena ia memiliki sifat dasariah seorang homoseks. Memang benar, orang sebelum melakukan dosa pada dasarnya ia adalah orang berdosa. Yang mendasari ia melakukan dosa, karena ia tidak mengenal Kebenaran Allah, bukan orang berdosa itu pada dasarnya adalah seorang homoseks.


Pandangan Alkitab

Homoseksualitas disebutkan dalam Alkitab hanya sebanyak tujuh kali, itu pun hanya secara singkat. Bagian Alkitab yang memuat tentang homoseksualitas adalah: Kejadian 19:1-19; Imamat 18:22; 20:13; hakim-hakim 19:22-25; Roma 1:25,26; 1 Korintus 6:9; 1 Timotius 1:9,10. dari semua ayat ini, tidak satupun yang menyetujui homoseksualitas.

Beberapa ayat itu menyatakan bahwa praktik homoseksualitas bukan hanya berdosa, tetapi juga tidak wajar dan menyesatkan. Dosa homoseksualitas nilainya sama dengan dosa-dosa yang lainnya, dan dosa dipandang Allah sebagai kejijikan.

Gagasan seksualitas manusia itu sebenarnya bersifat netral, namun ada keyakinan dalam kekristenan bahwa bahwa kita diciptakan dengan sifat heteroseksual bawaan.

Keyakinan seperti itu didasarkan pada Kejadian pasal dua tentang penciptaan laki-laki dan perempuan. Di sini, Allah menciptakan perempuan sebagai “penolong yang sepadan” dengan laki-laki. Selanjutnya, laki-laki diperintahkan oleh Allah untuk bersatu dengan istrinya sehingga keduanya menjadi sedaging. Meskipun manusia telah jatuh sangat jauh dari maksud Allah yang semula, namun orang Kristen percaya bahwa setiap manusia masih mengemban rancangan Allah yang asali. Ketika rancangan ini dibengkokkan oleh dosa, maka timbullah masalah seperti homoseksual.

Perilaku homoseksual adalah perilaku “hubungan seksual” di antara pasangan sesama jenis untuk mencapai orgasme. Seorang homoseks adalah pria atau wanita yang menjalankan aktifitas dan perilaku homoseks. Homoseksualitas adalah masalah yang biasa terjadi pada kedua jenis kelamin, baik pada laki-laki maupun pada perempuan. Homo berarti “seperti” atau “sama dengan”. Kata homo” tidak hanya untuk pria, tetapi juga pada wanita. Namun pada wanita kata homo dipakai istilah lesbian. Chesser menyebut kaum homo itu sebagai perempuan-jantan dan laki-laki-betina dimana mereka menjadi demikian disebabkan oleh pengalaman-pengalaman hidup.

Contoh, seorang alkoholik merupakan seorang yang terjerat dan terikat dengan minuman keras dan dia tidak bisa terlepas dari minuman keras itu. Sehingga tiap-tiap hari ia adalah hidup sebagai seorang pemabuk, namun siapakah yang mau ditakdirkan sebagai pemabuk. Tidak ada seorang pun dilahirkan sebagai pemabuk, begitu juga dengan seorang homoseks. Tidak ada seorangpun yang dilahirkan sebagai homoseks.

Seorang homoseks bukan pada dasarnya ia dilahirkan sebagai homoseks, walaupun tidak menutup kemungkinan seorang pendosa mempunyai kecenderungan untuk melakukan dosa termasuk salah satunya adalah perilaku homoseks. Namun di sini saya cenderung mendasarkan perilaku homo itu merupakan satu sikap yang dikembangkan terus menerus dalam pikiran dan kehidupannya. Sekali seseorang mengalami kenikmatan dan kepuasan fisik dengan sesama jenis, maka ia akan cenderung mengulanginya. Semakin sering seseorang mengalaminya, maka semakin nyata pola yang terbentuk dalam perilakunya. Apa yang ia lakukan mencerminkan siapa ia dan sebaliknya. Homoseksual merupakan istilah yang tidak bisa terlepas dari unsur moral.


Tipe-Tipe Homoseksualitas

Menurut lionel Ovesey seorang psikoanalis yang menemukan istilah pseudohomoseksual, yaitu orang yang ketakutan kalau dirinya adalah seorang homoseks padahal tidak. Ia menggambarkan tentang perbedaan tingkat atau kadar homoseksualitas di kalangan pria.

Rentangnya dimulai dari pria yang betul-betul heteroseksual sampai kepada mereka yang disebut “Homoseks eksklusif”. Pria yang heteroseksual adalah pria yang kadang-kadang berhubungan dengan sesama lelaki tetapi mereka “lebih menyukai perilaku heteroseksual”, yaitu berhubungan dengan wanita. Pria yang disebut homoseksual eksklusif adalah pria yang tidak pernah menjalin hubungan lain selain hubungan homoseks. Di antara keduanya terdapat kategori biseksual. Pria yang sudah menikah dan mempunyai anak, tetapi di sisi lain ia hidup sebagai gay. Demi kehidupan homoseksual yang harus disembunyikan, maka mereka itu disebut sebagai “homoseks tertutup” (closet queens). Homoseks situasional merupakan perilaku homo yang terjadi karena desakan situasi, dan biasanya terjadi di penjara, di biara, di angkatan bersenjata, dan di ekspedisi ilmiah yang hanya diikuti oleh pria. Homoseks seperti ini selanjutnya dapat dikenal sebagai homoseks aktif dan pasif.

Teknik dalam perilaku seks yang menyimpang. Teknik yang dipakai oleh pasangan homo biasanya dalam berhubungan intim antara pria dengan pria melalui penis yang dimasukkan ke mulut atau di masukkan ke dubur. Demikian pula perilaku homoseks wanita dalam berhubungan intim dengan saling menjilat klitoris atau saling membelai dan menjilati bagian tubuh tertentu yang membuat keduanya mengalami gairah seksual.


Penyebab Homoseksualitas

Menurut beberapa teori analitis, homoseks datang dari keluarga dengan peran ibu yang dominan dan ayah yang pasif serta kurang berwibawa. Peranan seorang ibu yang terlalu dominan dan otoriter serta peranan dan tanggungjawab seorang suami yang melepaskan tanggungjawabnya sebagai kepala keluarga yang dilihat oleh seorang anak, maka anak akan mengalami kesulitan dalam menilai seksualitas dirinya. Pengalaman seperti itulah yang mendorong anak memiliki kecenderungan pseudohomoseksual, dan selanjutnya ia akan rentan untuk berperilaku homo karena pada awalnya ia frustasi dan tidak menyadari atau tidak tahu seksualitas dirinya. Akar penyebab homoseksualitas dan banyak lagi gangguan kepribadian lainnya telah terbentuk sejak masa tiga tahun pertama, kemudian berlanjut hingga usia remaja.

Worthen juga berpendapat bahwa ”akar homoseksualitas yang terdalam adalah retaknya hubungan dalam keluarga yang mengakibatkan ketiadaan rasa memiliki dan dimiliki atau ketiadaan pengakuan. Rasa aman atau sejahtera seorang anak bergantung kepada tiga jalur hubungan: ibu dengan anak, ayah dengan anak, dan hubungan ayah dengan ibu yang sering kali dilalaikan. Keretakan apa saja dalam segitiga hubungan ini akan mengakibatkan keresahan atau hilangnya rasa sejahtera pada anak ” .

Kedua, faktor genetika “kromosom”, bawaan sejak lahir. Bukti-bukti ilmiah sejauh ini tidak menunjukkan kesimpulan yang signifikan bahwa penyimpangan perilaku seksual disebabkan oleh sistem hormonal. Hormon seks bukanlah faktor yang menentukan perilaku seksual atau yang menentukan jenis kelamin pasangan kita.

Ketiga, reinforced learning yaitu faktor pembelajaran yang terus-menerus mendapat penguat. Worthen mengutip pernyataan Badan Pendidikan dan informasi Seks Amerika Serikat dalam buku Sexuality and Man sebagai berikut:

“Manusia tidak memiliki keinginan bawaan untuk mencapai sasaran teretentu dalam hubungan dengan seks, tetapi perilaku seksualnya merupakan hasil menyeluruh dari pendidikan dan kebiasaan yang dialaminya.”

Homoseksualitas terjadi dalam banyak tingkatan dan memiliki bermacam-macam penyebab, banyak diantaranya di luar kendali individu itu sendiri. Seseorang dengan 20 atau 30 persen kecenderungan terhadap homoseksualitas akan merasa lebih mudah “diubahkan” kepada orientasi heteroseksual sepenuhnya daripada orang dengan kecenderungan homoseksual 80 atau 90 persen.


Penanganan Homoseksual

Homoseksualitas adalah usaha pencarian kasih dan pengakuan yang salah arah, dimana dalam usaha tersebut sebuah relasi menjadi hal yang sangat penting. Jika sebagian orang memandang homoseks itu merupakan orang yang normal, maka Alkitab mengatakan orang itu adalah tidak normal. Alkitab memberikan petunjuk yang jelas dan langsung, Alkitab memandang persatuan heteroseksual sebagai maksud Allah untuk seksualitas dan melihat homoseksualitas sebagai sebuah penyelewengan dari pola yang diberikan Allah.

Allah menciptakan manusia itu laki-laki dan perempuan untuk melakukan aktifitas “kontak” seksual menjadi “satu daging” di dalam bahtera rumah tangga, antara suami dengan isteri. Sekali lagi patner yang ditetapkan Allah adalah antara laki-laki dengan perempuan, bukan laki-laki dengan laki-laki atau perempuan dengan perempuan.

Kesadaran untuk menolong para homoseks seharusnya dimiliki oleh setiap orang Kristen yang tahu dengan jelas bahwa perilaku homoseksual itu merupakan penyimpangan seksualitas dan abnormal. Demi menolong orang homoseks sebaiknya jangan memberikan penghakiman pada mereka, melainkan dengan kasih kita mengasihi orangnya dan membenci perilakunya. Semua orang yang terjerat di dalam kekacauan kebudayaan dan gerejawi tentang homoseksualitas memerlukan belas kasihan dan pengertian dari kita yang tahu kebenaran. Kita perlu memohonkan pengampunan dari orang-orang homoseks yang telah terasing dan teraniaya. Kita perlu membuka telinga untuk empati untuk memberikan pengertian, nasihat dan pennilaian moral yang bijaksana. Dukungan doa dan kasih persekutuan kristiani mutlak diperlukan untuk menolong kaum homo untuk mengubah perilakunya sesuai dengan dengan terang Alkitab.

Dalam hal ini, demi melakukan pendekatan pelayanan terhadap orang homoseks kita seharusnya lebih menekankan pada perilaku daripada orang yang melakukan, pada gaya hidup yang diadopsi seseorang dan bukan pada orang yang mengadopsi gaya hidup tersebut. Siapa yang mau dekat dengan kita jika kita sudah menghakiminya dan dia sudah merasa tertuduh?

Hal pertama yang perlu dikatakan adalah bahwa mereka tidak memilih homoseksualitas mereka seperti juga dengan seorang anak yang timpang tidak memilih untuk menjadi timpang. Keduanya menyimpang dari maksud Allah, tetapi tidak dapat dipersalahkan. Tetapi walaupun kaum homoseksual tidak bertanggungjawab atas homoseksualitas mereka, mereka bertanggungjawab atas apa yang mereka perbuat. Pilihan-pilihan harus dibuat, dan bagi orang Kristen yang mendapatkan diri mereka memiliki orientasi homoseksual, pilihan-pilihan itu harus dibuat berdasarkan terang kebenaran Firman Allah dan kasih karuniaNya.

Pada umumnya ada tiga pilihan yang mendasar bagi kaum homo: mengubah orientasi homoseksual mereka, mengendalikan orientasi homoseksual mereka, atau mempraktekkan orientasi homoseksual mereka. Yang paling mungkin untuk kaum homo adalah mengubah dan mengendalikan orientasi homoseksualitas. Langkah pertama adalah menyadarkan mereka akan dosa homoseksualitas “bertobat”. Kedua, menolong mereka yang berjuang dalam mengubah perilaku homoseksual pada kehidupan yang normal “kekudusan dan kesucian”. Ketiga, berdoa untuk memberikan dukungan secara rohani. Keempat, membaca Alkitab sebagai cermin hidup dan belajar memahami kebenaran Allah. Kelima, pembaharuan dalam kognitif “konsep” alkitabiah.

Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah? Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, 10 pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. 11 Dan beberapa orang di antara kamu demikianlah dahulu. Tetapi kamu telah memberi dirimu disucikan, kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita. (1 Kor 6:9-11)

sumber: lembar bahasan isu-isu guys counseling center lampung

Senin, 02 November 2009

MENANTANG MASA DEPAN






Introduksi

Setiap insan yang hidup di dunia ini tentu mendambakan hidup yang sukses dan berhasil. Namun pada zaman yang semakin sukar saat ini, persaingan yang sangat ketat dan dunia kerja yang semakin sempit peluangnya (apalagi ditambah harga BBM naik) membuat hampir semua orang mengalami ciut hati. Semua orang dihantui oleh masa depan, tetapi generasi muda tetap bersikap optimis dan menantang masa depan dengan sejuta cita-cita, mimpi-mimpi dan ambisinya. Namun kecenderungan untuk mencapai sukses dengan mengumpulkan materi menduduki tempat teratas, dan melaluinya dapat menjamin masa depan, dan makin nampak sebagai aspirasi tertinggi generasi muda masa kini.

Memperjuangkan nilai-nilai ideologis, politis dan rohani sebagai tantangan masa depan rupanya hanya dilihat oleh satu minoritas generasi muda masa kini. Anda termasuk di mana?


Prioritas

Di tengah-tengah segala perjuangan cita-cita dan ambisi orang-orang muda masa kini datanglah Firman TUHAN: “Carilah dahulu Kerajaan Allah, … Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil daripadamu, dan apa yang telah kausediakan (kekayaan dan kedudukan), untuk siapakah itu nanti?... Pekerjaan masing-masing orang akan nampak. Karena hari TUHAN akan menyatakannya, sebab ia akan nampak dengan api dan bagaimana pekerjaan masing-masing orang akan diuji oleh api itu. Jika pekerjaan yang dibangun seseorang tahan uji, ia akan mendapat upah. Jika pekerjaannnya terbakar, ia akan menderita kerugian, tetapi ia sendiri akan diselamatkan, tetapi seperti dari dalam api” (Matius 6:33; Lukas 12:20; 1 Korintus 3:13-15).

Firman TUHAN menempatkan hidup kita dalam dimensi yang kekal. Segala hal yang penting namun bersifat sementara dan fana harus dilihat dalam skop yang mahapenting dan kekal. Apa yang merupakan tujuan Allah dalam hidup kita, baik untuk masa kini maupun untuk dunia yang akan datang perlu kita pertanyakan dan yakini kemudian, supaya hidup kita tidak berlangsung di luar rencana Allah.


Konsep Keberhasilan

“Tangan yang lamban membuat miskin, tetapi tangan orang rajin menjadikan kaya” (Amsal 10:4 bdk. 19:15). Perlu diinggat dalam setiap usaha dan pekerjaan kita Allah turut bekerja, “Berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak menambahinya” (Amsal 10:22).

TUHAN memerintahkan manusia untuk bekerja sebelum manusia jatuh dalam dosa (di taman Eden). “TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu” (Kejadian 2:15).

Kata “mengusahakan” dalam bahasa Ibrani “dbe –‘abad”, yang berarti menyembah, taat, mengabdi, melayani. Jadi, orang yang bekerja (“abad”) adalah orang yang sedang menyembah, mengabdi, melayani dan taat kepada Allah. Hidupmu adalah untuk Allah!

Apapun pekerjaanmu adalah bentuk penyembahanmu kepada Allah. Oleh sebab itu, bekerjalah dengan benar, setia serta dengan penuh tanggung jawab.

“masing-masing menurut kesanggupannya,… Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, Aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar” (Matius 25:15, 21,23). Perhatikan bahwa Sang Majikan bukan berkata: “Hai hamba-Ku yang berhasil”, melainkan “Hai hamba-Ku yang baik dan setia, engkau telah setia dalam perkara kecil…”. Lalu pegawai ketiga bukan disebut “hamba yang gagal”, melainkan “hamba yang jahat dan malas”. Ia dimarahi bukan karena tidak menghasilkan talenta, melainkan karena ia tidak mengerjakan tugas yang dipercayakan kepadanya (Matius 25:24-26).

Pokok bahasan cerita ini (Matius 25:14-30) bukanlah tentang jumlah talenta, melainkan tentang bagaimana sikap para hamba dalam (kemampuannya) mengelola talenta. Sikap yang dipuji adalah sikap setia terhadap tugas, yaitu bijaksana dalam mengatur tugas, bertanggung jawab terhadap tugas, rajin dalam menjalankan tugas, waspada dalan melaksanakan tugas, rela berlelah dalam menyelesaikan tugas (bdk. Matius 24:43-44, 45-51: 25:1-14).

Sebaliknya, sikap yang dicela adalah sikap kerja yang asal-asalan, yang dilakukan dengan setengah hati, yang kurang bertanggung jawab dan kesungguhan, yang tidak berencana, yang kurang dipersiapkan, yang kurang cermat dan yang berhenti di tengah jalan.

Standar Yesus bukanlah produk, melainkan proses; yakni apa yang disebut dengan “orientasi proses” sebagai kebalikan “orientasi produk”, di mana seseorang mengalami proses upaya dalam mencapai hasil akhir. Bagaimana dengan cara kerja Anda saat ini? Sudah sesuaikah dengan pandangan Yesus dalam hal ukuran kesuksesan?
Apa gunanya memenangkan, memperoleh atau meraih sebuah hasil yang gemilang, kalau hasil itu didapat secara curang? Apa guna menghasilkan sesuatu dengan jalan pintas dan tergesa-gesa kalau kemudian hari malah menimbulkan bencana (Amsal 19:2)?

Dalam pendekatan orientasi proses, kegagalan itu sendiri bukan merupakan kesalahan; yang salah adalah sikap yang kurang tekun atau kurang cermat sehingga berakibat kegagalan. Yang terpenting kita sudah berusaha dengan penuh kesungguhan, berapapun hasilnya itu bukan soal utama. Ukuran pelayanan dan penyembahan bukanlah hasil, melainkan kesetiaan, ketekunan, kesungguhan, kegembiraan, kerelaan dan kejujuran kita dalam melayani (bekerja). Hidupmu adalah penyembahanmu!

“Hal yang dipikirkan orang dalam hatinya demikianlah ia” (Amsal 23:7, NIV). Jadi, apapun yang menguasai pikiran Anda, menguasai Anda, “What’s got your mind, has got you!” Pepatah Amerika berkata: “Success is not what you achieve, success is what you achieve compored with what you could achieve” (Sukses bukan apa yang Anda capai atau lakukan “hasilkan”, sukses adalah apa yang Anda capai atau lakukan “hasilkan” dibandingkan dengan apa yang Anda sanggup capai atau lakukan “hasilkan”.

Jadi, sukses adalah menerima hal yang paling maksimal dari kemampuan Anda dalam situasi di mana Anda berada saat ini. Sukses tidak ditentukan secara realistis dengan mengukur diri sendiri berdasarkan penerimaan orang lain, penampilan, kekayaan dan apapun juga.

Anda telah sukses tatkala dapat berkata bahwa Anda telah melakukan yang terbaik yang dapat dilakukan pada suatu waktu. Pertanyaannya: “Apa lagi yang bisa saya lakukan?” (Bacalah Lukas 10:39,42; 14:3-9). Jika Anda tidak tahu tujuan Anda, maka dapat dipastikan bahwa Anda akan tiba di tempat yang lain atau di tempat yang salah.



Kesuksesan adalah Kemampuan Bergantung Kepada Yesus


Ada seorang muda yang memiliki satu pergumulan dalam hatinya. Ia ingin mendapat jawaban atas satu pertanyaan yang terus mendengung, “Apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup kekal? Pertanyaan itu menyingkirkan segala pertimbangan rasa malu, sehingga ia mengambil keputusan untuk bertemu dengan TUHAN Yesus meskipun di tengah jalan banyak orang yang memperhatikannya. Dunia tahu apa yang menjadi keputusan pemuda tadi dalam hidupnya (baca Markus 10:17-22).

TUHAN Yesus memperhadapkan kepada pemuda itu dengan Hukum Allah. Dengan bijaknya TUHAN Yesus mengambil beberapa hukum Allah yang mempunyai relevansi khusus dengan orang-orang muda, “Jangan membunuh!”. Kita dapat membunuh orang lain dengan tangan, mulut maupun dengan mata dan bahkan dengan tidak berbuat apa-apa “bungkam” sekalipun. “Setiap orang yang membenci saudaranya, adalah seorang pembunuh manusia” (1 Yoh 3:15).

Mata pemuda tersebut yang berhadapan dengan TUHAN Yesus tetap berani memandang-Nya, lain dari kita yang telah membunuh melalui kebencian dengan langsung atau tidak langsung ikut serta menggugurkan bayi dalam kandungan. “Jangan berzinah!” Pemuda itu belum menundukkan kepala. Meskipun ia memiliki segala sesuatu dan berpengaruh, ia tidak menyalahgunakan kekayaannya untuk terjun dalam dunia pergaulan bebas. “Jangan mencuri!” Kita ingat akan barang-barang yang pernah kita pinjam (hutang) tetapi tidak kita dikembalikan, uang yang kita kumpulkan secara licik, menjadi pencuri di rumah sendiri. Tetapi pemuda itu luar biasa. Ia masih menerima tantangan hukum: “Jangan mengucapkan saksi dusta!” “Jangan mengurangi hak orang lain! Dan hormatilah ayah-ibumu!” Tanpa tergoyang dan tertunduk dengan malu; sedangkan kita sebagai seorang muda masa kini teringat segala dusta yang kasar atau halus, segala usaha mengangkat diri dan menyingkirkan orang lain dan segala sikap serta pembawaan diri yang tidak menghormati orang tua.


Hukum Allah sungguh menjadi cermin dalam hidup kita, sehingga kita bisa tahu siapa sebenarnya kita. Hukum Allah itu menyadarkan dan menginsafkan kita akan dosa untuk memperoleh pengampunan dan penebusan dosa dari TUHAN Yesus. Pemuda itu berani berkata: “Semua itu sudah kuturuti sejak masa mudaku”. Kalau begitu, mengapa ia masih gelisah, datang pada Yesus dan bertanya mengenai hidup kekal?

Penyakit dosa menggerogoti kita dari dalam sehingga kita menjadi orang yang hidup dengan kegelisahan. TUHAN Yesus membuka inti masalah pemuda itu: “Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kau miliki”. Jelas, bahwa si pemuda selama itu menggantungkan hidupnya kepada kekayaannya. Memang ia percaya TUHAN, tetapi ia juga lebih mengasihi uangnya, gaya kehidupannya dan kehormatannya di dunia ini. Ia telah melanggar Hukum Allah yang pertama: “Jangan ada padamu Allah lain dihadapan-Ku”.

Allahnya adalah harta dan kekayaannya. Ia tidak mengasihi Allah “dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa dan dengan segenap akal budi” (Mat 22:37). Alkitab berkata: “Barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian daripadanya, ia bersalah terhadap seluruhnya” (Yak 2:10), makanya ia tidak memiliki kepastian keselamatannya.

TUHAN Yesus menantang pemuda itu untuk mengambil keputusan: “Datanglah kemari dan ikutlah Aku!” Hal ini berlaku juga bagi kita untuk menentukan masa depan kita: Pertama, berpaling dari apa yang menjadi ilah kita selama ini, baik itu harta, orang yang kita cintai (kekasih), rencana yang kita pegang kuat-kuat, ego kita atau ilah yang lain lagi. Kedua, melepaskan dan menjadikan Yesus sebagai Penguasa Tunggal hidup kita yang sesungguhnya; berpaling dalam arti mengikut Dia sepenuhnya tanpa ada kata “jika” dan “andaikata”. Jangan mengulang kesalahan pemuda kaya itu untuk yang kedua kalinya! “ia pergi dengan sedih”.


Panggilan TUHAN dalam Hidup Seorang Muda

Sebenarnya seorang Kristen tidak ada istilah melayani paroh waktu, ia seharusnya senantiasa melayani TUHAN secara purna waktu; baik di mimbar, kantor, sekolah, kota-desa, dengan gaji kecil-besar, pimpinan-bawahan bahwa semuanya itu membutuhkan SK dari TUHAN sebagai “Boss Tertinggi”. Cara kerja dan pembawaan diri di tempat kerja mempunyai etika dan etos kerja yang berbeda dengan orang dunia (Roma 12:2; 1 Yohanes 2:15-17), sehingga memungkinkan menjadi saksi. Siap sedia meluaskan lingkaran kesaksiannya dari tempat asal-usulnya (Yerusalem), ke daerah sekitarnya (Yudea), melintasi batas suku dan bangsa (Samaria) bahkan sampai ke ujung bumi (KPR 1:8).

Bagaimana dengan hidup Anda? Apakah hidup kekristenan Anda mempunyai sasaran dan tertuju pada sesuatu, dengan tekad bulat untuk memanfaatkan tahun-tahun Anda bagi Yesus Kristus? Atau, apakah Anda luntang-lantung tanpa tujuan, melamun dan menyia-nyiakan waktu dengan melamun saja tiap hari. Jika kita mau sukses, maka kita perlu mengadakan penyerahan diri tanpa syarat kepada TUHAN dan mempersembahkan hidup kita di dalam hadirat TUHAN, sebagai wujud ibadah yang sejati (Roma 12:1).




Reaksi Seorang Muda Terhadap Panggilan TUHAN

Tidak semua orang menjawab panggilan TUHAN dengan menyerahkan diri tanpa syarat kepada TUHAN. Sebaliknya, banyak yang melarikan diri seperti pemuda Yunus, yang mungkin karena begitu kuatnya dia memegang rencana hidupnya sendiri dan tidak mengijinkan TUHAN masuk di tengah-tengah ambisi dan aspirasinya. Mungkin karena tidak menyetujui tempat penugasan TUHAN seperti Yunus ke Niniwe atau mungkin karena mereka merasa tidak mampu melaksanakan panggilan TUHAN seperti Musa dan Yeremia (Keluaran 4:10-14; Yeremia 1:4-10).

Banyak orang muda membuat nazar yang tidak dapat dibenarkan dengan mengatakan bahwa, “Saya mau dipakai TUHAN asalkan segala kebutuhan saya dicukupi dan menyenangkan!” Ini bukan penyerahan total, tetapi penyerahan bersyarat. Keputusan untuk menyerahkan kehidupan kita seluruhnya kepada TUHAN mencakup seluruh waktu kehidupan kita. TUHAN tahu kebutuhan dan apa yang kita perlukan, “Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu” (Matius 6:32).



10 Tips Meraih Sukses


“Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tidak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan, dan hikmat dalam dunia orang mati, kemana engkau akan pergi” (Pengkotbah 9:10). Jangan tunda sampai hari esok, jika Anda bisa melakukannya hari ini!

“Taburkanlah benihmu pagi-pagi hari, dan jangan memberi istirahat kepada tanganmu pada petang hari, karena engkau tidak mengetahui apakah ini atau itu yang akan berhasil, atau kedua-duanya sama baik” (Pengkotbah 11:6).

“Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah TUHAN”(Roma 12:11)

“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk TUHAN dan bukan untuk manusia” (Kolose 3:23).

“Bertekunlah dalam doa dan dalam pada itu berjaga-jagalah sambil mengucap syukur” (Kolose 4:2).

“Hiduplah dengan penuh hikmat terhadap orang-orang luar, pergunakanlah waktu yang ada” (Kolose 4:5).

Pemenang bukanlah mereka yang tidak pernah gagal, melainkan mereka yang tidak pernah berhenti mencoba”

Kegagalan adalah tidak berhasil memberikan semua hal yang kamu dapatkan ke dalam proyekmu (rencana dan ambisimu). Anda tidak gagal karena membuat suatu kesalahan atau tidak melakukan sesuatu dengan sempurna, atau sekalipun Anda tidak melakukan sesuatu sama baiknya dengan yang Anda sanggup lakukan pada suatu waktu pada masa yang akan datang. “Kegagalan bukan sekedar tidak berhasil, tetapi kegagalan adalah tidak mencoba kembali setelah tidak berhasil”.

“Tetapi baiklah tingkat pengertian yang telah kita capai kita lanjutkan menurut jalan yang telah kita tempuh” (Filipi 3:16).

Di manapun Anda berada dalam pertumbuhan Kristen, berikanlah yang terbaik. “Keberhasilan pribadi bagi kita datang pada saat di mana kita tidak dapat melakukan hal yang lebih baik lagi dari pada yang kita sedang lakukan pada saat ini”.

Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu.
Sebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali, tetapi orang fasik akan roboh dalam bencana. Bersukacitalah senantiasa.

Tetaplah berdoa. Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.

Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya.
Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya

(Ams 24:10; 24:16; 1 Tes 5:16-18; Ef 2:10)


SUMBER: LEMBAR BAHASAN ISU-ISU GUYS COUNSELING CENTER LAMPUNG

Kamis, 29 Oktober 2009

Pray until something happens - HANA








1 Samuel 1:1-19
Elkana memperisteri dua wanita. Keluarga ini cukup menarik untuk disimak oleh kita disebabkan ada pelajaran yang dapat kita ambil bagi pertumbuhan kerohanian kita di saat keadaan yang semakin tidak menentu sekarang ini.



HANA
Mandul
Dikasihi
Rendah hati
Saleh
Hati yang hancur



PENINA
Subur
Dipakai ‘melahirkan anak’
Sombong ‘angkuh,
Tradisi ‘agamawi’
Mencari pemenuhan harga diri


Hana mandul dan dikasihi sekalipun tidak melahirkan anak bagi Elkana sebab “TUHAN menutup kandungannya” (1 Sam 1:5,6b). Sementara Penina subur dan dipakai untuk melahirkan anak bagi Elkana (1:4). Hana adalah seorang yang rendah hati dan mencari Allah bukan hanya sebatas kegiatan-kegiatan agamawi “tradisi” (1:3,7a). Penina memanfaatkan anak-anaknya hanya sebatas “kebahagiaan lahiriah” dan bahkan menyakiti, memandang rendah, serta menghancurkan hati Hana (1:6,7b).

Tahun demi tahun Hana berdoa untuk mendapatkan anak (sebab setiap kali beribadah Hana mendapat satu bagian saja, -ayat 5). Alkitab menggambarkan bagaimana suasana hati Hana dari tahun demi tahun dan bukan hari demi hari lagi. Perhatikanlah ayat 8: Elkana bertanya kepada Hana: “Mengapa engkau menangis? Mengapa engkau tidak mau makan? Mengapa hatimu sedih? Bukankah aku lebih berharga daripada sepuluh anak laki-laki? Elkana mengerti dan “tahu” apa yang dirindukan oleh Hana sebagai seorang isteri dan ibu, tetapi ia pun tidak dapat berbuat apa-apa. Justru disinilah puncak pergumulan Hana!

Pada umumnya ada empat hal yang dialami oleh seseorang jika berkeadaan demikian, yaitu:

1. Kehilangan rasa berarti atau berharga.
2. Kehilangan rasa diterima, ketertolakan, “belonging.” Ada seorang ibu muda yang sangat cantik, tetapi ditinggal suaminya yang menyeleweng dan sekarang wajahnya terlihat jauh lebih tua dari usia yang sebenarnya.
3. Kehilangan rasa dimiliki, sekalipun Elkana menghiburnya.
4. Kehilangan rasa aman, manusia membutuhkan pijakan yang pasti, pelabuhan bagi dirinya dan butuh tempat untuk berlabuh.

Tetapi “Hana menanti waktu yang tepat.” Saya ingin mengajak ibu-ibu untuk memasuki lebih dalam lagi. Saya mencoba untuk mengimajinasikan motivasi hati manusia pada umumnya, khususnya dalam kasus Hana:

Isi doa pada umumnya demikian:

TUHAN berilah seorang anak untuk menegakkan nama suami saya.Karena disakiti “tahun demi tahun” motivasinya berubah dari doa yang umum menjadi doa kemarahan: “TUHAN berilah saya anak karena musuhku.”
Sekarang, bukan kemarin, Hana mengubah isi doa dan motivasinya “Bukan juga karena kurang dikasihi oleh suaminya” (1:8), atau disebabkan untuk menyaingi pesaingnya “Isteri muda suaminya”, tetapi untuk kemuliaan TUHAN.

Perhatikanlah isi doa Hana:

a. Dengan hati yang sedih dan menangis “hati yang hancur”, tersedu-sedu, ia berdoa kepada TUHAN (1:10) Mzm 51:19

b. Hana “merendahkan hatinya”, “Jika sungguh-sungguh Engkau memperhatikan sengsara hambaMu dan mengingat dan tidak melupakan” 1:11a)

c. Hana bernazar: “TUHAN berilah saya anak dan saya akan , menyerahkan kepadaMu … (1:11b). Sekali lagi, perhatikanlah ayat 11b “janji atau nazar ini adalah untuk kemuliaan TUHAN, bukan untuk menyakiti hati Penina pesaingnya yang selalu menyakitinya”.

Buatlah jalanMu
dalam saya,
ku tanah liat
Kau Penjunan,
bentuklah aku sesukaMu, aku menunggu
di kakiMu




Iman adalah sebuah investasi “benih yang di tanam” dan berorientasi pada perubahan.


Ada tiga sikap iman:

1. Fight to the finish: Hana terus menerus berdoa. Rasul Paulus memakai istilah “tidak tawar hati” (2 Korintus 4:16). Ketika Mike Tyson bertanding melawan Hollyfield ada sebuah komentar yang menarik dari reporter, yaitu; bukan “How to wun but how the winner is?”

2. Weigh your life, yang mengandung dua arti: a. menimbang, b. membongkar hidup. Arti kedua lebih tepat, “bongkar hidup”. Iman berorientasi pada perubahan “tidak mau berada pada situasi dan kondisi yang lama.” Pengalaman Petrus dalam Matius 14:28-29, “Lord if its you, tell me to come to you on the water.”

3. Focus your eye on Him, arahkanlah mata Anda kepada Dia. (Ibrani 12:2).


Mataku tertuju padaMu, segenap hidupku kuserahkan padaMu,
bimbing aku masuk rencanaMu, untuk membesarkan KerajaanMu, ku mau mengikuti kehendakMu ya Bapa, ku mau selalu menyenangkan hatiMu
(2 Korintus 4:18)


PENUTUP


Sekarang bacalah 1 Samuel 1:18, iman tidak hanya berorientasi pada perubahan tetapi bersedia menunggu waktu Allah:

a. Hana mau makan,

b. Mukanya tidak muram lagi.

Sebelum ke Bait Allah, mukanya muram tetapi setelah ia meletakkan imannya di mezbah Allah, tampil beda. Sekarang bacalah 1 Samuel 1:19a, bagian ini sangat indah. Keesokan harinya, bangunlah pagi-pagi, lalu “sujud menyembah di hadapan TUHAN,” sebelum pulang. 1 Samuel 1:19b “Ketika Elkana bersetubuh dengan Hana, isterinya, TUHAN ingat kepadanya.” 1 Samuel 1:20, setahun kemudian mengandunglah dan melahirkan seorang anak laki-laki.

Apa yang Hana lakukan selama satu tahun? Apakah ia putus asa? Jawabnya , tidak! Dan ketika anak itu lahir maka diberinya nama Samuel “Aku telah memintanya dari TUHAN” (1:20). Sekarang bacalah ayat 21-28.

Hana melakukan apa yang ia minta karena anak ini milik TUHAN (nazar, Bilangan 6:5)) dan bukan lagi miliknya. Sekarang perhatikanlah 1 Samuel 2:3,5 dan bacalah 1 Samuel 2:21, “luar biasa bukan?” (Mzm 126:3-5; 55:23; 51:19)


Sumber: catatan kuliah IAT