Rabu, 28 Oktober 2009

Arti dan ruang lingkup keselamatan








Prawacana

Kebanyakan orang Kristen hanya menikmati sebagian saja dari kebahagiaan yang direncanakan Allah bagi mereka. Keselamatan yang menyeluruh (konfrehensif) hanya mungkin dinikmati oleh seseorang yang terbuka terhadap aktifitas Roh Kudus dalam kehidupan sehari-harinya (Roma 8:9).

Ada dua konsep yang kita temukan pada umumnya dalam keyakinan orang “Kristen”. Pertama, ada yang menganggap bahwa percaya kepada Yesus adalah menyangkut soal lahiriah saja “kebahagiaan di sini” (Yoh 10:10).

Dengan perkataan lain, “percaya Yesus” semuanya beres dan tidak ada masalah. Kedua, keselamatan bergantung pada perbuatan. Apa yang dikerjakan oleh Yesus Kristus masih memerlukan daya juang manusia.

Jadi, yang bagaimanakah keselamatan konfrehensif itu? Keselamatan konfrehensif mencakup masa kini dan masa depan atau di kehidupan di sini dan kehidupan di seberang sana. Keselamatan konfrehensif tersebut dapat dijelaskan di bawah dua gugus utama yang disebut: “Keselamatan Yuridis” dan “Keselamatan dinamis.”

A. Keselamatan Yuridis

Yuridis berarti “dari segi hukum” yang menyangkut pengampunan dosa, kepastian tentang keselamatan dan hak kedudukan istimewa (Kolose 1:13).

Pengampunan dosa.
Oleh karena TUHAN Yesus Kristus telah mati tersalib sesuai dengan firman Allah (1 Korintus 15:3-4), demi segala dosa kita, maka kita tidak di hukum lagi (Yohanes 5:24; 1 Petrus 2:24; Yohanes 11:25).

Kepastian telah selamat.
Allah adalah Allah Maha Adil dan tidak pernah ingkar janji, maka kita dapat berpegang pada janji-janjiNya tanpa ragu-ragu. Segala “ucapan moga-moga” atau “mudah-mudahan” perlu disingkirkan dalam sikap atau keyakinan seorang pemercaya atau dari mulut bibir seorang Kristen (Yoh 3:36; 8:36; 1 Yoh 5:11,13; Roma 8:9-11; Efesus 1:13,14).

Kedudukan baru.
Karena percaya kepada TUHAN Yesus Kristus, maka setiap pemercaya telah diangkat (diadopsi) menjadi anak-anak Allah. Orang yang dulu najis diubah menjadi orang kudus. Dari segi yuridis, pengudusan tidak menyangkut sifat atau pembawaan, melainkan relasi dengan Allah (Efesus 2:1-10; 1 Petrus 3:18).

B. Keselamatan Dinamis

Gambaran lengkap dari keselamatan harus termasuk suatu DINAMIKA untuk masa kini atau di sini. Dinamika iman, dimungkinkan oleh wujud keselamatan. Wujud itu adalah bahwa setiap orang yang percaya kepada TUHAN Yesus Kristus, menerima dan bahkan didiami oleh Roh Kudus. Definisi yang disebut orang Kristen seharusnya adalah orang yang didiami Roh Kudus (1 Kor 6:19-20; Rm 8:9-11). Kehadiran Roh Kudus adalah Perjanjian Bapa dan Perjanjian TUHAN Yesus Kristus (KPR 1:4,8; Yoh 14:17), yang diterima ketika seseorang membuka dirinya kepada karya yang telah dikerjakan oleh TUHAN Yesus Kristus (KPR 4:12; 19:2; Yoh 1:12). Kekayaan keselamatan itu dapat dinikmati dalam lima aspek khusus, yaitu:

Aspek Teologis.
Orang Kristen diijinkan bersekutu dengan Allah (Ibr 10:19-25). Relasi ini adalah suatu persekutuan komunikatif (Rm 8:14-16;26-27), di mana DOA lebih bermakna dari pada “sembahyang” yang bersifat ritualisme atau upacara semata-mata, walaupun hal ini juga perlu untuk membangun persekutuan dengan saudara seiman yang lain. Dalam dinamika teologis ini kita dibuat dapat mengerti Firman Allah (Yoh 3; 1 Kor 2; Yoh 7:17). Kemampuan mengerti ini dan semua aspek-aspek dinamis merupakan potensi melalui pembaharuan yang disebut “lahir baru” atau “ciptaan baru” (2 Kor 5:17), yaitu berlaku sejak kita membuka diri terhadap apa yang dikerjakan oleh TUHAN Yesus Kristus. Orang yang belum selamat sukar mengerti Alkitab karena sarana intelek mereka adalah potensi secara lahiriah semata-mata atau potensi yang tersumbat dosa. Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani (1 Kor 2:14).

Aspek Nousis.
Dalam bahasa Yunani, NOUS berarti akal budi. Relasi baru dengan Allah (Aspek Teologis) merupakan sumber dari segala dinamika iman. Intelek yang dibaharui merupakan potensi untuk mengerti kehendak Allah (KPR 18:9-10). Artinya, melalui pemekaan akal budi, seorang pemercaya mengenakan kacamata baru di mana dunia ini dilihat dari segi prespektif yang baru. Dengan kata lain, bahwa cara berpikirnya pun juga harus baru. Keselamatan membawa pikiran yang terang dan jernih (Mrk 5:15; Ibr 8:10). Dengan percaya kepada TUHAN Yesus Kristus dan taat kepada kehendak Allah. Melalui firman Allah kita dapat lebih mengerti alam semesta maupun ruang lingkup hidup. Interaksi “komunikatif” dengan Allah, berdampak luas dalam mengimplementasikan iman kepada semua aktifitas kita termasuk relasi dengan orang lain. Daniel adalah contoh klasik. Karena beliau bertekad taat kepada hukum Allah, maka Allah menganugerahkan kepadanya sepuluh kali lebih daripada keahlian para dosennya, “pengajarnya” (Daniel 1:8,17,20).

Aspek Sosiologis.
Yang dimaksud dengan “Aspek Sosiologis” adalah relasi seorang pemercaya dengan orang lain, dan dengan seluruh lingkungannya. Seorang yang telah diampuni oleh TUHAN Yesus Kristus, harus rela mengampuni orang lain (Mat 6:12,18,21-35). Dengan demikian hubungan yang retak dan rusak berubah menjadi persekutuan yang manis. Alkitab memberikan beberapa syarat untuk menyelesaikan masalah-masalah sosiologis (1 Yoh 1:7; Mat 18:15-20).

Aspek Psikologis.
Pembaharuan psikologis dalam Kristus berlangsung melalui dua tahap. Pertama, “lahir dari atas” (palingenesis, Titus 3:5). Kedua, “Penyerahan diri” (Rm 6:13; 12:1-2). Kelahiran dari atas “kelahiran baru” membawa pemekaan terhadap “hati kecil” atau “hati nurani” (baca: roh) agar kita dapat membedakan yang baik dan jahat.

Pembaharuan psikologis ini berkembang secara bertahap, seiring kepekaan dan ketaatan kita terhadap firman Allah. Biasanya, pembaharuan psikologis membawa perubahan pada watak, yang arah perubahannya terlihat jelas melalui buah roh (Galatia 5:22-23). Beberapa contoh dari pembaharuan ini adalah orang yang angkuh berubah menjadi rendah hati, rasa takut berubah menjadi ketenangan (Filipi 4:6-7), dan orang yang rendah diri “merasa tidak bernilai” menjadi bernilai karena Roh Kudus memberi penghiburan baginya. Inilah yang disebut dengan iman yang transparan dalam tindakan.

Aspek somatis.
Kata “soma” dalam bahasa Yunani berarti “tubuh manusia.” Yang dimaksud dengan keselamatan somatis bukanlah sekedar kebangkitan tubuh, tetapi pada umumnya orang Kristen lebih sehat daripada orang lain. Orang Kristen memiliki damai atau ketenangan batiniah. Suasana batin sangat mempengaruhi kesehatan tubuh. Beberapa penyakit yang sering disebut sebagai gangguan “psikosomatis” seperti sakit maag, radang kulit dan TBC biasanya diderita oleh orang yang mengalami tekanan jiwa.

Ketenangan batin mempengaruhi keseimbangan hormon. Di samping memberi beberapa pengaruh langsung seperti di atas, ketidak-seimbangan hormon mengurangi daya tahan terhadap infeksi pada umumnya. Sebaliknya, orang yang tenang jiwanya, maka anggota tubuhnya dapat berfungsi dengan normal. Tidak kebetulan Yakobus 5, menegaskan bahwa orang sakit untuk memanggil majelis atau penatua gereja (baca: rohaniawan) dari dalam dan bukan orang luar. Adakalanya gangguan kesehatan itu disebabkan oleh pengertian yang keliru (nousosomatis) atau sikap membenci (pneumasomatis), yang hanya dapat diselesaikan di bawah pembinaan sesepuh gerejanya yang mengenal seluk-beluk hidup orang tersebut.


C. Syarat-Syarat untuk Memiliki Aspek Dinamika Iman


Keselamatan yang dimaksud di atas, yang demikian itu tentunya ada syaratnya. Oleh sebab itu, ini yang harus dikerjakan oleh seseorang yang mau memiliki keselamatan:

Seseorang harus menyambut TUHAN Yesus untuk mendiami hatinya (Yohanes 1:12). Kehadiran Roh Kudus (Aspek Yuridis) mencelikkan mata rohaninya dan memampukannya untuk menjalankan pola hidup baru (Aspek Dinamis), yang berbeda dari kehidupan sebelumnya, bahkan mengejutkan orang-orang diseputar hidupnya (Kisah Para Rasul 5:13).

Roh Kudus perlu diberi kesempatan seluas-luasnya “tanpa batas,” sehingga tidak ada ruang hampa. Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging. Akan tetapi jikalau kamu memberi dirimu dipimpin oleh Roh, maka kamu tidak hidup di bawah hukum Taurat. Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh (Galatia 5:16,18,25).

Dengan perkataan lain, Roh Kudus memiliki seluruhnya dan mengatur seluruh aspek kehidupan kita termasuk intelektual kita melalui beberapa tuntutan:
a. Apa yang kita pikirkan. Alkitab menegaskan bahwa pola hidup baru (aspek dinamis) berbeda dengan sebelumnya. Bacalah Efesus 4:17-25.
b. Cara berpikir. Berpikir secara rohani “dipimpin oleh Roh”. Roma 8 membandingkan dua cara berpikir rohani dengan cara berpikir duniawi (daging).
c. Pemikiran Baku. Sabda Allah (baca: Alkitab) adalah dasar dari semua pemikiran atau usaha kita, dalam segala bidang termasuk bidang pengetahuan (science). Apa saja yang bertentangan dengan Alkitab haruslah ditolak. Artinya, Alkitab berdaulat penuh atas seluruh aspek hidup seorang pemercaya (1 Korintus 2:14).

sumber: Prof. Dr. W. Steanly Heath (catatan kuliah IAT)




Salib Yesus Mengandung Banyak Segi
(Allan Walker)

Pada jaman gereja mula-mula, tekanan khotbah atau pewartaan Injil adalah “Kristus mati untuk dosa-dosa kita (1 Korintus 15:3-4). Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat Galatia menegaskan sikap yang senada, yaitu: “tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib TUHAN kita Yesus Kristus” (Galatia 6:14). Di sepanjang masa, di setiap generasi (baca: dari abad ke abad), pria dan wanita, berlutut dan dengan hati yang hancur di kaki salib Kristus, sambil mengucap syukur dan menerima anugerahNya melalui karya salib. Sejak semula, para pemikir Kristen (bapa-bapa gereja atau para teolog), telah berusaha untuk membuka tabir kematian TUHAN Yesus dan memahami makna salib bagi manusia.

Menurutnya, ada lima prinsip utama yang harus diperhatikan jika seseorang ingin membentuk teori salib, yaitu:

Penjelasan apapun tentang salib TUHAN Yesus Kristus haruslah menghormati Allah. Salib adalah karya Allah Yang Maha Kuasa. Oleh karena itu, tidak ada satu teori atau pengajaran apapun yang memisahkan antara Allah dengan AnakNya Yesus Kristus. Salib harus menyatakan dan bukan mengaburkan wajah Allah.

Dalam penafsiran apapun tentang salib, pikiran TUHAN Yesus merupakan yang terpenting. sikapNya terhadap kematianNya di kayu salib dan menerima salib sebagai suatu jalan melayani Allah BapaNya dan satu-satunya untuk menyelamatkan manusia (1 Petrus 2:24) bdk. Filipi 2:6-11). Karena itu, kembali ke tema Yesaya 53 untuk menemukan inti salib (bacalah : Yesaya 53:3,4,5,12 bdk. Markus 9:12; Matius 20:28).

Setiap penafsiran tentang salib TUHAN Yesus haruslah diingat bahwa keselamatan yang ditawarkan oleh diriNya harus dipandang dari seluruh kehidupan dan pelayananNya.

Inti salib TUHAN Yesus terdapat tuntutan moral dan etis yang luar biasa. Salib TUHAN Yesus adalah tindakan penyelamatan dari Allah Yang Maha Kuasa bagi kita. Pesan salib bersifat horizontal dan vertikal.

Kekuatan rohani yang kita miliki dari salib TUHAN Yesus berasal dari Kristus sendiri (baca: kesediaanNya mati bagi kita), dan bukan dari doktrin manapun atau teori manapun tentang penebusan. Artinya, salib TUHAN Yesus terletak pada diriNya dan tidak ada satupun dari doktrin salib yang menyelamatkan.



sumber: lembar bahasan isu-isu guys counseling center lampung

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar